
Dirumah sakit saat jam makan siang.
"Sayang kita makan siang bareng yuh" ajak Fadil tersenyum manis dihadapan Indah kekasihnya.
"Iya boleh, tungguin didepan ya aku kelarin bentar kerjaan aku sedikit lagi" jawab Indah membalas dengan senyuman lebih manis lagi.
Fadil menunggu Indah didepan igd berkumpul dan berbincang dengan beberapa patner kerjanya, tidak lama kemudian Indah datang menghampiri Fadil tetapi tidak sendiri bersama dengan kedua temannya.
"Sayang Farah sama Chika mau ikut makan siang bareng kita, engga papa ya" ucap Indah yang baru datang sambil menggandeng lengan Fadil.
"Oh iya engga papa selow aja" jawab Fadil membalas dengan senyuman.
"Kita mau makan dimana?" tanya Chika.
"Rumah makan didepan" jawab Fadil sambil menatap kearah Indah yang ada disebelahnya.
"Apa engga ada tempat lain?" tanya Indah spontan melepaskan tangannya.
"Kenapa emangnya kalau dirumah makan depan sayang?" jawab Fadil malah bertanya balik.
"Udah tau ada perempuan itu Dil" ucap Farah.
"Tau Fadil engga peka sama Indah" lanjut Chika.
"Dia Zemira namanya" bela Fadil.
"Sayang engga ada masalah dong kalau harus bertemu Zemira biar sekalian kamu kenalan sama dia ya" bujuk Fadil pada Indah.
"Yaudah kali ini aku mau, tapi kalau Zemira nyebelin aku engga mau ketemu dia lagi apalagi kalau berniat mencuri kamu dari aku" jawab Indah akhirnya menurut.
Fadil membalas dengan senyuman lalu menggandeng tangan Indah menyebrang jalan raya menuju rumah makan didepan, setelah duduk dibeberapa kursi dan meja yang kosong. Zemira menghampiri meja mereka untuk menanyakan pesanan mereka.
"Hai Zee" sapa Fadil.
Zemira hanya tersenyum, dan terlihat kecurigaan diwajah Indah.
"Hai ka Indah senang bisa berjumpa, sebelumnya hanya sekedar melihat tidak bisa memberikan sapaan satu sama lain" sapa Zemira menatap Indah dengan senyuman yang ada disebelah Fadil.
Indah hanya membalas dengan senyuman tipis dan bahkan Chika dan Farah setelah ini pasti punya bahan gosip.
"Mau pesan apa?" tanya Zemira dengan berusaha tersenyum dan sekaligus baik-baik saja.
__ADS_1
Zemira lupa akan perasaan dan hatinya, dia lebih mengizinkan dirinya yang terluka ketimbang melukai wanita lain.
Setelah Zemira sudah mencatat semua pesanan mereka, Zemira kembali untuk membuat minuman pesanan mereka.
"Cantik ya mba pacarnya Fadil" ucap Selina dengan senyum menyidir sekaligus mengompori.
"Iya memang cantik, ka Fadil beruntung mendapatkan wanita sebaik itu dan ka Indah juga beruntung mendapatkan ka Fadil" jawab Zemira membalas senyumannya lalu mengabaikan Selina yang masih terhantam oleh ucapan Zemira.
"Kaya bakal ada perang dingin nih tiga perempuan sekaligus" bisik Helena.
"Bukan tiga wanita tapi dua, aku udah engga termasuk bagian dari wanita yang mencintai laki-laki itu. Justru aku adalah orang yang berhenti mencintai laki-laki itu" jawab Zemira.
"Ciyah elah bisa aja jawabnya, penulis syair" ucap Helena tertawa.
"Aamiin.. do'ain biar jadi penulis terkenal deh" jawab Zemira yang ikut tertawa.
Namun tidak dengan Selina, dia kesal karena ternyata umpan yang dia berikan pada Zemira menjadi bumerang untuk dirinya terlebih lagi untuk perasaannya.
Zemira mengantarkan pesanan minum meja Fadil, lalu Zemira tidak sengaja menumpahkan jus dibaju milik seorang yang baru datang dari arah pintu masuk.
"Maaf, maaf aku engga sengaja" ucap Zemira mencoba membersihkan dengan kedua tangannya.
