Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-37 Restu Ibu Fadil


__ADS_3

Keesokan harinya..


Semua orang sibuk menyiapkan acara akad untuk nanti malam setelah sholat isya, karena pernikahan Hasan kakak laki-laki Zemira.


"Abi Zemira pergi dulu sebentar ya" teriak Zemira dari ambang pintu.


"Kemana Zee?" tanya Abi.


"Urusan darurat" jawab Zemira setengah berlari.


Dubrag..


Tidak sengaja Zemira menabrak seorang dari arah belakangnya.


"Aww sakit" keluh Zemira.


"Adiyaksa kamu ini" ucap paman Ahmed membantu Zemira yang terjatuh ke lantai.


"Tidak papa sayang?" lanjut paman Ahmed.


"Engga papa paman" jawab Zemira lalu berdiri.


"Ka-kamu kan" lanjut Zemira menunjuk kearah ponakan paman Ahmed.


"Dia ponakan paman, katanya mau ngambil buku tebal dikamar kamu jadi dia datang mengambilnya" jelas paman Ahmed.


"Aku cuma sebentar ko paman" ucap Nizam.


"Eh tunggu" Zemira menahan lengan Nizam yang saat itu mengenakan kemeja lengan panjang.


"Biar aku ambilkan" lanjut Zemira.


"Kayanya tadi kamu buru-buru mau pergi sampe nabrak badan aku yang lebih tinggi dari badan kamu" ucap Nizam melepaskan tangan Zemira yang menahan lengannya.


" I-iya tadi, tapi sekarang lebih darurat jadi biar aku yang ambil. K-kamu bisa bilang tarohnya dimana" jawab Zemira sedikit gugup karena sesuatu yang ia tutupi.


"Tidak perlu aku bisa ambil sendiri" ucap Nizam.


"Masalahnya kamer aku dalam keadaan berantakan dan pasti kamu engga bakal suka, jadi mending aku ambilin aja ya. Please" bujuk Zemira.


"Ok, buku tebal yang ada diatas meja belajar" ucap Nizam.


"Tunggu disini, sekalian pegangin tas aku. Paman ayo masuk abi udah nungguin" jawab Zemira melangkah masuk setelah memberikan tas selempangnya pada Nizam.


"Tidak sopan" keluh Nizam.


"Ayo masuk, jangan ngomel aja" ajak paman Ahmed merangkul ponakannya sambil tersenyum.

__ADS_1


Sedangkan Zemira mencari buku tebal yang dimaksud Nizam, didalam kamarnya.


"Aduh mati aku" ucap Zemira.


"Aku lupa taroh dimana" tambah Zemira mondar-mandir memikirkan dimana dia menarohnya.


Tok.. tok..


"Iya sebentar" teriak Zemira didalam.


"Oh iya, aku inget. Pratama kan pinjem bukunya" ucap lirih Zemira segera membuka pintunya.


"Abi?" Zemira terdiam, dia fikir tadi ponakan paman Ahmed yang mengetuk pintunya.


"Ada temen kamu tuh diruang tamu" ucap abi.


"Iya bi bentar" jawab Zemira kemudian kekamar Pratama keponakannya.


"Tama" panggil Zemira.


"Iya kenapa tan?" tanya Pratama baru bagun tidur.


Pratama adalah ponakan Zemira anak dari kakak perempuannya.


"Nah itu dia" ucap Zemira melihat bukunya diatas meja.


"Lain kali kalau pinjem sesuatu dibalikin" tambah Zemira kesal.


"Zee" panggil Indah.


"Hah? iya" Zemira mendekat dengan senyuman.


Zemira memberikan bukunya, lalu mengambil tas miliknya.


"Aku engga nyaka loh Zee, dokter Nizam ini tinggal dirumah kamu" ucap Indah.


"Iya, dan aku yang harus keluar dari rumah" jawab Zemira senyum tipis.


"Keluar rumah?" tanya Indah bingung.


"Jadi gini aku tinggal dikamar miliknya, otomatis dia harus pindah untuk sementar karena abinya tidak ingin ada salah faham. Jadi seperti itu" jawab Nizam.


"Jadi dua hari yang lalu cukup menjadi alasan, kenapa dokter belain tidur diruangan dokter kan? ternyata karena dokter ingin Zemira pulang kerumah, betulkan dok?" tanya Indah tersenyum.


"Eemm, sebaiknya aku pergi dulu" jawab Nizam.


"Ka Indah bukannya dia tidur dikosannya temennya ya ko ka Indah tau dia tidur diruangannya?" tanya Zemira sambil berbisik.

