Izinkan Aku Membencimu

Izinkan Aku Membencimu
Part-59 Tamparan Abi


__ADS_3

Abi dan keluarga Zemira sampai dirumah lalu disambut oleh Zemira yang berada diambang pintu rumah, semua anggota masuk lalu tiba-tiba wanita asing yang ikut masuk kedalam rumah dan dua anak remaja seumuran Pratama juga ikut masuk.


"Kenapa abi bawa perempuan itu?" tanya Zemira dengan nada marah melihat kearah wanita itu.


"Zezee" tahan mbanya pada Zemira yang ingin melangkah mendekat kearah wanita itu.


"Apa abi lupa sama apa yang dilakukan wanita itu sama abi" ucap Zemira semakin emosi.


"Ini keputusan abi" jawab abi tegas.


"Abi lupa kalau rumah ini" ucap Zemira semakin ingin melangkah menghampiri wanita itu.


"Tolong kamu lebih sopan kepada orang tua, bagaimana pun dia tetap orang tua" jawab abi.


"Pergi kamu dari sini!! Apa kalian engga punya malu nginjekin kaki dirumah aku" ucap Zemira.


Plak..


Tamparan abi dipipi Zemira mendarat dengan begitu cepat, perlahan air mata Zemira jatuh bergantian.


Zemira segera melangkah kearah kamar dan mengambil tas miliknya lalu pergi begitu saja tanpa jawaban sepata kata apapun.


"Ze kamu mau kemana?" tanya mba perempuan Zemira.


"Udah kamu disini aja" ucap istri abang Hasan menahan Zemira.


Namun Zemira langsung menepis semua yang berusaha menahannya untuk tidak pergi, Zemira pergi menaiki sepeda miliknya.


Beberapa menit kemudian Fadil datang kerumah Zemira.


"Assalamu'alaikum" salam Fadil.


"Wa'alaikumussalam" sahut semua orang.


"Masuk Dil" ucap abang Hasan.


Fadil menyalami semua orang disana sekaligus dengan wanita yang membuat Zemira pergi dari rumah, meskipun hati Fadil bertanya-tanya.


"Kamu mau nyari Zemira ya?" tanya istri abang Hasan.


"Dia baru aja pergi Dil" tambah abang Hasan.


"Sebenernya Fadil kesini mau minta maaf sama abi dan Zemira soal waktu itu, bapak dan ibu sebenernya juga mau ikut tadi. Tapi ada kesibukan lain makanya hanya Fadil yang kesini" jelas Fadil.


"Abi sudah maafkan, salam untuk bapak dan ibu" jawab abi tersenyum lalu melangkah pergi bersama wanita itu dan kedua anaknya menuju kamar tamu.


"Susul Zemira sana Dil" ucap abang Hasan.


"Kayanya dia ada ditaman deket danau masih komplek sini" tambah istri abang Hasan.


"Kalau gitu Fadil pergi dulu, permisi" jawab Fadil langsung bergegas pergi.


Zemira berhenti ditaman yang waktu itu pernah ngobrol dengan Fadil, kebetulan taman itu memang sedang sepih kalau hari biasa bukan hari minggu.


Zemira menangis melampiaskan kekesalannya, tidak lama kemudian suara motor berhenti didekat taman lebih tepatnya bersebelahan dengan sepada miliknya.


"Ka Fadil" panggil Zemira setelah melihat Fadil.


Fadil segera mendekat kearah Zemira dan duduk disebelah Zemira, keduanya langsung berpelukan.

__ADS_1


"Kamu kenapa Zee?" tanya Fadil berusaha menenangkan Zemira yang masih menangis.


Semakian erat pelukan Zemira pada Fadil, bahkan Fadil menikmati pelukkannya layaknya seorang kakak namun tidak dengan Zemira jantungnya berdegup kencang. Rasannya sama seperti awal saat jatuh cinta dengan sosok Fadil didalam hidupnya.


"Maaf ka" ucap Zemira segera melepaskan pelukkannya dan mengusap air matanya.


"Engga papa Zee, aku seneng karena kamu bisa nangis dipelukkan aku" jawab Fadil tersenyum.


"Ka Fadil ko bisa disini" tanya Zemira.


"Tadi aku habis dari rumah kamu" jawab Fadil.


"Jadi ka Fadil tau soal.." ucap Zemira terputus.


"Lupain ka" lanjut Zemira.


"Pintu rumah Ibu selalu terbuka buat kamu Zee" ucap Fadil.


"Aku tidak ingin masuk ka, kalau harus keluar secara paksa" jawab Zemira.


"Kamu tahu, aku datang ingin menemui abi kamu mewakili ibu dan bapak meminta maaf agar hubungan keluarga kita baik-baik saja. Karena ibu aku rindu sama kamu" jelas Fadil.


"Aku harap ka Fadil menjauh dari aku" tambah Zemira sembari menatap kearah danau.


"Kenapa kita harus menjauh, selagi semuanya bisa baik-baik saja" tanya Fadil.


"Terlihat baik-baik saja belum tentu baik-baik saja ka, Zemira harap kita bisa menjaga batasan kita masing-masing" ucap Zemira.


"Kenapa?" tanya Fadil.


