
Saat Nizam ingin masuk kedalam kamar tiba-tiba dia berpapasan dengan istri abang Hasan.
"Dok udah selesai jogingnya?" tanya istri Hasan.
"Udah ka, baru aja selesai" jawab Nizam.
"Sarapan dulu sana, Zemira udah masak nasi goreng tadi" ucapnya sembari merapihkan pakaiannya.
"Iya ka nanti, kakak mau pergi?" tanya Nizam.
"Iya ada urusan sebentar dengan abang Hasan, kakak nitip Pratama ya dia lagi dikamar main games. Soalnya handphonenya lagi disita sama ibunya engga boleh pergi nongkrong-nongkrong" jawab istri Hasan.
"Abi kemana ka?" tanya Nizam.
"Oh abi, lagi sama Abdulallah biasa urusan pondok. Tapi ba'da duhur juga udah pulang" jawab istri Hasan.
"Oh ya, dokter berangkat kerja jam berapa?" tanya istri Hasan.
"Jam satu siang ka" jawab Nizam.
"Bagus dong gitu, bisa temenin Pratama dulu sebentar sembari nunggu abi dan Dullah pulang" ucap Hasan yang tiba-tiba muncul.
"Iya bang, engga usah khawatir nanti Nizam jagain" jawab Nizam.
"Yaudah jaga rumah baik-baik ya, assalamu'alaikum" ucap Hasan melangkah pergi.
"Wa'alaikumussalam" jawab Nizam.
Nizam masuk kedalam kamar untuk mandi, lalu makan nasi goreng buatan Zemira.
tok.. tok.. tok..
Nizam berada didepan kamar Pratama, sembari mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk!!" ucap Pratama dari dalam kamar.
Kkrrekk..
Nizam membuka knop pintu kamar Pratama, lalu duduk disebelahnya.
"Om ngapain kesini?" tanya Pratama.
"Nemenin kamu main game" jawab Nizam.
"Hah? main game, hahaaaa... emang dokter bisa main game?" tanya Pratama sambil tertawa.
"Bisa dong, mana sini" jawab Nizam mengambil stik duanya.
"Aku fikir om cuma taunya buku, buku dan buku. Mana mah bukunya tebel-tebel, engga pusing bacanya om" ucap Pratama.
"Buku itu jendela dunia, kalau kamu mau tau dunia maka baca buku yang banyak supaya kamu tau dunia" jawab Nizam.
Keduanya mulai bermain, beraduh kejagoan. Walaupun Nizam selalu kalah namun mainnya cukup lumayan tidak terlalu buruk, setelah dua jam mereka bermain. Nizam memutuskan untuk tidur sebentar dikamar Pratama.
__ADS_1
Ditempat kerja Zemira, Indah datang menemui Zemira siang itu sekitar jam setengah dua belasa.
"Hai Zee" sapa Indah.
"Oh, hai ka" sapa balik Zemira.
Namun semua teman kerja Zemira melihatnya dengan ketidak sukaan, karena yang mereka fikirkan adalah ko bisa-bisanya kemaren nampar orang besoknya keliat engga ada apa-apa dan kaya engga terjadi apa-apa.
"Ngapain sih dia kesini?" bisik Helana bertanya-tanya.
"Tau tuh tebel banget dah mukanya kaya engga ada kejadian kemaren" sahut Selina.
"Udah, berfikir baik aja" ucap Zemira.
Zemira mendekat kearah Indah, lebih tepatnya didepan tempat pemesanan.
"Ada yang bisa dibantu ka?" tanya Zemira rama bahkan masih sempetnya senyum.
"Aku mau beli nasi bebek Zee dua, tambahan nasinya satu ya dibungkus" jawab Indah.
"Ok, pesanan akan segera dibuat ya ka" ucap Zemira.
"Zee aku mau ngomong sebentar sama kamu, tapi engga disini. Didepan aja" pinta Indah.
"Tapi ka aku lagi kerja" jawab Zemira.
"Udah engga papa Zee, lagian warung belum rameh ko. Jadi santai aja" ucap Windah.
Zemira dan Indah keluar dari tempat kerja lalu duduk dikursi panjang didepan warung.
"Ternyata alasan yang engga bisa kamu jelasin ke aku saat itu adalah kamu istri dari dokter Nizam" ucap Indah membuka obrolan.
"Ka Indah tau dari mana?" tanya Zemira terkejut.
"Ka Fadil ya yang kasih tau?" tambah Zemira.
