Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Pembicaraan Pria Dewasa


__ADS_3

Siang itu Liam, Bimo dan Leo rekan kerja Liam. Mereka tengah berkumpul di rooftop kantor mereka. Mereka memang sering mengobrol disana jika ada waktu senggang.


"Eh, Li. Apa kabar lo sama Renata? Udah ada kemajuan?" tanya Bimo pada Liam yang tengah asyik dengan game online nya.


"Udah. Sekarang dia nggak blokir gue lagi, terus nggak manyun lagi, tapi masih judes. Lumayankan?!" jawab Liam yang membuat Leo dan Bimo terkekeh.


"Eh, ibarat jalan. Itu ada 100Km, nah lo baru nyampe 20 meter, Li," celetuk Leo seraya terkekeh. Liam menoleh dengan tatapan datar pada Leo. "Maksud kita, hubungan kalian itu udah pada tahap bisa kasih Aiden adik nggak? Udah pada tahap nafkah batin belum? Kan nafkah lahirnya lo rajin transfer. Nah gimana sama nafkah batin? Lancar juga nggak kayak nafkah lahir?" goda Leo seraya terkekeh bersama Bimo.


Liam menghembuskan nafasnya dengan kasar. Dia menatap kedua rekan kerjanya itu dengan tatapan miris.

__ADS_1


"Makan aja gue masih di restoran," terang Liam. "Gimana gue mau deket. Kalo buat ketemu anak aja gue harus lihat situasi dulu. Kalo memungkinkan baru gue berani datang, kalo nggak ya tahan-tahan aja dulu. Gue nggak berani banyak berharap untuk saat ini. Rasanya jauh panggang dari api. Udah bisa jenguk anak aja udah lumayan buat gue," ucap Liam masih asyik dengan game di handphone.


Bimo yang tahu keadaan sebenarnya hanya terdiam, dia tau bagaimana perasaan sepupunya itu untuk saat ini. Dia lihat bagaimana Liam sudah berusaha untuk memperjuangkan semua.


"Li, takdir tuhan itu pasti yang terbaik," ucap Bimo menepuk Bahu sepupunya itu.


Dia menggenggam erat kedua bahu Liam, untuk memberinya semangat. Liam hanya menguntai sebuah senyuman yang pahit. Itu membuat Leo menjadi curiga, jika Liam sebenarnya menyimpan rahasia besar dalam pernikahannya. Ya, Liam memang tidak pernah menceritakan dengan detail tentang alasan perpisahannya dengan Renata. Tapi untuk bertanya lebih jauh Leo tidak berani. Dia takut akan terdengar lancang nantinya. Lagipula Liam tidak pernah terlalu terbuka untuk membahas permasalahan rumah tangganya.


"Iya, ya. Kenapa juga gue ragu deketin dia. Ok, gue tau harus gimana sekarang," seru Liam seperti mendapatkan sebuah ide. Dia segera mematikan handphonenya dan memasukkannya ke saku.

__ADS_1


Leo dan Bimo hanya saling pandang bingung, lalu mereka menatap Liam yang tadinya terlihat tidak bersemangat dengan rumah tangganya, sekarang malah tampak seperti hidup kembali.


"Jangan nekat," seru Bimo. Liam hanya tersenyum lalu berdiri dan merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal karena sudah lama duduk di posisi yang sama saat bermain game tadi.


"Gue mau kunjungin istri gue dan melaksanakan tanggung jawab gue yang belum terpenuhi sama Renata," ucap Liam seraya berkacak pinggang dan mengerlingkan matanya kearah Bimo yang masih bengong.


"Dia mau kemana?" tanya Leo masih belum mengerti.


"Mau cari masalah kayaknya," gumam Bimo. Dia menatap Leo. "Elo sih pakek acara manas-manasin dia segala," seru Bimo pada Leo.

__ADS_1


"Kok gue?!" seru Leo tidak terima atas tudingan Bimo.


Bersambung...


__ADS_2