"Kamu takut kalau dokter Nizam akan marah?" lanjut Fadil.


"Hati mana yang harus kamu jaga?" tanya Fadil.


"Hati dokter Nizam?" lanjutnya.


"Atau hati Indah?" tambahnya.


"Apa kamu pernah berfikir tentang hati kamu sendiri?" ucap Fadil semakin kesal.


"Aku tanya sekali aja sama kamu, jawab dengan jujur. Apa kamu mencintai dokter Nizam?" tanya Fadil serius.


"Apa jawaban aku akan mengubah semuanya?" tanya balik Zemira.


Fadil terdiam dengan pertanyaan Zemira, perasaan yang sulit mereka jelaskan namun rasa itu nyata ada dihati keduanya.


"Jangan tanya soal rasa ka, kalau kita sama-sama tidak memiliki jawabannya" ucap Zemira.


"Apa seterlambat ini sampai kamu tidak dibolehkan untuk jujur tentang perasaanmu?" tanya Fadil.


"Biarkan jujur ini hanya untuk diriku ka, semuannya tidak akan ada yang berubah. Bahwa kamu memang bukan untuk aku" jawab Zemira.


"Berbahagialah atas pernikahan kakak besok" lanjut Zemira.


Zemira bangit dari duduknya lalu melangkah pergi untuk bekerja.


Selang beberapa jam sekitar jam empat sore, Nizam sempatkan mampir ditempat kerja Zemira.


"Mau pesan apa mas?" tanya Selina.

__ADS_1


"Maaf, saya mau ketemu Zemira" jawab Nizam.


"Oh, itu dia ka Zemiranya" ucap Selina menunjuk kearah belakang Nizam karena Zemira baru saja masuk kedalam warung.


"Loh ko.." Zemira kaget karena kehadiran Nizam karena takut ketahuan kalau Zemira menikah tanpa memberi tahu.


"Kita perlu ngomong" ucap Nizam lalu melangkah kearah meja nomer tujuh dan duduk.


"Itu siapa mba?" tanya Selina berbisik.


"Iya Zee dia siapa sih, ko ganteng banget" lanjut Helena.


"Kayanya engga asin mukanya" tambah mba Windah.


"Dia anaknya temen abi, iya anaknya temennya abi" jawab Zemira.


Zemira terpaksa bohong karena tidak ingin semua temannya kecewa karean dirinya menikah secara diam-diam tanpa mengundang mereka, langkah Zemira mendekat kearah Nizam dan duduk didepannya.


"Ka dokter kenapa kesini?" tanya Zemira hati-hati.


"Semua temen aku kan engga ada yang tau" lanjutnya.


"Kamu bisa jelasin ini?" tanya Nizam yang tiba-tiba menodongkan ponsel miliknya lalu menujukkan sebuah video Fadil dan Zemira ditaman saat berpelukan.


"Hah? siapa yang ambil video ini?" tanya Zemira.


"Engga penting siapa yang ambil video ini, yang penting adalah penjelasan kamu" jawab Nizam.


"Aku udah banyak masalah ka, jadi tolong jangan tambah lagi masalahnya. Aku lelah" ucap Zemira.


"Kamu fikir suami mana yang rela melihat istrinya berpelukkan dengan laki-laki lain, dan terlihat divideo itu kamu menikmatinya bahkan dengan Fadil juga" jawab Nizam marah bahwa semua orang melihat kearah keduanya bahkan dengan semua patner kerja Zemira juga.


"Kita bisa obrolin dirumah, engga perlu disini" ucap Zemira.


"Kamu lebih nyaman sama Fadil kan?" tanya Nizam.


"Jawab aja jujur" lanjutnya.


"Apa kamu mau aku turuti keinginan oma" tambah Nizam.


"Aku bener-bener lelah ka, aku capek berantem" keluh Zemira.


"Pernikahan harus dimulai saling percaya, kalau kakak lebih percaya sama orang yang ngerekam video itu ketimbang sama istri kakak sendiri. Apakah pernikahan akan tetap baik-baik saja, aku rasa tidak akan baik-baik saja" lanjut Zemira.


Tiba-tiba dokter Kevin dan dokter Nabila dateng mengjampiri Nizam dan Zemira yang sedang berseteru.


"Zam sorry aku engga ada maksud buat kamu sama Zemira jadi berantem kaya gini" ucap Nabila.


"O-oh, jadi dokter Nabila yang ngevideoin aku?" tanya Zemira.


"Aku engga ada maksud apa-apa Ze, tadinya aku cuma mau nanya bukannya Fadil itu calon suamo suster Indah" jelas Nabila.


"Sekarang aku faham ka, percaya kamu ke mantan pacar kamu lebih kuat ya ketimbang sama istri kamu sendiri" ucap Zemira.


"Silahkan kalian semua pergi, aku harus bekerja" lanjut Zemira.


Zemira bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi kekamar mandi, dia meluahkan semuanya dengan menangis.


Sedangkan Nizam, Nabila dan Kevin pergi dari tempat kerja Zemira, sekarang semua orang tahu kalau Zemira menikah dengan dokter Adiyaksa secara sirih bahkan tersebar begitu cepat meluas sampai dirumah sakit staf dan karyawan.

__ADS_1


__ADS_2