Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-43 Malam Yang Panjang


__ADS_3

Keduanya sudah berada didalam perpustakan, Nizam langsung duduk dikursi dan dihadapannya sudah ada leptop miliknya kemudian ia mulai menyalakannya.


Bahkan Zemira hanya berdiri terdiam, namun idenya tiba-tiba muncul. Zemira mendekat kearah Nizam, lalu menerobos dari bawa lengan Nizam sambil memeluk bagian kepala Nizam dan duduk miring dipangkuan kedua kaki Nizam.


"Kamu lagi ngapai?" tanya Nizam.


"Tidur dipangkuan kamu" jawab Zemira.


"Engga nyangkah ya perempuan kaya kamu bisa seberani ini" ucap Nizam menikmati pelukan hangat Zemira.


"Aw sakit" tambah Nizam karena mendapat sentilan ditelinganya oleh Zemira.


"Berani juga sama suami sendiri jadi engga papa" sahut Zemira yang masih memeluk erat Nizam.


"Beruntungnya kamu tidak sama Fadil" ucap Nizam.


Namun Zemira tidak lagi menyahut ucapan Nizam, setelah dilihat ternyata Zemira sudah tertidur pulas memeluk dirinya.


"Senyaman itu ya pundak aku bagi kamu? tidurnya cepet banget pules, perasaan tadi siang udah tidur lama" Nizam berbicara pada Zemira yang tertidur.


Dan setelah selesai dengan beberapa pekerjaan laporannya, Nizam memutuskan untuk menggendog Zemira kekamar.


Saat tangan Zemira dilepas dari lengan Nizam, justru Zemira bagun lebih tepatnya setengah sadar.


"Kamu mau kemana?" tanya Zemira.


"Mau kencing, ikut? hayo ikut" jawab Nizam.


"Apaan sih, engga mau" ucap Zemira.


Zemira akhirnya melepaskan tangannya dari lengan Nizam, lalu Nizam masuk kedalam kamar mandi. Tiba-tiba Zemira bangun dari tidurnya lalu menunggu Nizam didepan pintu kamar mandi sambil jongkok, menyenderkan kepalanya dilutut.


"Astagfiruallah..." ucap Nizam terkejut melihat Zemira jongkok didepan pintu kamar mandi.


"Kamu ngapain?" tanya Nizam sedikit tertawa lalu berusaha membantu Zemira bangun dari jongkoknya.


"Nanti kamu pergi aku engga tau lagi, tiba-tiba udah pergi naik pesawat aja" jawab Zemira ngelantur karena setengah sadar.


Nizam mala mentertawakan Zemira dengan tingkah lucu Zemira membuat Nizam semakin tertawa.


"Ok, sekarang kita tidur. Besok aku berangkat jam sepuluh pagi jadi engga akan kamu engga tau kalau aku akan naik pesawat" ucap Nizam sambil menuntun Zemira kembali ketempat tidur.


Bahkan Zemira memeluk erat Nizam lalu kembali memejamkan matanya untuk tidur, Nizam hanya tersenyum dengan tingkah Zemira lalu ikut membalas pelukan Zemira dan ikut tidur juga.


Keesokan harinya..


"Aaahhhhhhhhhh...." teriak Zemira dengan kencang yang tiba-tiba bangun dijam empat pagi.


"Kenapa pake teriak-teriak sih, bikin orang kaget aja" tanya Nizam yang terbangun oleh teriak Zemira.

__ADS_1


"Kenapa kita tidur sekamar? kamu ngapa-ngapain aku ya" ucap Zemira.


tok.. tok.. tok..


"Dee ada apa? apa ada kecoa dikamar kamu?" tanya abang Hasan karena mendengar teriakan Zemira.


"Kamu lupa kita semalem udah nikah" jawab Nizam.


"Dee" panggil abang Hasan dari balik pintu kamar.


"Owalah ternyata itu bukan mimpi" ucap Zemira malu sendiri dan menutupi mukanya dengan selimut.


"Zemira kamu dengar abang kan" panggil lagi abang Hasan yang belum mendapat respon dari Zemira.


"Iya bang Zemira engga papa" teriak Zemira menyahut panggilan abangnya.


"Maaf pak dokter" ucap Zemira merasa bersalah.


"Emm" jawab Nizam lalu bangkit dari kasur lalu masuk kedalam kamar mandi.


