
Nizam memeriksa keadaan Nabila, dengan mengecek denyut nadinya yang melemah.
Tiba-tiba Zemira keluar dari kamarmya dengan penampilan yang rapih, mata Nizam langsung menemukan keberadaan Zemira.
"Mau kemana kamu?" tanya Nizam.
"O-oh, hhmm.. aku mau, itu kenapa?" tanya balik Zemira melihat keadaan Nabila lalu mendekat.
"Ko mukanya pucet gitu?" tambah Zemira menatap Nizam.
"Ada dua kemungkinan, dia hanya kecapean atau dia hamil" jawab Nizam.
"Kevin loh coba buat dia sadar dulu pake minyak kayu putih" pinta Nizam.
"Dan kamu Zemira, aku mau ngomong sama kamu. Ikut aku!!" tambah Nizam lagi.
Zemira akhirnya mengikuti langkah Nizam yang keluar kedepan.
"Kamu mau kemana?" tanya Nizam keduanya saling berhadapan.
"Aku mau ketoko sebentar, kamu tau kan kakak perempuan aku sibuk sama toko yang ditanggerang dan toko disini diserahin ke aku. Aku harus kesana ngecek, dan langsung pergi kerja nantinya engga pulang dulu" jawab Zemira.
"Aku engga izinin, hari ini aku berangkat kerumah sakit jam satu siang dan akan pulang malam dan kamu mala ingin pergi kerja dan kerja. Kamu lupa kalau kamu punya suami" ucap Nizam.
"Yah terus kamu mau aku gimana?" tanya Zemira.
"Berhenti dari pekerjaan kamu, dan cukup kamu ngurus aku. Faham" jawab Nizam.
"Kenapa? kamu takut sama pekerjaan aku, takut kalau semua orang tau kamu sudah menikah dan menikahi wanita pelayan kaya aku. iya?" ucap Zemira mulai kesal.
"Engga gitu Zee, aku cuma mau kamu dirumah biar engga capek" jawab Nizam.
"Kalau gitu biarin Zemira tetap kerja disana, Zemira minta izin mau pergi sekarang" ucap Zemira meraih tangan Nizam dan mencium punggung tangannya tiga kali ditambah menciu. talapak tangannya juga sekali.
"Assalamu'alaikum" salam Zemira.
"Wa'alaikumussalam" jawab Nizam melihat punggung Zemira yang melangkah pergi.
"Zam, Bella udah sadar" teriak Kevin.
Nizam melangkah masuk kerumah dan menghampiri Bella.
"Zam, aku dimana?" tanya Bella memegang tangan Nizam.
"Kapan terakhir kali kamu datang bulan?" tanya Nizam serius.
__ADS_1
Tiba-tiba Nabila langsung memeluk Nizam dengan menangis, Kevin yang melihatnya hanya diam lalu melangkah keluar agar tidak jadi obat nyamuk.
"Loh Zee ko balik lagi" tanya Kevin terkejut.
"Handphone aku ketinggalan, aku masuk dulu dok" jawab Zemira.
"O-oh, tunggu!" ucap Kevin menghentikan langkah Zemira.
"Kenapa dok?" tanya Zemira bingung.
"Biar gue ambilin aja, eh maksudnya aku nyuruh Nizam. Loh disini aja ok" jawab Kevin.
"Engga usah dok, makasih" ucap Zemira lalu melangkah masuk.
Kevin segera menyusul, dan yang dikhawatirkan pun terjadi. Zemira melihat Nabila dan Nizam yang sedang berpelukan bakan dengan kondisi Nabila yang menangis.
"Kalau mau nostalgia jangan dirumah abi, cari tempat lain aja" ucap Zemira langsung masuk kedalam kamarnya.
Nizam melepaskan pelukkannya, Nabila menghapus air matanya.
"Kamu mau kemana?" tanya Nabila menahan lengan tangan Nizam yang ingin bangkit dari duduknya.
"Aku pergi sebentar" jawab Nizam melepaskan tangannya.
"Zee, buka pintunya!! kita perlu ngomong" ucap Nizam dari luar pintu.
