
Malam ini Nizam mengajak Zemira untuk makan malam dirumah paman Ahmed, namun hanya ada oma, mama Hana, paman Ahmed, Nizam dan Zemira karena yang lain sedang berada diluar rumah yang memiliki beberapa kesibukan lain.
"Mama, oma" ucap Nizam mengawali maksudnya.
"Aku dan Zemira sudah menentukan tanggal resepsi kita" lanjut Nizam.
"Secepat itu?" tanya oma.
"Ma, lebih cepat lebih baik. Pernikahan sebaiknya tidak disembunyikan" jawab mama Hana.
"Kapan?" tanya oma cuek.
"Dua lima desember oma" jawab Nizam.
"Minggu depan?" tanya oma terkejut.
"Kamu fikir pernikahan sesimple itu? Harus butuh satu bulan untuk mengumpulkan keluarga besar. Ditambah papa kamu yang masih bertugas dipapu, apa kamu ingin menjadi anak durhaka? Tidak meminta izin kepada papa kamu" lanjut oma.
"Benar-benar, cucu oma dulu tidak pernah mengambil tindakan sebelum musyawarah dulu dengan oma" tambah oma marah.
"Oma, Nizam masih tetap sama ko. Hanya saja pernikahan ini sudah terjadi dan harus diumumkan, agar tidak terjadi fitnah" bujuk Nizam.
"Bukankah pernikahan kamu sirih? Maka ceraikan saja semua selesai" ucap oma.
"Nizam sudah mendaftarkan pernikahan Nizam dengan Zemira saat pertama kali ijab qobul kepada negara, bahakan buku nikah kami sudah jadi oma. Hanya saja Nizam belum memberitahu Zemira" jelas Nizam.
"Kenapa kamu mengambil langkah serumit ini?" tanya oma perlahan mulai meluluh.
"Oma" panggil Nizam duduk menjongkok dihadapan oma lalu memegang tangan oma.
"Nizam jatuh cinta dengan Zemira, rasanya berbeda dengan cinta yang saat itu Nizam rasakan kepada Bella" lanjut Nizam sambil menghela nafas.
"Oma tahu, Zemira itu anak perempuan yang terakhir yang belum menikah. Dan memiliki abang hampir semuanya laki-laki, dia selalu berusaha menjadi bisa dalam segala hal. Izinkan Nizam membangun rumah tangga dengannya" tambah Nizam.
"Oma izinkan" jawab Oma.
Nizam langsung memeluk oma, Zemira hanya mematung diam menyaksikan dengan perasaan tagang.
Semua orang mulai menikmati makan malamnya, meski terasa canggung untuk Zemira. Namun berusaha Zemira terlihat biasa saja.
"Kamu mau ini?" tanya Nizam menawarkan telor dadar.
"Loh ko jadi kamu yang berperan sebagai istri" ucap oma.
"Zemira cepat ambilkan nasi dan lauk untuk Nizam" perintah oma.
"Oh, iya oma" jawab Zemira.
Zemira mulai menuruti perintah oma, Nizam tersenyum melihat ekspresi istrinya yang merasa canggung.
"Zemira!!" Panggil oma mengejutkan semua orang.
"I-iya oma, kenapa lagi?" tanya Zemira.
"Apa kamu tidak tahu? Nizam punya alergi sama kangkung" jawab oma.
"Apa Nizam asam urat oma?" tanya Zemira.
"Apa hanya orang asam urat saja yang tidak boleh makan kangkung?" balik tanya oma.
"Udah-udah ma lagian Zemira tidak sengaja juga kan" ucap paman Ahmed.
"Oma tuh buat Zemira engga nyaman, jadi tolong oma bersikap baik padanya" jawab Nizam.
__ADS_1
"Oma ragu apa benar gadis ini mencintai kamu seperti kamu mencintainya, sampai harus menentang oma" ucap oma.
"Maaf oma, mungkin kehadiran Zemira membuat semuanya berantakan. Zemira pamit dulu" jawab Zemira pamit.
"Tunggu sayang!" tahan Nizam memegang lengan tangannya.
"Nizam akan pergi makan berdua dengan Zemira, udangan akan segera dicetak dan disebar. Nizam harap oma bisa dateng memberi restu" ucap Nizam.
Nizam menggandeng tangan Zemira pergi dari ruang makan, keduanya pergi menaiki mobil milik Nizam.
"Maaf ya ka" ucap Zemira disela perjalanannya.
"Maaf untuk apa?" tanya Nizam.
"Aku tidak tahu apa-apa tentang kamu" jawab Zemira.
"Karena kamu perempuan yang cukup setia ketika sudah mencintai" ucap Nizam.
"Maksud ka dokter?" tanya Zemira merasa tidak mengerti arah tujuan ucapan Nizam.
Namun Nizam tidak menjawab dan hanya terdiam, Zemira terus berfikir.
"Kita mau makan dimana?" tanya Nizam.
"Nasi goreng" jawab Zemira tersenyum.
Nizam hanya membalas dengan senyuman, mobil perlahan berhenti diwarung nasi goreng pinggir jalan dekat dengan rumah sakit tempat Nizam bekerja.
