
Pagi itu, seperti biasa Zemira membuka toko milik kakaknya. Kholid datang mengendarai motor miliknya segera menghampiri Zemira, namun segera Zemira menghindar dari Kholid. Dengan refleknya Kholid memegang pergelangan Zemira, seketika itu juga Zemira menepiskan tangan Kholid.
"Tolong jaga sikap kamu Kholid" Zemira memberi peringatan.
"Sorry, sorry Zee.. gue cuma mau nahan loh biar engga pergi, loh mesti denger dulu penjelasan gue soal sikap gue semalem. Please!" jawab Kholid memohon.
"Kamu engga perlu jelasin apa-apa, dan aku engga mau denger apa-apa. Please jangan ganggu aku lagi" ucap Zemira.
"Ada hubungan apa loh sama Fadil?" tanya Kholid dengan nada serius.
"Denger ya Kholid, kamu engga berhak tahu privasi aku. Dan aku engga harus ngasih jawaban sama semua pertanyaan kamu, kalau sudah selesai silahkan pergi" jawab Zemira berbalik pergi.
Kholid lagi-lagi reflek memegan kembali pergelangan Zemira, itu membuat Zemira kesal dan marah segera menepis tangan Kholid kemudian berbalik badan.
Plakk..
Tamparan Zemira mendarat dipipi Kholid, seketika Kholid menatap Zemira.
"Kamu seharusnya tahu bagaimana menghargai seorang wanita yang bukan mahrom kamu!! Dan kamu keterlaluan, kalau sekali lagi kamu menyentuh aku. Aku engga segan-segan akan bilang sama kakak ipar, dan aku akan pergi dari sini" Zemira mengancam Kholid karena marah.
"Gue cemburu kalau loh dekat sama Fadil, loh tau pacar dia yang sekarang adalah orang yang dulu deket sama gue dan sekarang dia malah jadian sama Fadil. Dan gue engga mau kalau loh sampe suka sama Fadil, karena gue suka sama loh" ucap Kholid jujur dari relung hatinya dengan nada marah sekaligus menahan rasa sakit dipipinya.
__ADS_1
"Berhenti Kholid!!! Kamu bisa pergi sekarang" pinta Zemira dengan nada rendah.
Kholid akhirnya menyerah untuk membalas argumen Zemira, karena dia tahu bahwa perempuan yang dihadapannya perlu waktu untuk bisa mencintai dirinya. Lalu pergi begitu saja dengan membawa rasa sakit dipipinya, Kholid menaiki motor kesayangannya.
Kring..
Pesan masuk diponsel Zemira, segera dia mengambilnya dan melihat pesan dari siapa. Ternyata pesan itu dari abinya yang mengatakan bahwa Faisal hari ini sedang berada dirumahnya dan ingin bertemu dengan Zemira.
"Apa lagi inii??" keluh Zemira kesal.
"Zemira" panggil kakak pertama Zemira.
"Abi bilang kamu suruh pulang dulu sebentar, katanya ada temen kamu mau ketemu" ucap kakaknya.
"Engga perlu ka, bilang aja Zemira sibuk" jawab Zemira menolak.
"Engga boleh gitu dee, temuin dulu. Jangan liat temen kamunya tapi liat abi yang minta kamu pulang sebentar" ucap kakaknya memberi saran yang bijak.
"Iya ka nanti Zemira ambil tas dulu" jawab Zemira segera masuk kedalam rumah.
Setelah mengambil tas miliknya Zemira pergi menaiki motor milik kakak iparnya, sesampainya dirumah abi lalu Zemira segera masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Bagaimana ini bisa terjadi, bukankah abi tidak menyukai Faisal saat itu? Pertanyaan muncul seketika difikiran Zemira ketika didapatinya abi yang tengah asik berbincang dengan Faisal.
"Assalamu'alaikum abi" ucap Zemira yang melangkah ragu-ragu kemudian menyalami tangan abinya.
"Wa'alaikumussalam" jawab abi dan Faisal disambut dengan senyuman.
"Abi tinggal ya kalian berdua selesaikan apa yang ingin diselesaikan" ucap abi berpamit pergi meninggalkan Zemira dan Faisal.
"Makasih abi" jawab Faisal dengan senyuman.
Abii? apa mereka sedekat itu sampai kang Faisal panggil abi, ucap Zemira didalam fikirannya.
"Aku minta maaf Zee, engga ada maksud buat ngasih harapan ataupun mengelukain kamu" membuka topik yang ingin Faisal bahas.
"Aku tidak terluka dan aku baik-baik saja kang, tidak perlu minta maaf" jawab Zemira.
"Kasih aku waktu Zee untuk siap melamar kamu dan membawa keluargaku kesini" ucap Faisal serius.
"Jangan buat mainan ka, perasaan tidak bisa ditarik ulurkan begitu saja seperti layangan. Cukup aku tidak ingin berharap pada siapapun apalagi sama kamu kang" jawab Zemira.
Memang benar, dulu Zemira sempat salah menangkap sikap Faisal terhadap dirinya dan Zemira akui itu bahwa cara pertemuannya dengan laki-laki ini juga tidak bener. Karena memang tidak harus saling komunikasi apalagi saling melempar perhatian sampai berada dititik berharap, namun pada akhirnya harapan itu tidak akan pernah manis kalau berharap pada selain Allah.
__ADS_1