"Bukan Fadil Zee, tapi dokter Nizam sendiri yang bilang. Saat dokter Nabila pingsan, dokter Nizam nyuruh buat dibawa ke rumah mertuannya aja. Dan sumua temen-temen beransumsi kalau dokter Nizam menikah secara rahasia, dan aku sih langsung beefikir kalau dokter Nizam menikah sama kamu" jelas Indah panjang lebar.
"Apa dia ngasih tau aku sama semuanya" tanya Zemira penasaran.
"Engga Zee, karena saat itu kan keadaannya dokter Nabila lagi pingsan mana sempet klarifikasi gitu ke yang lain" ucap Indah.
"Oh syukurlah kalau gitu, ka Indah harus janji. Jangan pernah bilang ke siapapun kalau aku istri dokter Nizam, ini rahasia" jawab Zemira membuat perjanjian dengan Indah.
"Iya deh ok kalau gitu" jawab Indah mengiyakan.
"Oh ya, Ze aku minta maaf soal kejadian kemaren. Aku baner-bener engga nyangkah kalau Kayla sengaja jebak kamu, supaya aku benci dan marah sama kamu" jelas Indah.
"Ka Kayla? temennya ka Indah, emang motif ka Kayla jebak aku itu apa ka" jawab Zemira kaget.
"Dia suka sama Fadil, dan bodohnya aku. Aku baru ngeeh pas Fadil jelasin semuanya, tentang video kamu dan Fadil ditaman" ucap Indah.
"Oh jadi yang videoin itu ka Kayla, yaudah ka udah berlalu juga. Aku udah maafin dan lupain juga" jawab Zemira.
__ADS_1
"Pasti sakitnya, dua kali kamu kena tampar cuma soal Fadil" ucap Indah sembari menyentuh pipi Zemira.
"It's ok ka engga papa ko" jawab Zemira.
"Loh itu tangan kamu kenapa?" tanya Indah panik melihat pergelangan tangan kanan Zemira yang merah dan sedikit melepuh.
"Oh ini cuma kesiram minyak panas aja ka, nanti juga sembuh" jawab Zemira.
"Kamu bilan cuma kesiram, kamu gila ya itu udah melepuh banget" ucap Indah.
"Biar aku obatain" tambah Indah.
"Engga usah ka engga papa" tahan Zemira.
"Yaudah aku perban aja yaa" ucap Indah.
Indah langsung melambaikan tangannya kearah Fadil yang kebetulan saat itu sedang berada didepan igd, Fadil langsung ngeeh dengan sekali lambaian tangan Indah.
"Apa?" tanya Fadil dari sebrang sana.
"Ambilin perban" jawab Indah.
Fadil hanya mengangguk lalu masuk kedalam igd dan mengambil perban, tidak lama kemudian Fadil keluar lagi sambil membawa beberapa perban ditangannya lalu menyebrang mendekat kearah Zemira dan Indah.
"Nih perbannya, buat apa sih?" tanya Fadil.
"Buat Zemira" jawab Indah langsung memperban luka ditangan Zemira.
"Kamu kenapa Zee ko bisa luka gitu?" tanya Fadil rempong.
"Kesiram minyak panas ka, lagian aku udah biasa sama luka kaya gini. Tapi cuma lagi engga fokus aja sedikit jadi bisa kena siram gini deh" jawab Zemira.
"Mba Indah pesanannya sudah siap" ucap Selina.
"Oh iya mba, berapa totalnya" jawab Indah lalu mendekat kearah kasir.
Fadil langsung berinsiatif segera menggantikan Indah memasangkan perban ditangan Zemira dengan perlahan terus menggulung menutup lukannya.
"Pasti kalau ibu tau dia bakal khawatir" ucap Fadil.
"Dan syukurnya ibu kamu engga tau" jawab Zemira tersenyum.
"Dan dia bakal bilang, Fadil kamu engga bener ya jagain anak perempuan. Pokonya berisik deh" bercanda Fadil.
"Bisa aja" ucap Zemira sembari menepak pelan Fadil.
"Nah udah selesai, udah ya para gadis aku mau kembali bekerja. Jaga diri baik-baik" jawab Fadil.
"Makasih ya ka Indah dan ka Fadil" ucap Zemira.
"Sama-sama Zee" jawab Indah.
Indah dan Fadil pergi bersama meninggalkan warung, Zemira mulai kembali bekerja.
__ADS_1