
"Zemira bangun!!" abi masuk kedalam kamar.
Zemira, Anne dan Milla tidur dibawa denga model gaya yang aneh dan unik. Jam menunjukan pukul tiga pagi, abi masuk kedalam kamar untuk membangunkan putrinya karena ponakan paman Ahmed sebntar lagi datang.
"Zemira!! Zemira bangun" ucap lagi abi.
"Iya bi" jawab Zemira membuka matanya.
"Cepet bangun abang anter kamu ke butik sholatnya disana aja" ucap Abi.
"Jam berapa sekarang bi" tanya Zemira sembari duduk.
"Jam tiga, cepet sana siap-siap sebentar lagi paman Ahmed dan ponakannya dateng" jawab abi.
"Abi bener-bener engga sayang sama aku" ucap Zemira melangkah masuk kamar mandi.
"Zemira sebelum pergi beresin dulu kamernya" pesan abi.
"Hem" jawab Zemira didalam kamar mandi.
Zemira membangunkan Anne dan Milla.
"Bantuin beresin dong" ucap Zemira.
"Yaelah masih ngantuk nih" jawab Milla.
"Buruan nanti abi ngamuk-ngamuk" ucap Zemira mulai merapihkan.
Anne dan Milla akhirnya ikut membantu Zemira merapihkan kamarnya, abang Hasan kakak Zemira membantu adiknya mengangkat barang-barang miliknya yang seperlunya.
"Jaga diri baik-baik" pesan abi.
"Sini!!" perintah abi.
Zemira menurut dan mendekat lalu dipeluk dengan begitu erat oleh abi, Zemira memeluk balik walaupun setengah sadar.
"Jangan macam-macam nanti abi suruh Dullah tiap hari ngecekin kamu" pesan abi lagi.
"Iya abi tenang aja" jawab Zemira mengangguk.
"Hati-hati nyetirnya, sudah sana sebentar lagi paman Ahmed datang" ucap abi.
Setelah Zemira mencium punggung tangan abi kemudian mobil segera meninggalkan halaman rumah, dan tidak lama mobil paman Ahmed datang pas sekali saat mobil abang Hasan pergi.
"Assalamu'alaikum" ucap paman Ahmed lalu keduanya bersalaman dan juga saling peluk memeluk.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam, baru saja Hasan antar Zemira ke butik" jawab abi.
"Padahal mau saya kenalin sama Nizam" ucap paman Ahmed.
"Sebaiknya mereka tidak usah saling bertemu Mad" jawab abi.
"Loh kenapa emangnya? barang kali aja jodoh" ucap paman Ahemd bercanda sembari tertawa.
"Kenalin ini Nizam ponakanku" lanjut paman Ahmed.
Adiyaksa Nizam Ishara adalah keponakan paman Ahmed, teman dan juga sahabat dekat abi Zemira. Dia seorang dokter kandungan yang cukup muda diusiannya, dia juga cerdas dan juga pintar. Ditambah lagi dengan wajahnya yang cukup tampan menjadi idola banyak wanita yang memandangnya.
"Maaf merepotkan om" ucap Nizam membuka pembicaraannya.
"Tidak papa, kamu ponakan Ahmed berarti ponakan saya juga. Maaf kalau tempat ini kurang layak untuk kamu tinggali nanti beberapa hari kedepan" jawab abi tersenyum.
"Ini lebih dari sangat nyaman ko om" ucap Nizam membalas senyum abi.
"Jangan panggil om, panggil saja abi" jawab abi.
Abi menunjukkan kamar milik Zemira pada Nizam, karena untuk beberapa hari kedepan kamar Zemira akan ditempati oleh Nizam.
"Nizam ini kamar putri abi, Zemira namanya. Maklum ya kalau sedikit berantkan, dan ruangan disebelah ada ruang buku biasa Zemira membaca dan banyak menulis disana. Kamu juga boleh menggunakannya kalau sewaktu-waktu bosen, disana banyak buku-buku cerita yang biasa Zemira baca. Ada novel cinta, buku motivator dan masih banyak lagi bahkan kitab-kitab koleksi abangnya dan dirinya juga ada jadi kamu dipersilahkan untuk menggunakannya" abah memberitahukan semuanya yang ingin disampaikan pada ponakan paman Ahmed.
"Terimakasih banyak abi, dan maaf sangat merepotkan" jawab Nizam.