__ADS_1


"Karena sebelumnya kan dokter Nizam selalu menolak karena ingin fokus ujian spesialisnya, tapi kemaren aku lihat duapuluh empat jam dia dirumah sakit" jawab Indah.


Akhirnya keduanya mengakhiri pembicaran dan segera pergi menuju rumah Fadil untuk bertemu Ibunya, lebih tepatnya untuk mendekatkan Indah dengan Ibunya itu tujuan Zemira.


"Assalamu'alaikum ibu" sapa Zemira dengan penuh bahagia.


"Putriku" jawab ibu sedikit lantang karena bahagia.


"Wa'alaikumussalam" lanjut ibu memeluk Zemira layaknya seorang ibu yang baru berjumpa dengan anaknya lagi.


"Apa kabar kamu nak" tanya ibu mencium pipi Zemira.


"Alhamdulillah baik bu, ibu giamana kabarnya? ko engga pernah kerumah lagi" tanya balik Zemira menanyakan kabar.


"Alhamdulillah baik sayang, bapak baru sembuh sakit makanya engga main kerumah Zemira" jawab ibu.


"Owalah gitu bu" ucap Zemira.


"Oh iya kenalin ini ka Indah, pacarnya ka Fadil calon menantu ibu" lanjut Zemira dengan eksperesi bahagia.


"Indah bu" ucap Indah mencium pungung tangan ibu Fadil.


"Hem" jawab Ibu cuek dan jutek.


"Ibu, ka indah adalah putri yang baik dikeluarganya. Jangan perlakukan seperti orang asing bu, anggap ka Indah seperti anak sendiri ya, sayangi dan cintai ka Indah sama seperti sayang dan cintanya ibu ke Zemira. Dia adalah wanita yang putra ibu cintai, tolong ibu restui" rayu Zemira dari lubuk hati yang paling dalam.


"Ngapain kamu ajak Indah kesini?" tiba-tiba Fadil datang dan mendekat, terlihat mukanya yang masih kesal.


"Ka Fadil apaan sih? dateng-dateng udah ngomel engga jelas" sahut Zemira.


"Ngapain sih Zee, baik sama orang yang udah jahat sama kamu" ucap Fadil bahkan enggan menatap Indah yang berada disebelah Zemira.


"Aku minta maaf Dil, dan aku juga udah minta maaf sama Zemira. Dia wanita baik dan seharusnya yang sama kamu bukan aku, tapi dia. Saking baiknya Zemira kamu engga akan pernah bisa betapa tulusnya dia menyembunyikan perasaannya agar tidak menyakiti perempuan lain" jawab Indah.


"Stop ka Indah!! hati tidak akan bisa dipaksakan, cinta adalah anugrah yang Tuhan titipkan dan Zemira rasa ka Fadil pengen serius sama kaka. Tapi ada krikil yang membuat ka Fadil sedikit marah, dan seolah masalah apapun sebesar dan sekecil apapun pasti bisa dimaafkan dengan hati bersih dan tulus" ucap Zemira.


"Ka Fadil, apa kamu ingin menyesal? melepaskan wanita yang ada sebelahku? Apa kamu yakin?" lanjut Zemira bertanya.


"Fadil, jawab Zemira ketika kamu sudah yakin dan mantap dengan Indah. Ibu restui dan izinkan kalian segera menikah karena ketulusan Zemira" tambah Ibu Fadil yang sekarang berada dipihak Zemira.


"Ibu.. Fadil bingung" jawab Fadil.


"Kebingungan kamu datang karena aku, maka buyarkan kebingungan itu dengan kamu menikahi ka Indah. Aku yakin kalian memang ditakdirkan bersama, dan soal rasa yang pernah aku milik abaikan dan anggap tidak pernah ada. Menikahlah dapatkan rindho Allah dan Rasul-Nya" ucap Zemira.


"Kalau begitu aku siap menikahi Indah binti bapak Tasdi" jawab Fadil mantap.


Indah memeluk Ibu, senyum lebar tergambar diwajah Fadil. Dan rasa perih yang dirasa Zemira, ia tetap menahan air mata agar tidak menangis.

__ADS_1


"Berbahagialah kalian aku mendukung" pesan Zemira.


Indah mendengar ucapan Zemira langsung memeluk erat Zemira, bahkan Ibu juga ikut memeluk kedua wanita itu air mata bahagia mengalir dari Ibu dan Indah sedang Zemira terus menahan tangis agar tidak terbaca akan rasa yang ia rasakan.


__ADS_2