
Lidya sekarang sudah membulatkan tekatnya untuk menemui Anin secara langsung di rumahnya. Dia ingin menyelesaikan semuanya. Lusi yang menemani tampak ketakutan.
"Jangan tante," cegah Lusi berusaha menahan di detik terakhir saat Lidya sudah sampai di pintu pagar rumah Anin.
"Tidak apa-apa. Aku harus menyelesaikan ini. Anin marah padaku, dan aku yang harus menghadapinya," ucap Lidya yang berlahan melepas cengkraman Lusi di tangannya.
Lusi sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia hanya berani mengikuti langkah Lidya dari belakang. 'Coba aja ini bukan bokap lo, Re. Bakal gue tinggal dia disini. Bener-bener nekat maknya Renata,' batin Lusi.
Jantung Lusi mulai berdetak semakin keras, tubuhnya serasa berkeringat dingin sekarang. Tapi Lidya masih tenang. Dia terlihat sudah sangat siap dengan hari ini.
Sebelum ia masuk, dia menoleh pada Lusi.
"Pulang lah. Aku bisa sendirian," gumam Lidya pada Lusi. Lusi merasa Lidya seperti mendengar isi hatinya. Lusi terpaku dan membelalakkan matanya serta menggeleng keras.
"Nggak, tante. Lusi siap mati sama Tante, Lusi nggak mau pulang, Lusi akan temenin Tante," seru Lusi dengan menggenggam erat lengan Lidya. Lidya tersenyum dan menyentuh lembut tangan Lusi.
"Tidak, pulang lah. Ada hal pribadi yang ingin aku sampaikan pada Anin. Tante tidak apa-apa," ucapnya lagi. Lusi menggeleng keras menolak.
"Pulanglah!" ucap Lidya sekali lagi "Tante tidak mau kamu terlibat. Ini urusan keluarga tante. Nanti kamu bisa ikut di salahkan. Dan terimakasih sudah mau mengantar tante. Kamu anak baik," ucap Lidya menyentuh lembut wajah wanita ayu itu, dia tidak ingin melibatkan Lusi dalam permasalahan keluarganya.
"Tapi, tan ...," ucap Lusi terputus.
Karena Lidya menatapnya lembut dan menggeleng, ia benar-benar tidak ingin melibatkan Lusi.
__ADS_1
Dengan berat hati akhirnya Lusi pun pulang.
...***...
Lidya menekan bel rumah besar pintu. Sesaat seseorang keluar dari dalam rumah. Seorang pria tampan keluar membukakan pintu menemui Lidya. Siapa lagi jika bukan Liam, menantunya. Liam kaget saat melihat yang datang malam-malam ke rumahnya adalah Lidya.
"Masuk," ucap liam membukakan pintu pagar rumahnya dan membuka pintu rumahnya.
Lidya menatap rumah besar itu untuk pertama kalinya dengan perasaan berdebar, ada rasa ragu hinggap di hatinya. Tidak pantas rasanya dia yang bersalah menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Tapi apa boleh buat, dia harus menghadapi Anin sekarang demi anaknya.
Liam memahami perasaan Lidya. Dia mendekati Lidya dan kembali mempersilahkannya masuk. Lidya masuk dengan langkah sungkan.
"Tidak apa-apa. Mama lagi tidur," ucap Liam memahami keraguan Lidya. Lidya menatap Liam.
Dia semakin malu rasanya berhadapan dengan Liam, apalagi dengan apa yang akan ia sampaikan ini. Mungkin akan membuatnya semakin terlihat tidak tau malu nantinya.
Liam mulai cemas dengan Renata dan Aiden. Apa terjadi sesuatu pada anak dan istrinya itu. Melihat wajah mertuanya yang sangat gusar pasti terjadi sesuatu.
"Ada apa?" tanya Liam pelan dan dengan perasaan berdebar setelah mereka sama-sama duduk di sofa.
Lidya nampak takut dan itu terlihat dari dia yang terus tertunduk dan terus meremas tangannya. Menunjukkan kegelisahan hatinya saat ini.