"Nasi goreng pak satu porsi, pedes banget dan asin" ucap Nizam memesan nasi goreng.
"Seporsi aja?" tanya Zemira.
"Kenapa?" balik tanya Nizam.
Tidak lama saat menunggu nasi goreng selesai, Nabila dan Indah juga kebetulan ingin memesan nasi goreng juga.
"Loh dokter Adiyaksa" ucap Indah menyapa.
"Kalian beli nasi goreng juga" jawab Nizam.
"Silahkan dinikamti!" ucap bapak nasi goreng sembari meletakan sepiring nasi goreng.
"Jangan bilang, kalian makan satu piring berdua?" tanya Nabila terkejut.
"Mereka suami istri dok, jadi wajar aja kalau makan sepiring berdua" jawab Indah.
"Engga, engga boleh. Nizam engga bisa makan-makanan yang pedes" ucap Nabila.
Zemira terkejut dan langsung melirik kearah Nizam yang ada didepannya.
"Aku tidak akan makan nasi goreng yang ini, jadi kamu jangan khawatir" jawab Nizam.
"Kamu makan dulu, aku kerumah sakit sebentar" ucap Nizam menatap Zemira sembari tersenyum.
"Tunggu Zam!!" tahan Nabila.
"Aku ikut kamu" tambah Nabila.
Lalu Nabila dan Nizam pergi bersama meninggalkan Zemira dan Indah.
"Zee kamu baik-baik aja kan?" tanya Indah.
"Pak aku mau ini dibungkus aja" ucap Zemira.
__ADS_1
"Zemira kamu baik-baik aja kan?" tanya lagi Indah.
"Makasih pak" ucap Zemira setelah membayar nasi gorengnya.
"Tunggu Zee" tahan Indah memegang tangan Zemira.
"Aku baik-baik aja ka, kaka engga usah khawatir" ucap Zemira tersenyum jelas-jelas matanya yang berkaca-kaca.
"Aku akan minta Fadil antar kamu pulang" jawab Indah.
"It's ok, aku akan naik ojeg ka" ucap Zemira.
Zemira melepaskan pegangan tangan Indah ditangannya, lalu melangkah pergi meninggalkan warung nasi goreng menaiki ojeg.
Dan saat itulah Zemira mulai menumpahkan air matanya yang sedari tadi ia tahan agar tidak terjatuh.
"Mba kita mau pergi kemana?" tanya abang ojeg.
"Terserah masnya aja, anggap aja jalan-jalan sebentar" jawab Zemira.
Sekitar dua jam keliling tidak jelas dan Zemira merasa mengantuk akhirnya memutuskan untuk pulang kerumah abinya, padahal Nizam sudah berusaha mencari Zemira bahkan menelfon Zemira puluhan kali namun Zemira segaja mematikan ponselnya.
Setelah sampai dihalaman rumah, Zemira melihat mobil Nizam terparkir didepan bahakn Nizam menunggu didepan rumah.
"Makasih mas" ucap Zemira setelah menerima kembaliannya.
Zemira melangkah melewati Nizam begitu saja bahkan tanpa sepata katapun. Nizam segera menyusul Zemira dan menahan tangan Zemira.
"Tolong bersikap dewasa" ucap Nizam.
"Aku capek" jawab Zemira dengan mata sembabnya.
"Jangan berfikir aku menangis, aku mengantuk" lanjutnya.
"Kenapa kamu pergi tanpa seizin suami?" tanya Nizam.
"Pulang sana! Aku tidak mau oma semakin marah" jawab Zemira menepis tangan Nizam lalu melangkah masuk kedalam rumah.
Nizam mengikuti dari belakang.
"Ada yang mau nasi goreng?" tanya Zemira kepada adik beda ibu.
"Silahkan makan" lanjut Zemira meletakan bungkusannya diatas meja tamu.
Lalu langkah Zemira mulai menghampiri kamar, namun saat pintu kamar ditutup. Nizam menahannya dan melangkah masuk secara paksa lalu mengunci pintunya dan mengambil kuncinya.
"Apalagi ka?" tanya Zemira.
"Aku akan menginap disini" jawab Nizam mulai melepaskan jaket yang dia pakai.
Nizam juga membuka lemari mengambil celana pedek miliknya, Zemira melangkah masuk kekamar mandi dan menguncinya.
"Zemira apa yang kamu lakukan didalam" tanya Nizam menggedor pintu kamar mandi.
"Kamu akan tidur dikamar itu kan? Maka aku akan tidur dikamar mandi" jawab Zemira.
Nizam kesal dan memukul pintu kamar mandi dengan kasar.
"Aku akan pergi" ucap Nizam.
Nizam mengambil jaketnya lalu keluar dari kamar Zemira, setelah mendengar itu Zemira akhirnya keluar dari kamar mandi.
Zemira bergegas mengunci pintu kamarnya, dengan itu dia merasa aman karena Nizam tidak akan masuk kekamarnya.
__ADS_1
"Aku butuh waktu sendiri" ucap Zemira lalu tertidur.