
Sesampainya dia di rumah, Liam masih tidak mampu berkata-kata. Liam masih sulit mempercayai kenyataan bahwa Renata adalah anak Mauren.
"Jadi Lidya itu nama asli Mauren?" gumam Liam. Renata yang tidak tau apa-apa hanya diam. Yang ia pikirkan hanyalah anaknya, bagaimana jika Liam menceraikannya setelah ini sebelum sempat dia melihat anaknya. Hancurlah mimpinya tentang rumah tangga yang bahagia bersama Liam.
"Aku juga tidak tau, Li. Sudah lama mama nggak pulang. Aku juga kaget kalau ternyata mamaku lah Mauren itu," ucap Renata seraya menangis.
Liam sesaat tersadar bahwa Renata tengah hamil. Dia tidak boleh membuat Renata terbebani karena permasalahan ini. Liam mendekati Renata dan mendekapnya ke pelukan nya untuk menenangkannya.
"Iya, aku tau," gumam Liam dengan Renata yang tengah di dekapnya tapi tatapan Liam hampa menatap.
***
Di sisi Lain Mauren sudah berada jauh dari kediaman Liam. Dia terengah-engah karena tadi dia buru-buru pergi saat melihat Liam. 'Renata menikah dengan anak Anin. Bagaiman ini? Aku tidak mungkin bisa mendapatkan uang darinya' batinnya.
"Aku bisa mati konyol di tangan mereka," gumam Lidya panik.
***
Di kamar Liam dan Renata masih shock, Liam terus mendekap istrinya itu dengan perasaan gelisah. Dia mengelus perut istrinya, dia dapat rasakan gerakan anaknya yang terasa sangat aktif malam ini. 'Demi dia lupalah sakit, aku tidak apa-apa. Dia ibu dari anakku, dia bukan Mauren,' batin Liam yang mencoba sekeras mungkin untuk melupakan sakitnya pada Mauren.
Tanpa Liam sadari Renata dapat rasakan bahwa jiwa Liam sedang bergolak sekarang. Malam ini mungkin saja cinta mereka bisa berubah arah, mungkin bisa hancur atau mungkin akan berjalan hampa.
__ADS_1
Apa mungkin Liam akan menerimanya jika kenyataannya dia adalah anak Mauren. Apa yang akan mertuanya pikirkan nanti jika tahu semuanya.
...***...
Keesokan harinya seperti biasa Renata menyiapkan semua persiapan Liam sebelum berangkat kerja. Tapi yang berbeda adalah Liam tampak tidak banyak bicara, bahkan dia pergi tanpa membalas lambaian tangan Renata.
Mungkin Liam masih terguncang. Mungkin sedikit waktu akan membuat semua normal lagi. Belum sempat Renata menutup pintu pagar, tiba-tiba seseorang menghentikan tangan Renata yang tengah menyeret pintu pagar itu. Renata menoleh, dan benar itu adalah ibunya.
"Mau apa lagi, Ma?" ucap Renata tajam.
"Ayo kita ngomong di dalam," ucap ibunya Renata, walau agak berat dia pun mengajak ibunya masuk.
"Mama mau apa datang nyariin aku? Siapa yang kasih tau tempat tinggal Rere sama mama? Tiba-tiba aja Mama datang, Liam sampe shock liat Mama. Dari semalam dia nggak banyak omong. Kalo Mama sayang sama aku lebih baik Mama ngilang aja. Rere nggak mau mertua Rere tau tentang Mama," tukas Rere yang sebenarnya menyakiti ibunya.
"Kamu tau apa tentang Anin. Dia itu hanya perempuan egois, kamu belum kenal lama dengannya sudah mau mengasingkan Mama demi dia. Kamu pikir semua yang terjadi itu salah mama? Anin juga punya andil yang sama. Hanya karena mama bersuara lebih keras dan bertindak lebih berani Anin membuat seolah-olah dirinya adalah korban. Dan menyalahkan semua pada Mama. Kamu tidak tau apa-apa, Re," ucap Lidya penuh makna. Tapi Rere tidak mau terjebak oleh ibunya lagi. Sudah cukup dia di permainkan ibunya selama ini.