Didalam kamar, Zemira menangis dipinggir kasurnya sembari memegang ponsel miliknya. Dia segera menghapus air matanyanya, lalu membuka pintu kamarnya.
"Zee aku engga mau kamu salah faham" ucap Nizam.
"Aku udah harus pergi dok, ini udah siang" jawab Zemira tidak menatap Nizam yang dari tadi menatap Zemira.
"Kamu nangis?" tanya Nizam.
"Engga" jawab Zemira.
Lalu melangkah pergi dari hadapan Nizam, bahkan pelukan Nizam yang menahan Zemira pergi sekalipun tidak bisa menghentikan langkah Zemira pergi.
Nizam kembali keruang tamu, dan mendekat kearah Bella dan Kevin.
"Sekarang kamu bisa cerita Bell, apa yang terjadi. Dan aku yakin kamu tahu, apa yang terjadi sama kamu" ucap Nizam.
"Aku sedang mengajukan percerain dengan dokter Ghazali, namun tidak juga dipersetujui oleh suami aku dan ditengah proses itu selama tiga bulan aku telat datang bulan. Lalu aku mengecek dan ternyata aku hamil, aku engga mau dia tau Zam aku hamil" jawab Nabila sambil menangis.
"Kenapa kamu mengajukan percerairan itu? aku rasa dia suami yang baik" tanya Nizam.
__ADS_1
"Aku yang terlalu jahat Zam, yang masih terus. mencintai kamu sampai sekarang" ucap Nabila.
"Loh gila ya Bell, cinta itu bulsit tau engga!! kalau loh masih terus mencinta Nizam gue yakin loh engga bakal tuh berhungan sampe punya anak. Itu artinya loh udah berpaling dari Nizam dan mencintai laki-laki lain, sampe berhubungan dan punya anak" tambah Kevin yang mulai kesal dengan drama Nabila dari dulu sampai sekarang.
"Kevin bener Bell, kamu sebenernya udah engga lagi cinta sama aku. Kamu mungkin lagi sedikit marah dan lampiasin semuanya" ucap Nizam.
"Kalau aku engga cinta sama kamu, engga mungkin aku bela-belain ikut kerja tetap disini cuma bisa pengen deket sama kamu" jawab Nabila.
"Aku udah nikah" ucap Nizam.
"Aku mencintai dia, awalnya perjodohan tapi setelah tangan abinya aku pagang untuk qobul. Barulah aku jatuh cinta berkali-kali dengan wanita ini" lanjut Nizam.
"Jangan bilang wanita itu Zemira?" tebak Nabila.
"Iya, wanita itu Zemira Nurrudin" jawab Nizam.
"Kamu nikah siri?" tanya Nabila.
"Engga, kita menikah secara agama dan negara. Hanya saja saat itu memang sangat sederhana, tapi nanti setelah aku udah selesai skripsi aku. Kita akan adakan resepsi agar seluruh dunia tahu aku sudah menikah" jawab Nizam tersenyum.
"Kamu akan lupain aku gitu aja" tanya Nabila.
"Enggalah Bell, kita bisa tetap temenan ko" ucap Nizam.
"Aku engga yakin kalau Zemira ngebolehin kita temenan" jawab Nabila.
"Justru gue engga yakin sama loh bisa cuma hanya temenan aja" ucap Kevin kesal.
"Yaudah sebaiknya kamu pulang Bell" saran Nizam.
"Vin loh anterin Bella ya, gue mau istirahat" lanjut Nizam.
"Engga mau Zam, suruh aja dia naik taksi atau ojeg kek" jawab Kevin.
"Yaudah gue aja yang nganter" ucap Nizam.
"Ehh.. engga usah deh, biar gue aja. Ini demi Zemira ya, gue engga mau nanti dianggep temen yang engga bisa ngejaga temen. Udah buruan!!" jawab Kevin.
"Hati-hati Vin bawa mobilnya jagan ngebut-ngebut" pesan Nizam.
"Iya udah tenang aja" jawab Kevin.
"Makasih ya Zam" ucap Nabila sembari memegang tangan Nizam.
Nizam hanya membalas dengan tersenyum, lalu melepaskan tangan Nabila pada tangannya. Kemudian mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah Zemira.
__ADS_1