
Saat Liam melihat Renata berbalik, Liam merasa Renata sudah menolaknya. Liam pun berbalik badan menatap danau tersebut. Dengan seutas senyum kecewa.
Baru beberapa saat ia berbalik. Tiba-tiba Liam di kejutkan dengan pelukan seorang. Liam menoleh dengan perasaan berdebar. Benar saja, itu adalah Renata yang tengah memeluknya dengan senyuman yang merekah. Liam tersenyum melihat reaksi Renata, Renata tidak menolaknya. Renata menerimanya sebagai seorang kekasih. Liam sangat senang sekali.
Mereka tidak perduli lagi sekarang dengan tatapan kaget Miko, Robert dan Lusi. Yang jelas sekarang mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Dan mereka tidak peduli dengan yang lainnya untuk saat ini.
"Apa yang terjadi?" tanya Robert masih bingung.
"Kayaknya kita ngelewatin sesuatu yang penting," seru Miko masih bengong.
"Baru di tinggal bentar, mereka udah jadian aja," tambah Lusi.
Tapi mereka bertiga ikut bahagia menyaksikan kebahagiaan Liam dan Renata saat ini. Terlihat jelas tatapan hangat penuh cinta dari keduanya.
Liam menatap hangat Renata, begitu pula Renata.
"Aku pikir kamu nolak aku tadi," ucap Liam.
"Tadinya maunya gitu, tapi kalo aku tolak kamu, masak iya, aku harus sama mas Arman," ledek Renata.
"Jangan bandingin aku sama dia," ucap Liam tidak terima dengan menautkan kedua alisnya. Lalu mereka tertawa.
__ADS_1
Sedangkan 3 sekawan yang sadari tadi memperhatikan mereka masih menatap bingung dan dengan tampang plongak-plongok.
"Kalian habis kesurupan di mana?" tanya Robert.
Liam hanya tersenyum seraya melepas pelukannya pada Renata. Sedangkan Renata tidak bereaksi apapun. Dia langsung menyeret Liam untuk berjalan sambil bergandengan tangan melewati ketiga temannya. Liam yang tengah di seret Renata hanya dapat melambaikan tangannya pada 3 konconya dengan senyum usil yang bahagia, sedangkan ketiganya masih terlihat bingung hanya mematung di posisi mereka dengan pandangan mata yang mengekori 2 sejoli yang tengah di mabuk cinta itu?.
"Udah lah, yang penting dia nggak nangis lagi," ucap Lusi seraya menepuk bahu tambun Miko, lalu mengikuti langkah Liam dan Renata yang sudah berjalan di depan mereka sambil bergandengan tangan.
Mereka menghabiskan waktu bersama hari itu dengan gembira. Renata pun bisa melupakan luka nya sekarang. Renata dan Liam benar-benar bersikap seolah dunia milik berdua, itu terlihat bagaimana mereka mengabaikan ke 3 sahabatnya, malah sibuk berdua bercanda dan tertawa. Sampai di tempat mereka makan pun mereka masih sibuk berdua.
"Kayak gini nih kalo nggak pernah pacaran tiba-tiba punya pacar," rutuk Lusi.
"Biarin aja, yang penting kita bisa makan sampe kenyang. Mumpung mereka lagi nggak sadar diri, kita pesan aja sampe kenyang," ucap Robert sambil terus makan. Sedangkan Miko sudah lupa segala-galanya saat berhadapan dengan makanan.
"Gue bayar segitu, lebihnya kalian yang bayar." ucap Liam berlalu seraya menggandeng Renata.
"Lah kok gitu, ini gimana?" tanya Miko panik.
"Kalian lah yang bayar sisanya. Siapa suruh makan kayak kesetanan gitu," ucap Liam seraya terus berlalu. Dengan berat hati mereka bertiga pun terpaksa harus patungan untuk membayar sisanya.
"Lo bilang dia nggak akan nyadar tadi, kalo tau kek gini mending gue makan secukupnya aja deh," rutuk Robert kesal seraya mengeluarkan dompetnya. Miko hanya bisa garuk-garuk kepala melihat bill nya yang sangat banyak itu. Walau Liam sudah membayar sebagian besar tetap saja jumlah sisanya masih banyak.
__ADS_1
Selesai membayar, mereka pun pulang. Sesampai rumah mereka sudah di tunggui Arman yang tengah duduk di kursi teras. Liam mulai merasa tidak enak, Renata segera merangkul lengan Liam dengan agak bersembunyi.
"Mau apa lagi?" tanya Liam kesal pada Arman.
"Mau nemuin calon istriku. Dia tetap calon istriku sesuai perjanjian keluarga kita di kampung. Semua orang di kampung juga sudah tau itu," seru Arman dengan tatapan yang terus melirik pada Renata. Renata tampaj terus bersembunyi di balik tubuh Liam.
"Jangan ngawur, kalo mabok mending pulang, jangan di sini," ucap Liam mulai kesal.
"Ibukku di kampung sudah habis banyak buat keluarga kamu, Re. Adikmu Rio pun sering di biayain sama keluargaku. Kamu nggak bisa ngelak lagi. Dan jangan sentuh laki-laki lain seperti itu, Re. Kamu itu calon istriku," ucap Arman yang mulai tampak kehilangan akal sehatnya dan akan menarik Renata, dan segera di tahan oleh Liam.
"Jangan sentuh dia, nggak liat dia takut. Kalo kamu memang laki-laki baik, jangan pernah memaksa kehendak kamu kayak gini," ucap Liam seraya menahan tangan Arman dengan cengkraman yang kuat. Arman menatap Renata yang tengah menangis di balik punggung Liam. Sesaat dia tersadar.
Dia tidak mungkin membuat Renata menerima nya, jika Renata ketakutan dengannya begitu.
"Maaf, Re. Mas nggak bermaksud buat kamu nangis. Mas cuman nggak mau, kamu di sakitin sama laki-laki. Mas jagain kamu selama ini tulus. Hanya saja saat ada orang lain yang lebih kamu terima, rasanya itu nggak adil buat mas," gumam Arman lirih. Semua orang terdiam.
"Mas Arman, maaf. Rere nggak bermaksud kayak gitu. Tapi liat mas Arman ngikutin Rere terus. Dari tempat kerja sampe ke kosan. Itu bikin Rere takut. Rere ngerasa kayak di buntuti. Rere sayang sama mas Arman, tapi itu hanya sebatas perasaan sebagai seorang adik pada kakaknya, nggak lebih," ucap Rere yang juga lirih. Semua nya kini terdiam.
"Maaf, Re. Mas yang salah, mas memaksakan diri. Sampe bikin Rere takut. Mas janji nggak akan ganggu Rere lagi. Tapi mas akan tetap mau bantu Rere, kalau Rere butuh sesuatu," ucap Arman tulus. Renata merasa lega sekarang sudah mengungkapkan semua. Arman mulai bisa menerima keputusan Renata untuk tidak memilih dia.
Liam mendekap Renata gemas dan mengusap air matanya. Arman walau masih berat melihat Renata bersama laki-laki lain, tapi dia coba untuk berbesar hati menerima kenyataan bahwa Renata tidak mencintainya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...