"Hah? dia mandi. Bukannya kita belum ngapa-ngapain ya tadi malem, buktinya aku masih lengkap ko kerudung aja masih aku pake" ucap Zemira pada dirinya sendiri.


tok.. tok.. tok..


Zemira mengetuk pintu kamar mandi.


"Maaf" jawab Zemira.


"Iya udah engga usah dibahas" ucap Nizam.


"Engga mau ngajak mandi bareng?" tanya Zemira.


"Boleh kalau kamu mau" jawab Nizam.


"Hah?" Zemira terkejut dan langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya karena malu wajahnya saat ini merah.


"Kenapa? engga mau" tanya Nizam.


Zemira mengangguk, tangan Nizam segera menarik tangan Zemira. Namun Zemira menahannya.


"Kenapa?" tanya Nizam.


"Aku lagi haid" jawab Zemira malu.


"Oh gitu, lain kali aja kalau gitu"ucap Nizam kembali masuk kedalam kamar mandi.


Sedangkan Zemira masih tersipu malu dengan sikap Nizam tadi, bahkan membuatnya semakin salah tingkah dan gugup.


Zemira menyiapkan pakaian yang akan Nizam pakai, namun semua bajunya sudah rapi masuk kedalam koper.

__ADS_1


"Gila ini orang, bener-bener udah niat mau pergi ampe bajunya udah masuk semua kekoper. Bahkan dia engga nyisain pakaian yang baka dia pake hari ini, emang dia mau telanjang" omel Zemira pada koper milik Nizam.


"Ekhem" Nizam berdehem membuat Zemira terkejut karena tiba-tiba posisi Nizam sangat dekat dengan telingan Zemira.


Much..


Ciuman dipipi Zemira pun mendarat secara spontan, wajah Zemira semakin merah.


"Ko tiba-tiba dibelakang kaya hantu" ucap Zemira membalikkan badannya.


"Kamu terlalu khusyu ngomel sampe suara pintu kamar mandi buka aja kamu engga denger" jawab Nizam.


Nizam membuka lemari dan mengambil baju pemberian abi Zemira untuknya lalu memakainya, Zemira langsung menutup matanya dengan kedua tangannya. Lagi-lagi Nizam hanya nyegir melihat kelakuan Zemira, lalu kembali masuk kamar madi untuk wudhu.


"Liat aja aku bales" acam Zemira melihat suaminya masuk kamar mandi untuk wudhu.


Zemira sudah bersiap menghadap Nizam didepan kamar kamdi, dan saat Nizam ingin keluar dihalang-halangi oleh Zemira.


"Kamu lagi ngapain? awas aku mau keluar"ucap Nizam.


"Keluar aja" jawab jutek Zemira.


"Kamu ngalangin jalan saya, awas!!" ucap Nizam.


"Tinggal kamu geser aku aja" jawab Zemira.


"Kamu tahu kan kalau aku baru aja wudhu" ucap Nizam.


"Tahu" jawab Zemira.


"Bener-bener, kamu mau aku cium?" acaman Nizam.


"Coba aja kalau berani" Zemira nantangin balik.


Muchh.. much.. much..


Nizam akhirnya mencium bibir Zemira dengan sangat puas bahkan tiga kali kecupan.


"Gimana enak?" tanya Nizam tertawa.


Zemira hanya kaget sembari menutupi bagian bibirnya sambil melotot melihat kearah Nizam, lalu Zemira pergi dari hadapan Nizam dan duduk dipinggir kasur tempat tidur.


Sedang Nizam yang melihatnya sangat puas, lalu mengambil air wudhu kembali.


"Bodoh!! seharusnya aku engga gitu" ucap lirih Zemira pada dirinya.


"Aduh ko jantung aku berdegup keceng banget sih, rasanya sama kaya dulu aku sama ka Fadil. Apa ini artinya aku sudah mulai melupakan ka Fadil, rasanya aku engga mau kalau dokter Nizam pindah. Apalagi jauh dari aku, apa dong yang harus aku lakuin" lanjut Zemira memegang bagian dadanya.


Nizam keluar dari kamar mandi, Zemira berusaha biasa-biasa saja. Namun Nizam masih dengan ketawannya yang lebar melihat kearah Zemira, lalu keluar dari kamar menuju musholah untuk sholat subuh jama'ah.

__ADS_1


__ADS_2