Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-36 Teman


__ADS_3

Keduanya masih terfokus pada makanan masing-masing, suasanya menjadi cangung untuk keduanya apa lagi kalimat Fadil didengar oleh kakak Zemira langsung.


"Ze kalau udah nanti tolong cuci sisa piringnya ya" pesan kakak perempuan pada adiknya lalu pergi.


"Iya ka" jawab Zemira.


"Ka Fadil" panggil Zemira.


"Hem?" tanya Fadil.


"Zemira mau ketemu ka Indah, aku rasa perlu ngobrol dengan ka Indah" jawab Zemira.


"Untuk apa Ze?" tanya Fadil.


"Untuk menuntaskan rasa sakit yang sempat tertinggal, kamu tau ka. Aku terluka ketika kamu dikabarkan menjalin cinta dengan wanita lain" jawab Zemira.


"Zee, aku minta maaf" ucap Fadil yang kini badannya menghadap Zemira.


"Jangan lakukan ini ka, dan jangan tatap aku. Mulai sekarang menjauhlah dan tolong izinkan aku ngobrol dengan ka Indah" jawab Zemira yang tidak membalas tatapan Fadil yang tulus padanya.


"Andai aku bisa mengembalikan waktu Zee, aku pengen mencoba mencintai kamu" ucap Fadil yang masih terus menatap Zemira.


"Cinta itu terlahir ka bukan dilahirkan, semua tergantung pada setiap orang masing-masing. Cinta ka Fadil sama ka Indah itu terlahir, sedang cinta kakak ke Zemira itu dilahirkan karena beberapa hal. Mungkin karena kakak liat Zemira dengan tulus menyukai kakak, atau karena kakak kasian sama Zemira" jelas Zemira.


"Aku yakin sudah waktunya tiba, aku ingin mencintaimu" ucap Fadil.


"Dan jika waktunya tiba izinkan aku membencimu ka" jawab Zemira yang kini memberanikan diri menatap Fadil dengan mata yang berkaca-kaca.


"Zemira udah selesai makan, kakak bisa pulang sekarang. Dan hati-hati" lanjut Zemira sembari bangkit dari duduknya dan meletakan piring kotornya diwastafel.


Fadil hanya diam mematung melihat Zemira menjauh darinya, perasaan yang rumit dialami keduanya.


Abi dan paman Ahmed melihat Zemira masuk kedalam kamar miliknya, lalu tidak lama mucul Fadil mendeket kearah abi dan paman.


"Abi, paman Fadil pamit pulang dulu. Dan makasih untuk makan malamnya" ucap Fadil tersenyum.


"Hati-hati dan salam untuk bapak" jawab abi.


"Assalamu'alaikum" salam Fadil sembari mencium pungung tangan abi dan paman Ahmed bergantian.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam" jawab keduanya bersamaan.


Fadil pergi meninggalkan rumah Zemira, sedangkan Zemira menangis didalam kamarnya.


Keesokan harinya..


Zemira sudah bersiap, bahkan semua keluarga sudah bersiap untuk pergi keacara pernikaha Milla sahabat sekaligus sepupu Zemira.


"Zemira" teriak Anne dari arah belakang.


"Apaan sih berisik tau" jawab Zemira.


"Ada kabar baik" ucap Anne.


"Kabar apaan? udah hayo berangkat keluargaku udah pada ke mobil semua" jawab Zemira.


"Nanti dulu, aku mau kasih tau sesuatu. Dan kamu adalah orang pertama yang akan aku kasih tau" ucap Anne.


"Kabar apaan sih? sampe excited gitu" tanya Zemira.


"Afriyana siap buat ngelamar aku" jawab Anne terharu.


"Ko oh doang sih, temennya seneng ko kamu kaya engga seneng gitu" jawab Anne sedikit manyun.


"Bukan gitu, aku seneng ko happy banget akhirnya kalian berdua segera menyempurnakan separoh agama kalian. Tapi aku sedih karena cuma aku yang jomblo, huaahhh" ucap Zemira sedikit mewek.


