Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-73 Keluarga Adiyaksa Nizam Ishara


__ADS_3

Sore itu, Nizam dan Zemira sedang duduk dihalaman depan menikmati angin sore yang menenangkan. Mobil datang entah siapa. Dua mobil sekaligus, ternyata keluarga Nizam datang menemui keluarga Zemira.


"Abang!!" panggil sosok wanita seunuran dengan Zemira.


Pelukkan erat keduanya bertemu bahkan sesekali Nizam menciumnya beberapa kali.


"Hai, kaka ipar" sapanya berganti ke Zemira.


Dan mendapat pelukan hangat, Zemira juga membalas dengan pelukan.


Ada oma, mama Hana, paman Ahmed, adik Nizam Zahwa namanya dan juga papa Nizam. Zemira langsung menyalami bergantian, bahkan kali ini oma sudah mau menyalami tangan Zemira.


Kedua keluarga bertemu dan berkumpul disatu ruang tamu yang cukup besar.


"Maafkan saya mas baru datang pas acara sudah selesai" ucap papa.


"Saya bisa mengerti dan faham, kalau semuanya begitu sangat mendadak" jawab abi.


"Dia siapa?" celetuk oma yang melihat sinis kearah ibu tiri Zemira yang berada disebelah abi.


"Istri saya oma" jawab abi.


"Loh bukannya ibunya Zemira sudah meninggal?" tanya oma lebih lanjut.


"Itu benar, dia ini ibu sambung Zemira" jelas abi.


"Dia hanya istri abi oma, engga kurang dan engga lebih. Apalagi jadi ibu Zemira, bunda Fatima tetaplah ibu untuk Zemira sampai kapan pun" jawab Zemira.


"Zemira! Tolong jaga sopan santunmu" perintah abi.


"Sayang" panggil Nizam lembut berusaha menenangkan.


"Mari dinikmati hidangannya" ucap paman Ahmed memisahkan perseteruan keduanya.


Semua ora terfokus pada hidangan dan mengalihkan pertengkaran abi dan Zemira. Zemira pergi dari perkumpulan masuk kedalam kamar, Nizam melihatnya langsung mengikuti.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Nizam dari arah belakang Zemira.


Zemira masih tetap memunggungi Nizam, lalu Nizam menghampiri Zemira dan menghadapkan Zemira dihadapannya.


"Kamu menangis?" tanya Nizam mendonggokkan kepala Zemira kearahnya.


"Aku butuh sendiri ka" jawab Zemira memalingkan wajahnya dan menyeka air matanya.


"Kenapa? Kamu bisa cerita sama aku, apapun masalahmu itu akan jadi masalahku juga" ucap Nizam menenangkan.


"Seharusnya kakak tidak pernah menikahi wanita yang terlahir dikeluarga ini" ujar Zemira masih memunggungi Nizam.

__ADS_1


"Ada luka yang aku sendiri aja engga tau akan hilang atau tidak" lanjut Zemira.


"Setiap luka pasti akan membekas sayang, cara terbaik untuk mengobatinya dengan memaafkan" jawab Nizam memeluk Zemira dari belakang.


"Kakak engga pernah tau betapa beratnya perjuangan aku berada dititik ini, lalu wanita itu tiba-tiba datang kembali dan ikut menumpang disini. Setelah semuanya terjadi" ucap Zemira.


Pelukan Nizam semakin erat berusaha menenangkan Zemira yang terus menangis perlahan tangisnya memudar dan tubuhnya mulai capek karena menangis.


"Bawa aku pergi dari sini ka!" pinta Zemira diakhir tangisnya.


"Jangan katakan hal itu sayang, aku tidak bisa menjauhkanmu dengan abi" ujar Nizam.


"Kamu sekarang punya hak atas diriku" jawab Zemira.


Nizam tidak lagi menjawab, lalu Nizam membopong Zemira menidurkannya ditempat tidur.


"Kamu istirahat, aku keluar sebentar" ucap Nizam mengelus lembut kepala Zemira.