"Apa terjadi sesuatu pada Renata dan Anakku?" tanya Liam lagi semakin khawatir.
__ADS_1
"Tadi siang ibumu menemui Renata dan memohon agar kalian berpisah. Aku tau itu semua karena aku," ucap Lidya. Dia menarik nafas dalam sebelum kembali bicara. "Aku ingin menemui ibumu. Aku ingin membicarakan ini," ucap Lidya lagi mulai pada tujuan kedatangannya.
"Mama sedang tidak bisa di ajak bicara. Dia masih kaget. Jangan khawatir, biar aku yang akan bicara dengannya," ucap Liam.
"Apapun yang terjadi nantinya, aku akan tetap mempertahan rumah tanggaku. Apapun resikonya. Mereka itu tanggung jawab aku. Aku menyayangi mereka berdua. Semua yang aku lakukan itu demi mereka. Jadi jangan khawatir," ucap Liam meyakinkan. Lidya tersenyum mendengarnya.
"Aku tau," ucap Lidya dengan seulas senyum di wajahnya. "Aku ingin bicara dengan ibumu. Mungkin sudah saatnya kami bicara empat mata," ucap Lidya meyakinkan. "Aku ingin minta maaf padanya sebelum aku terlambat. Sebelum aku pergi. Aku memang tidak pantas bersama kalian disini. Kehadiranku kembali membuat rasa sakit keluargamu. Jika memang ke pergianku bisa menyelesaikan semuanya. Baiklah, aku akan pergi," ucap Lidya lagi.
"Tapi sebelum itu aku ingin bicara dengannya,"
"Jangan pergi. Maaf, aku tidak bermaksud mengusir kamu ... Ma-Mama ... Mana mungkin aku mengusir kamu yang merupakan ibu mertuaku, ibu ku juga ... kan! Tetaplah tinggal di sini. Biar aku yang urus tentang Mamaku," ucap Liam yang ikut tersayat hatinya saat melihat ibu mertuanya seperti merasa terusir dari kehidupan mereka.
"Tidak. Aku tidak pantas menjadi ibumu, jangan panggil aku Mama. Aku terlalu jahat untuk kau anggap ibu," ucap Lidya yang semakin tercekat saat Liam memanggilnya dengan sebutan 'Mama' untuk pertama kalinya.
"Tidak. Aku yang tidak sopan, karena tidak menghormati mu sebagai ibu mertuaku selama ini," ucap Liam yang mulai menyadari keberadaan Lidya dan dengan apa yang sudah dia lakukan selama ini pada orang yang juga ibu mertuanya itu.
"Biarkan aku pergi, aku ingin menebus semuanya. Jemput Renata dan maaf jika aku terdengar tidak tau malu. Jaga anak-anakku. Ini seperti karma paling berat untukku. Tuhan mentakdirkan aku bergantung pada orang yang pernah aku sakiti," ucap Lidya kali ini langsung pecah tangisnya di hadapan Liam seperti bersimpuh memohon. Liam tidak tinggal diam. Dia mengangkat ibu mertuanya itu.
"Jangan begini, kita semua bersalah dalam kejadian itu. Setiap kesalahan, semua pihak pasti punya andil yang sama untuk bersalah. Berhenti menyalahkan diri Mama sendiri, " ucap Liam. Liam melihat penyesalan terdalam yang tulus dari ibu mertuanya itu.
"Jangan tinggalkan Aiden dan Renata. Dia sangat membutuhkanmu. Aiden juga gelisah tanpa kamu. Mereka berdua sangat bergantung padamu. Laki-laki yang paling tulus yang pernah aku temui kamu lah orangnya," ucap Lidya seraya mengusap bahu Liam.
Liam terdiam.
__ADS_1
"Aku tidak sudi menerima mereka lagi. Jika ingin pergi, bawa mereka juga," teriak seseorang. Mereka semua menoleh ke sumber suara. Tepat saat Anin yang sudah berdiri di tangga dengan tatapan tajamnya pada mereka.
BERSAMBUNG...