Anne tertawa puas melihat Zemira, keduanya berpelukan. Ternyata Zemira mengkhawatirkan pasangan yang akan menjalani hidup bersamanya, yang sebelumnya tidak pernah ia fikirkan.


Akad dimulai dengan hidmat, suasana menjadi haru dan bahagia setelah kaliamat sah saling bershutan. Air mata menetes yang tanpa bisa dikendalikan oleh Anne dan Zemira yang menyaksikan.


"Milla selamat yaa" ucap Zemira dan Anne yang kini keduanya memeluk mempelai wanita.


"Pesan buat kang Heri, jangan sia-siakan Milla" tambah Anne.


"Awas aja kalau buat Milla nangis, hadapin aku" lanjut Zemira.


"Kalian tenang aja, aku tidak akan sanggup menyakiti wanita yang paling aku cintai setelah ibuku" jawab Heri membuat Milla dan Anne merasa baper tapi tidak untuk Zemira.


"Lebay!!" balas Zemira.

__ADS_1


"Yaelah maklum aja kali ye, kamu kan Zee engga pernah ngebucin" ucap Milla.


"Betull setuju" tambah Anne.


"Ngebucinya nanti deh kalau udah punya suami" jawab Zemira.


Ketiga tertawa bersama dan penuh dengan keceriaan yang tergambar pada wajah mereka, sekiranya membuat Zemira lupa sebentar akan luka itu.


Ba'da isya, Zemira sudah berada dirumah tadi sore dan sekarang baru selesai sholat jama'ah ditambah mengaji sebentar.


"Permisi" ucap seseorang diambang pintung yang terbuka lebar.


Zemira yang baru saja masuk kamar mendengar suara itu lalu keluar kembali yang masih masih mengenakan mukenah. Karena kebetulan kamarnya didepan dan dekat pintu utama.


"Ka Indah?" ucap Zemira melihat sosok yang berdiri diambang pintu itu.


Indah hanya tersenyum setelah melihat Zemira, dengan ragu langkah Zemira mendekat.


"Masuk ka, silahkan duduk dulu. Zemira ambil air dulu sebentar" Zemira mempersilahkan.


"Zemira aku kesini mau minta maaf" ucap Indah langsung pada intinya.


"Kakak relex dulu ya, aku ambil air dulu sebentar" jawab Zemira mengambil air dan sedikit makanan ringan.


"Ka Indah aku udah maafin kakak ko jadi engga usah difikirkan, kakak kesini pasti karena dipaksa ka Fadil ya?" tanya Zemira.


"Sama sekali engga Ze, aku kesini karena sebenernya udah dari kemaren aku mau kesini tapi aku gengsi. Dan akhirnya aku putusin buat dateng, saat itu juga Fadil marah sama aku dan diemin aku, terus aku nanya ke dia alamat rumah kamu. Karena kamu engga masuk kerja jadi aku ngeberaniin diri buat kesini" jelas Indah.


Zemira tidak menjawab, lalu langsung memeluk Indah dengan hangat.


"Pada dasarnya semua wanita itu tidak ingin saling menyakiti satu sama lagi" ucap Zemira tersenyum lega.


"Besok ka Indah libur engga? kalau sempet Zemira mau ajak kakak ketemu Ibu, emm maksud aku Ibunya ka Fadil" tambah Zemira.


"Mau banget, kayanya kamu sama Ibunya Fadil akrab banget ya" tanya Indah.


"Aku udah anggep Ibu aku sendiri ka, jadi ka Fadil itu udah kaya abang aku. Sekarang kita berteman" jawab Zemira mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Teman" ucap Indah meraih tangan Zemira.

__ADS_1


Zemira tidak pernah ingin menyakiti siapapun, sekalipun ada yang tersakiti karena sungguh memang ia tidak sengaja menyakitinya. Namun positif yang selalu dia fikirkan didalam otaknya, tentang hal baik pasti akan selalu terjadi disetiap hal yang tidak baik.


__ADS_2