Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-33 Luka


__ADS_3

"Lalu bagaimana dengan hatimu?" tanya Fadil.


"Aku sudah mengubur kisah itu dalam-dalam ka Fadil, kamu tidak perlu khawatir" jawab Zemira.


"Aku tidak percaya luka itu akan dengan cepat sembuh" ucap Fadil dengan nada berat.


"Luka itu hanya butuh satu hal, yaitu waktu. Tidak ada luka yang tidak bisa sembuh, karena luka akan mengering dengan sendirinya. Sekalipun meninggalkan bekas, namun ia akan memudar mesti butuh waktu yang sedikit lama. Semua akan kembali baik-baik saja" jawab Zemira dengan sepenuh hati.


Ibu langsung mendekat erat tubuh Zemira, bahkan ibu Fadil meneteskan air mata untuk wanita biasa ini Zemira.


"Laki-laki bertuntung seperti apa yang akan mendapatkan kamu sayang" ucap Ibu tersenyum.


Zemira menghapus air mata ibu dengan penuh cinta, dan sesekali mereka berpelukan kembali saling memberi energi positif.


"Abdulallah" panggil Abi pada adik Zemira.


"Iya abi" jawab Abdulallah.


"Kamu ingin ke pondok kan? sekalian antar kakakmu dulu pulang ke toko ini sudah malam" perintah Abi.


"Biar Fadil saja Abi yang mengantar Zemira" saran Fadil.


"Cukup Fadil!! tolong menjauhlah dari putriku, aku tidak ingin melihatnya bersedih" jawab Abi dengan tegas.


"Abdulallah cepat antar kakakmu, dokter Nizam sebentar lagi pulang" perintah Abi lagi.


"Abi, kenapa abi engga izinin Zemira buat ketemu sama dokter Nizam?" tanya Zemira.


"Butuh waktu yang tepat, sudah sana pulang dan hati-hati" jawab Abi.


"Sebentar Abi, ada barang Zemira yang harus diambil dikamar" ucap Zemira mengulur waktu.


"Nanti saja Zemira, sudah cepat sana!!" jawab Abi dengan tegas.


"Tapi abii" ucap Zemira memohon.


"Zemira!!" teriak abi.

__ADS_1


"Okeh, okeh Zemira pergi" jawab Zemira.


Zemira bergegas pergi dari rumah walaupun hatinya sangat penasaran akan sosok ponakan paman Ahmed, yang seolah abinya tutup-tutupi dari dirinya.


"De, kamu tau engga sih abi kayanya engga mau kalau kakak ketemu sama ponakan paman Ahmed?" tanya Zemira disela-sela perjalanan.


"Udahlah ka engga usah difikirin, intinya abi pasti pengen yang terbaik buat kamu. Jadi kamu engga usah khawatir ya" jawab Abdulallah santai.


Dirumah Zemira, tidak lama kemudian mobil memasuki pekarangan rumah Zemira.


"Assalamu'alaikum" sapa dokter Nizam saat masuk kedalam rumah.


"Wa'alaikumussalam" jawab semua penghuni.


"Nizam kamu sudah pulang" ucap paman Ahmed.


"Iya paman" jawabnya tersenyum.


"Dokter Adiyaksa Nizam kan?" tanya Fadil terkejut.


"Iya, kamu Fadil kan?" jawab Nizam tersenyum.


"Sudah menjadi ketetapan Tuhan, tentunya" jawab Nizam.


"Nizam bersih-bersih dulu setelah itu sini gabung main catur dengan abi" ajak abi Zemira pada Nizam.


"Iya abi" jawabnya lalu melangkah masuk kedalam kamar.


"Abi bukannya itu kamar Zemira?" tanya Fadil penasaran.


"Iya itu memang kamar Zemira, abi sewakan pada dokter Nizam" jawab abi.


"Tidak perlu panggil saja Nizam, dia ponakanku dan itu juga keponakan kamu juga" ucap paman Ahmed.


Ibu dan bapak Fadil pulang lebih awal sedangkan Fadil masih tetap dirumah Zemira menemani abi main catur dengan pamah Ahmed dan Nizam.


"Dokter" panggil Fadil saat duduk bersebelahan diteras depan dengan Nizam.

__ADS_1


"Emm" jawabnya singkat.


"Bagaimana kalau dokter jadi aku, betapa dilemanya aku dok" curhat Fadil.


"Panggil aja Nizam, aku rasa kamu perlu diskusi" jawabnya sembari minum teh hangat ditengah malam.


"Diskusi?" Fadil merasa bingung dan berusaha memahani makna dari ucapan Nizam padanya.


"Diskusi dengan hatimu, perasaanmu, fikiranmu dan penuhi hatimu dengan Allah. Maka kamu akan menemukan jawaban yanga memang itu datang dari Tuhan" jawab Nizam.


"Aku cinta dan sayang sama Indah, tapi disatu sisi aku juga sayang sama Zemira" ucap Fadil terhanyut oleh kedilemaan dihatinya.


"Apa kamu mencintai Zemira?" tanya Nizam.


"Entah, aku tidak yakin" jawab Fadil.


"Kalau begitu kamu tidak perlu bingung, dan kamu sudah menemukan jawabannya" ucap Nizam menikmati udara malam yang menyentuh wajahnya perlahan.


"Apa jawabannya dok? maksudku Nizam" tanya Fadil.


"Bahwa kamu ingin Indah menjadi pasanganmu dan Zemira hanyalah perempuan yang kamu anggap keluarga sehingga kamu ingin mejaganya dan memberikan yang terbaik untuknya. Dan itu alasannya kamu sering cemburu kalau dia bersama laki-laki lain mungkin" jawab Nizam.


"Iya, itu benar. Terimakasih dok" ucap Fadil merangkul Nizam layaknya seorang teman.


"Dan aku berharap Zemira mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari diriku, dan semoga itu kamu dok" tambah Fadil.


"Hah? kenapa aku?" tanya Nizam merasa heran.


"Aku rasa paman kamu dan abi sedang merancang perjodohan antara kamu dengan Zemira" jawab Fadil yang sok tau.


"Kami tidak saling mengenal apa lagi saling tahu satu sama lain, dan itu tidak mungkin" ucap Nizam.


"Bukannya kemarin kalian saling bertemu itu artinya sudah ditahap mengenal, lagian kenapa dokter sih yang engga pd seharusnya Zemira yang engga pd karena dokter laki-laki yang menjadi idaman semua wanita. Hampir seluruh staf dirumah sakit membucarakan dokter" Fadil menyakinkan Nizam dengan sok tau.


"Tapi Zemira wanita yang sulit ditaklukan dok, itu tantangannya" tambah Fadil tertawa.


"Dan aku suka tantangan" jawab Nizam.

__ADS_1


Obrolan keduanya berakhir, bahkan Fadil sampai menginap dirumah Zemira tidur bersama Nizam dikamar yang sama.


__ADS_2