Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-41 Menerima Lamaran


__ADS_3

Keesokan harinya, Zemira sudah berada dirumahnya menunggu keluarga Faisal datang untuk mendengar jawaban Zemira.


Sedang Zemira sedari tadi terus mondar-mandir memikirkan cara apa yang akan ia gunakan, namun pilihan tetap menjadi haknya.


"Kamu grogi Zee? slow aja" ucap istri abang Hasan.


Zemira hanya membalas dengan cengiran diwajahnya.


"Dokter yang tidur dikamar Zemira ada engga ka?" tanya Zemira berbisik.


"Oh dokter Adiyaksa, dia tadi pagi-pagi banget udah keluar kayanya joging soalnya pake celana training gitu" jawab kakak iparnya.


"Oh gitu, yaudah Zemira mau kekamar dulu sebentar" ucap Zemira lalu melangkah pergi.


Zemira mengunci pintu kamarnya agar konsentrasinya tidak diganggu karena benar-benar sudah sangat mepet untuk memikiran ide apa yang akan ia gunakan sebagai alasan.


"Aaaahhhhhhh.... aku pusing, gimana caranya coba supaya lamarannya ditolak" teriak Zemira.


Tok.. tok..


"Zemira kamu kenapa?" tanya kakak iparnya dari balik pintu kamar.


"Engga papa ka, bentar lagi Zemira keluar kamar" sahut Zemira.


Setelah tangannya memegang knop pintu untuk membuka, matanya terhipnotis oleh tiket pesawat yang ada dimeja tempat kerja Nizam.


"Tiket?" ucap Zemira lirih.


"Dia beneran akan pergi, bukannya masa percobaan kerjanya satu bulan ini kan baru berapa minggu" lanjut Zemira.


"Zemiraa" panggil abi dari balik pintu.


"Iya-iya abi" sahut Zemira dari dalam kamar.


Panggilan abinya membuyarkan lamunannya pada tiket pesawat milik Nizam, lalu segera keluar dari kamar.


Ternyata keluarga Faisal sudah datang, perlahan Zemira duduk disebelah abinya.


"Mana laki-laki itu?" tanya abi.


"Hah? eeemmm dia, ternyata dia engga serius bi" jawab Zemira cenggesan.

__ADS_1


"Berarti itu artinya kamu tidak punya alasan menolak lamaran ini" ucap abi.


"Maaf abi Zemira udah nerima lamaran orang lain" jawab Zemira.


"Hah lamaran orang lain?" tanya Faisal terkejut.


"Lamaran siapa yang kamu terima?" desak abinya.


"Lamaran dokter Nizam" jawab Zemira spontan.


Semua diruangan itu terkejut dan bingung.


"Bukannya kamu nolak saya ya" ucap dokter Nizam yang tiba-tiba muncul dengan keringat yang bercucuran yang masih lengkap dengan pakaian jogingnya.


"Kalau begitu dengan jelas bahwa lamaran Faisal ditolak karena putri saya sudah memilih laki-laki yang juga pilihan saya" ucap abinya sembari tersenyum lebar.


"Hah? pilihan abi? maksudnya dokter Nizam adalah laki-laki yang akan abi pilihankan untuk Zemira" jawab Zemira terkejut.


"Zee kamu yakin mau nolak lamaran aku?" tanya Faisal.


"Maaf kang, Zemira engga ada maksud buat nyakitin siapapun. Zemira kan udah pernah bilang kalau sebaiknya kang Faisal jangan pernah ngelamar karena jawaban yang akan Zemira kasih akan tetap sama. Membangun kepercayaan itu jauh lebih sulit dari pada menjaga kepercayaan itu sendiri" jawab Zemira.


"Bagimana kapan kalian akan menetapkan tanggal pernikahan?" tanya paman Ahmed pada Nizam yang sudah duduk disebelahnya


"Zemira ikut dokter aja" jawab Zemira.


"Nizam akan minta restu dulu dari mamah sama papah paman" ucap Nizam.


"Kamu engga usah khawtir, paman sudah cerita banyak soal Zemira dan pasti papah sama mamah akan setuju" jawab paman Ahmed.