"Engga papa ko" jawab orang itu.
Zemira menatap wajah orang itu yang lebih tinggi darinya bahkan Zemira hanya sedada orang itu sehingga Zemira harus sedikit mendongokkan kepalanya utuk bisa melihat orang itu. Setelah pandangan keduanya bertemu dan Zemira sadar yang dia tabrak seorang laki-laki, dia segera memberikan jarak dengan orang itu dan mengalihkan pengelihatannya.
"Maaf lagi" ucap Zemira menyesal.
"Kamu engga papa Ze" tanya Fadil khawatir.
"Engga papa ko, tadi bajunya gimana?" jawab Zemira menyesal.
"Engga papa ko santai aja" jawab orang itu.
"Dokter!" panggil seseorang dari meja dua belas dekat rolling door.
Orang itu mengangkat tangannya dan pergi melangkah kearah orang yang baru saja memanggilnya.
"Fadil dia dokter?" bisik Zemira melirik punggung laki-laki yang baru saja dia tabrak.
"Kamu tenang aja lagian dia engga keliatan marah ko, udah sana kerja lagi" ucap Fadil.
__ADS_1
"Udah sana kamu juga balik ke meja kamu, liat tuh Indah ngeliatin aja dari tadi" jawab Zemira.
"Ok" ucap Fadil melangkah kembali.
Zemira melanjutkan pekerjaannya, walaupun perasaannya bercampur aduk karena ada rasa sedih, sakit hati, dan juga merasa bersalah dengan sosok laki-laki yang baru saja dia tumpahi minum.
"Engga papa kan Ze?" tanya Helena.
"Iya engga papa Hel, dianya baik banget" jawab Zemira.
"Terus kamu kenapa sedih? karena Fadil ya" tanya Helena mualai memberikan perhatiannya.
"Bukan karena itu Hel, aku engga enak aja sama laki-laki bajunya jadi kotor sekaligus lengket pasti. Aaahhh.. gimana dong harusnya aku kan tangung jawab" jawab Zemira merasa tidak enak.
"Yaudah sih itu berarti, dia laki-laki yang sangat berhati lembut. laki-laki kaya dia itu limited edition didunia" ucap Helena.
"Iya kamu bener, aku berharap aku bisa nyuciin baju dia seenggannya aku bisa menebus rasa bersalahku" jawab Zemira.
"Aamiin.. semoga qobul ya" ucap Helena.
Hujan turun deras secara tiba-tiba, suasana menjadi dingin. Zemira memberanikan mengahmpiri Fadil yang sedang menunggu hujan redah.
"Ka Fadil bisa tukeran" ucap Zemira sambil memberikan dua payung.
"Maksud kamu?" tanya Fadil tidak mengerti.
"Aku pinjam jaket kamu, kamu bisa pinjam payung ini" jawab Zemira.
"Kamu apa-apaan sih" ucap Indah marah.
"Sayang, Zemira pinjam jaket aku buat laki-laki itu yang baru aja dia tumpahin jus" jelas Fadil.
Fadil melepaskan jaketnya dan memberikan pada Zemira, segera Zemira menghampiri meja dua belas meja dimana laki-laki itu berada.
"Ganti bajunya dan pakai ini" ucap Zemira memotong percakapan keduanya sambil menyodorkan jaket milik Fadil.
"Terimakasih" jawab orang itu.
Zemira langsung pergi, Fadil dan Indah sudah kembalik ke rumah sakit untuk berkerja dan Zemira juga melanjutkan pekerjaannya.
"Setidaknya aku lega sudah menebus rasa bersalahku sama laki-laki itu" ucap lirih Zemira pada dirinya dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
Zemira adalah sosok wanita yang sangat menjaga perasaan orang lain sekalipun perasaannya sendiri diabaikan dan tidak pernah difikirkan. Sekali mencintai sesuatu dia akan tulus mejalaninya, seperti cintanya pada Fadil yang tulus tidak pernah menuntu Tuhan agar Fadil menjadi miliknya justru Zemira berdoa'a agar Fadil dan Indah segera dijadikan pasangan yang halal bahagia dunia akhir. Do'a yang setiap kali terbesit dihatinya ketika melihat Fadil dan Indah bersama, sekalipu melukai perasaannya.