"Tidak tahu paman" jawab Nizam.
"Tentu saja dia ingin kamu menikahi putrinya" ucap paman Ahmed tertawa lepas.
"Tentu saja" tambah abi Zemira ikut tertawa.
Mereka bertiga mengobrol diruang tamu sambil ditemani beberapa cangkir kopi dan teh manis, sepagi ini ditemani canda dan tawa.
"Nizam kamu jangan salah faham soal ucapan pamanmu tadi soal abi ingin menikahkan kamu dengam anak abi" ucap abi memulai pembicaraan untuk keseian kalinya.
"Iya paman hanya bercanda, lagian Zemira itu wanita yang susah ditaklukan" tambah paman Ahmed.
"Sekalinya mencintai dia akan terus bertahan, makanya susah buat dia berpaling dari cinta yang sudah memenangkan hatinya itu" lanjut paman Ahmed.
"Yasudah sana istirahat dikamar, ini sudah agak siang" perintah abi pada Nizam yang terlihat lelah.
"Iya abi, maaf Nizam tinggal dulu. dan maaf tidak bisa menemani abi main catur nanti setelah istirahat insyaallah kalau Nizam sempat" ucap Nizam tersenyum.
"Iya tidak papa, istirahat yang cukup" jawab abi membalas tersenyum.
__ADS_1
Nizam melangkah pergi masuk kamar, abi temeni paman Ahmed main catur dengan seru dan asyik. Knop pintu kamar Zemira dibuka oleh Nizam, dengan penuh teliti Nizam memperhatikan setiap sudut kamar dan bahkan Nizza tidak sengaja melihat beberapa foto yang terpasang ditembok kamar milik Zemira.
Nizam tersenyum melihat foto Zemira, dia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur milik Zemira lalu tertidur.
Dibutik Zemira sudah bersiap berangkat kerja menggunakan sepeda yang biasa dipakai untuk pergi kerja, Milla dan Anne sudah pulang kerumahnya masing-masing pagi tadi.
"Siang semua" sapa Zemira setelah sampai ditempat kerjanya.
"Cielah semakin berkilau kayanya setelah Fadil memberikan respon" leden Helena patner kerjanya.
"Hustt.. jangan gitu jaga perasaan pacarnya dan jaga perasaan orang lain" jawabnya.
"Yaelah Zee, orang lain aja engga pernah mikirin perasaan kamu. Nah ini kamu masih aja mikiran orang lain" ucap Helena.
"Udah ah jagan dibahas" jawabnya menghindar.
"Nah baru juga diomingin" ucap Helena melihat langkah Fadil yang mendekat ke warung.
"Zee" panggil Fadil.
"Ngapain?" tanya Zemira.
"Sebentar mau ngomong" jawab Fadil meminta Zemira memdekat.
"Sebentar" ucap Zemira.
Fadil duduk dibangku panjang depan warung, Zemira menghampiri Fadil.
"Kenapa ka?" tanya Zemira.
"Kamu udah tau belum?" tanya balik Fadil.
"Tau apaan?" Zemira mengerutkan alisnya merasa heran dengan pertanyaan Fadil.
"Ibu dan Bapak berencana melamar kamu buat aku" ungkap Fadil.
"Hah? yang bener, kapan ka?" tanya Zemira entah haruskah dia bahagia ataukah dia terkejut.
"Entah kapannya belum tau, tapi yang pasti semalem aku dengar Ibu ngomong ke bapak soal kita" jawab Fadil.
"Terus gimana ka?" tanya Zemira bingung harus apa.
"Kakak kan punya ka Indah, apa kakak sanggup buat ka Indah hancur?" lanjut Zemira.
"Aku sayang Indah Zee, tapi aku juga.. udahlah kita hadapi sama-sama apapun yang terjadi dan satu hal yang harus kamu tau Zee aku juga sayang kamu" ucap Fadil mengusap lembut kepala Zemira yang terbalut hijab.
__ADS_1
"Selamat bekerja" tambah Fadil bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi dari hadapan Zemira.
Kamu berikan lagi kekuatan cinta itu dari mata yang tak bicara, dari mulut yang terdiam, lagi dan lagi hati mengatakan ingin diperjuangkan. Namun lagi dan lagi langkahmu terus berputar balik dan menghilang. Aku membencimu Fadil, ucap Zemira dalam hati saat melihat langkah Fadil menjauh darinya.