Nizam kembali berkumpul dengan kelurganya mereka semua asik bercerita tapi tidak dengan oma ada rasa tidak nyaman berbaur dengan keluarga Zemira. Nizam hanya menarik nafas melihat oma.


"Oma baik-baik aja kan?" tanya Nizam duduk disebelah oma.


"Oma sangat tidak baik, kenapa kamu harus menikahi wanita itu" jawab oma.


Kring..


💌 Dok. Kevin


Zam gila luh ya, Zahwa balik luh engga kasih kabar gue.


"Yang satu ini lagi" ucap Nizam setelah melihat pesan Kevin.


"Zah, sini!" panggil Nizam.


"Kenapa bang?" sahut Zahwa adik Nizam.


"Kamu kasih tau Kevin ada disini?" bisak Nizam bertanya.


"Engga, aku cuma bikin status aja tadi pas diperjalanan" jawab Zahwa.


"Feelingnya kuat banget sih tuh cowo" ucap Nizam.


"Abang engga usah ya dipihak dia, apalagi ampe nemu-nemuin dia sama aku. Aku engga mau" tolak Zahwa karena tahu tujuan Nizam terhadapnya.


"Kenapa sih de kamu engga terima aja dia" saran Nizam.


"Bukannya aku nolak dia bang, cuman aku engga bisa sama dia aja" jawab Zahwa.

__ADS_1


"Sama aja" ujar Nizam.


"Kakak ipar mana bang? Kayanya tadi dia marah ya" tanya Zahwa penasaran.


"Dia lagi istirahat, sana geh kamu temenin" jawab nizam.


"Kamarnya dimana bang" ucap Zahwa.


Nizam menunjukkan kamarnya lalu Zahwa beranjak dari tempatnya berada menuju kamar Zemira dan Nizam.


Krekk..


"Kakak ipar" panggil Zahwa pelan sembari membuka pintu.


"Pantas aja engga nyahut taunya tidur" ucap Zahwa.


Zahwa mulai melihat-meliha sekeliling kamar dan melihat beberapa buku dan foto yang berada dimeja kerja keduanya. Bahkan foto saat resepsi Zahwa melihatnya dengan senyum dan terhenti oleh satu foto yang membuat matanya terfokus untuk melihatnya.


"Aku seneng kamu baik-baik aja" ucapnya lirih.


"Kamu siapa?" tanya Zemira yang tiba-tiba bangun.


"Aahh?" shut Zahwa terkejut langsung mengembalikan fotonya.


"Oh kamu, adiknya dokter Nizam ya?" tanya Zemira.


"Eemm" jawab Zahwa mengangguk lalu mendekat menghampiri Zemira.


"Are you ok?" tanya Zahwa.


"Iya, aku baik-baik aja" jawab Zemira.


"Kamu ngapain ke sini?" tambah Zemira.


"Aku mau ngakrabi diri sama kakak ipar" jawab Zahwa.


"Kamu manis, cantik, baik masyaallah deh pokonya" puji Zemira pada Zahwa.


"Masyaallah, alhamdulillah. Ka Zemira juga ternyata aslinya lebih-lebih cantik dari fotonya" puji balik Zahwa.


Keduanya tertawa bersama saling menukar cerita satu sama lain.


"Oh ya ka, ka Zemira tau engga. Abang pernah loh kirimin foto kakak waktu tidur dan abang bilang itu wajah tercantik kaka dari semua ekspresi wajah kakak" cerita Zahwa lalu memunjukkan fotonya.


"Aahh aku jadi malu seharusnya itu privasi, kenapa kakak kamu kirim ke kamu aku kan jadi malu" ucap Zemira menutupi sebagian wajahnya dengan selimut lalu keduanya tertawa.


"Tapi bener loh ka. Kakak cantik kalau pas tidur gitu" jawab Zahwa.

__ADS_1


Cerita keduanya terus berlanjut sampai pada akhirnya menjadi teman baik.


__ADS_2