"Sebenernya abi sudah dari dulu sekali saat pertaman kali bertemu dengan Nizam dirumah paman Ahmed dulu, ingin rasanya Nizam nih jadi menantu abi dan akhirnya tidak dengan paksaan Zemira milih Nizam juga" ucap abi tersenyum bahagia.


"Dan sebenernya kalian itu memang sudah direncanakan untuk dijodohkan, namun setelah Nizam tau dia ingin kamu menerima dia bukan karena paksaan. Makanya dia minta izin buat lamar kamu langsung" tambah paman Ahmed tersenyum.


"Yasudah abi kasih kalian waktu ngobrol berdua, tapi jangan lama-lama setelah selesai langsung gabung dengan yang lain kita makan bersama diruang makan" lanjut abi kemudian langsung pergi dan disusul paman Ahmed.


"Apa alasan kamu menerima lamaran saya?" tanya Zemira pada Nizam.


"Sebelum aku jawab, biar aku tanya dulu. Apa alasan kamu melamar aku?" tanya balik Zemira yang tidak ingin kalah.


"Saya sudah tau jawabannya, karena Fadil ya" jawab Nizam sok tau.

__ADS_1


"Bisa engga jangan bawa-bawa ka Fadil, dia itu engga ada hubungannya soal ini sama sekali" ucap Zemira marah.


"Terserah, intinya jawaban kamu udah kadaluwarsa buat saya" jawab jutek Nizam lalu melangkah pergi.


"Gimana sih tuh orang, belum juga jawab alasannya udah ngajak ribut aja. Sekalinya adu argumen pergi gitu aja, nonaktifkan pembicaraan" omel Zemira kesal.


Akhirnya Zemira menyusul ke ruang makan, namun Nizam tidak terlihat disana. Dan akhirnya Zemira memutuskan untuk tidur disoffa ruang tvi yang tidak jauh dari ruang makan.


"Zee sini makan" ajak abang Hasan.


"Engga bang, engga nafsu. Zemira butuh tidur, pala aku pusing" jawab Zemira kemudian membaringkan badannya disoffa.


Tidak lama kemudian Nizam datang menghampiri meja makan, dengan pakaian yang sudah ganti.


"Ini dia colan pengantin, ayo mankan dok" ledek Hasan pada Nizam dengan senyuman.


"Iya bang" jawab Nizaw sembari menengok kekanan dan kiri.


"Hayo cari siapa?" tanya istri Hasan.


"Hehehee.. engga ko ka, hemm Zemira udah balik ya ka" jawab Nizam.


"Tuh dia" ucap istri Hasan menujuk kearah keberadaan Zemira yang tertidur pulas disoffa.


Nizam hanya menjawab dengan senyuman puas karena melihat keberadaan Zemira.


"Pasti dia banyak berfikir makannya dia melampiaskan dengan tidur, udah biasa dari dulu juga suka gitu. Kalau lagi kesel, marah atau bete dia pasti tidur" cerita abang Hasan melihat kearah adik perempuannya yang sedang tidur.


"Nizam tolong dong selimutin Zemira, kakak mau ngejemur pakaian dulu. Nih selimutnya" pinta istri Hasan sembari memberikan selimut lembut pada Nizam.


"Makasih ya" tambah istri Hasan kemudian pergi.


Mau tidak mau Nizam akhirnya mendekati Zemira yang tertidur pulas, lalu membeber selimut menyelimuti tubuh Zemira.


Mata Nizam tidak beralih menatap kearah Zemira tidur pula, ternyata dia imut kalau tidur. Ucap Nizam dalam hati sembari memandang wajah Zemira yang sedang tidur.


"Ekhem.. ekhem.. inget belum halal" ledek paman Ahmed yang meihat Nizam diam-diam menatap terus kearah Zemira.


"Apaan sih paman" jawab Nizam malu-malu.


Nizam melangkah kemeja makan kembali setelah menyelimuti Zemira, dan melanjutkan untuk makan.

__ADS_1


__ADS_2