"Kenapa Mama nemuin aku? Mama butuh uang?" ucap Renata mulai meninggi. Lidya tidak dapat menghindar dari tuduhan Renata.
"Iya, kali ini Mama terlibat hutang dalam jumlah besar. Mama di tipu orang dalam sebuah investasi. Mama sangat butuh uang itu, Re. Kalau tidak, nyawa Mama tebusannya. Mama di kejar-kejar orang. Kali ini Mama janji, setelah kamu berikan uang itu, Mama akan pergi. Mama nggak akan ganggu kamu lagi," ucap ibunya seperti memohon.
"Selalu kayak gini. Kenapa aku nggak bisa punya ibu kayak yang lain, yang bisa jadi tempat sandaran dan dapat diandalkan. Kenapa Mama selalu jadi sumber masalah buat aku. Sekali saja, Mah, setidaknya aku bisa bangga punya ibu kayak Mama," ucap Renata dengan berlinang air mata.
__ADS_1
Itu membuat Lidya ikut merasa tercekat dan terdiam. Berlahan dia melepaskan genggaman tangannya pada Renata.
"Mama bawak uang warisan kalian waktu itu, Mama habiskan begitu saja. Mama pikir Mama akan senang. Setidaknya setelah kematian ayahmu, Mama bisa merasakan bebas,tapi ternyata ... Mama malah terjebak dalam hal yang lebih menyakitkan yang membuat Mama tidak bisa pulang dan menemui kalian dan harus hidup dalam pelarian setiap saat," ucap ibunya, tapi tidak membuat Renata tersentuh. Di tinggal bertahun-tahun oleh ibunya itu membuat dia muak dengan drama ibunya.
"Udah, Ma. Aku nggak punya uang. Liam sudah cukup baik dengan membiayai sekolah dan hidup Rio bersama nenek di kampung. Dia bekerja keras siang dan malam tanpa dapat kami menabung untuk kami sendiri. Itu pun masih di maklumi oleh mertua Rere. Kalau Mama datang mintak uang juga, mau di taruh mana muka Rere," ucap Renata mulai muak dengan tingkah ibunya ini.
"Kali ini Mama benar-benar butuh, Re. Mama nggak tau harus dapat dari mana lagi. Mama terus dikejar-kejar sama mereka," ucap ibunya sekali lagi memohon.
"Ma, ngertiin posisi Aku. Rere nggak kerja, Rere lagi hamil dan sebentar lagi akan melahirkan. Liam kerja keras dengan ambil banyak proyek buat nabung lahiran anak kita. Sekarang Mama datang buat mintak uang, Rere benar-benar nggak bisa, Ma," ucap Renata meminta pengertian Lidya.
"Mama juga malu mintak sama kamu, tapi siapa lagi yang bisa bantu Mama selain kamu. Ayu nggak mungkin, dia bilang dia udah nggak mau lagi bantu apa-apa karena kamu buat suaminya bermasalah sama tempat kerjanya. Nenek juga udah nggak kerja lagi. Sama siapa lagi Mama mintak tolong, Re." Lidya sekali lagi mencoba membujuk. Tapi Renata benar-benar tidak bisa saat ini. Renata beranjak ke kamarnya dan mengambil sedikit simpanannya. Lalu kembali menemui ibunya.
"Ma, Rere cuman bisa bantu segini. Rere nggak punya lagi," ucap Renata seraya menyerahkan sejumlah uang. Lidya menatap uang di dalam amplop coklat itu.
"Itu 5 juta. Mama bisa gunain buat kebutuhan sehari-hari Mama sampe Mama dapat kerja lagi," ucap Renata. Lidya tidak punya pilihan lagi. Dia pun memutuskan untuk pergi.
Setelah mengucapkan salam perpisahan nya pada Renata dia pun pergi. Ada rasa kasihan di hati Renata melihat ibunya pergi. Renata dapat rasakan jika ibunya itu mungkin benar-benar tengah kesulitan. Dan memang hanya dia yang bisa membantunya. Ibunya benar dia tidak punya siapa-siapa lagi untuk membantunya.
Tapi mau bagaimana lagi, dia tidak mungkin menyusahkan Liam lagi. Selama ini Liam sudah cukup banyak membantunya dan keluarganya. Rasanya itu sudah cukup Liam berikan padanya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1