
Liam pulang setelah menemui Bimo. Saat membuka pintu. Liam mencium aroma masakan.
"Renata?!" gumam Liam yang mengira Renata sudah kembali. Liam langsung menuju dapur ada senyuman tipis di wajahnya saat berjalan ke dapur. Sayup-sayup terdengar ada percakapan di dapur, ibunya tengah bersama seseorang. Apa ibunya sudah baikan dengan Renata? Liam semakin berdebar mendekati dapurnya. Dan melihat berlahan penuh harap.
Semangat Liam Runtuh seketika saat yang di lihatnya bukanlah Renata. Tapi ibunya yang tengah masak bersama tante Ana. Liam melihatnya dengan expresi kecewa.
"Eh, Li. Kamu sudah pulang?! Kamu pasti belum makan kan? Tunggu ya, sebentar lagi masakannya siap," terang ibunya dengan senyuman sumringah. Sedangkan Ana terus dengan kegiatan memasaknya.
"Om Budi juga kesini katanya, Li. Kita makan sama-sama hari ini," terang tante Ana. Liam hanya tersenyum dan mengangguk lalu ia pun pergi meninggalkan ibu dan tante Ana.
Liam pergi menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Liam langsung melompat ke atas ranjangnya. Dia mendekap wajahnya di kasurnya itu.
Sesaat dia mendapat notifikasi dari handphone nya. Terdapat pesan dari Lusi.
'📞Li, Renata udah di Jakarta,' pesan Lusi melalui pesan singkat di sertai foto Aiden yang membuat Liam bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
Seketika Liam tidak bisa menahan tangis bahagianya. Dia terus menatap potret putranya. yang tampak sudah terlihat besar dan sehat. Ingin rasanya ia mendekap dan mencium bayi mungil itu. Matanya, tangannya, kakinya, semua yang pada pada diri bayi itu membuat Liam semakin merindukannya. Liam memperhatikan dengan seksama.
"Ayah kangen Aiden. Ayah pengen ketemu. Tapi Bunda kamu pasti nggak ngizinin Ayah ke sana," ucap Liam sendu sambil terus mengusap layar handphonenya dengan senyum bahagia. Betapa dia sangat merindukan putranya itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang.
Dia mulai berpikir cara agar bisa kesana. Dia mencari-cari alasan yang tepat. Dan tetap buntu.
"Sudah lah ...," gumam Liam kembali menatap potret putranya seraya merebahkan tubuhnya ke ranjangnya kembali.
Di lain sisi tampak Ana dan Anin masih dengan kesibukan mereka memasak. Di sela kesibukan mereka itu, mereka terlibat obrolan.
"Mbak, gimana udah Liam tanda tangan surat cerainya?" tanya Ana.
"Nggak mau dia, dia bilang masih butuh waktu. Aku juga di marahin sama dia, makanya aku ngajak kamu makan kesini, biar dia mau baikan sama aku. Aku udah lama perang dingin sama dia. Dia bilang aku nggak pernah peduli sama dia, aku pergi terus ninggalin dia," ungkap Anin sambil terus dengan kegiatannya.
__ADS_1
"Bener tuh, bukannya kasih dukungan buat dia, kamu malah kabur-kaburan, mbak. Kamu tuh kadang Liam udah usaha buat deket kamunya yang terus sibuk. Kalo aku ya mbak, sesibuk apapun aku tetap nomor satu kan anak aku. Si Bimo itu sampe pakaian dalamnya aku yang beliin semua. Dia mana paham soal gituan, nah ini kamu anak cuman Liam satu itu aja, makan dia pun nggak kamu urus mbak, sampe dia punya riwayat maag gitu, karena keseringan telat makan dia. Kalo kamu nggak ada, dia itu sering sakit. Mending dulu waktu ada Renata, ada yang urus makan dia, nah sekarang dia sendirian. Kalo tiba-tiba sakitnya kambuh siapa yang akan tau. Aku ajak makan di rumah, kadang aku telfon, dia jawab 'iya, tante' tapi di tungguin nggak pernah datang dianya. Dia itu pemalu, nggak enakan anaknya. Harusnya kamu yang perhatian sama dia mbak, kalo ada apa-apa dia itu susah ngomong sama orang. Kalo terus kayak gitu, dia bisa-bisa mati muda lo, mbak," ingat Ana.
Anin kembali berpikir, ada benarnya juga dengan ucapan Ana. Liam bukan tipe orang yang terbuka, butuh orang yang sangat dekat dengannya untuk tau apa dan bagaimana dia.
"Eh, mbak. Mending kamu kenalin lah dia sama perempuan mana gitu. Biar dia ada yang nemenin nggak sendirian kayak gini," usul Ana.
"Liam itu susah kalo soal yang kayak gitu. Tapi, boleh juga tuh di coba. Jadi aku nggak khawatir lagi ya ninggalin dia," ungkap Anin yang tampak menyetujui pernyataan Ana.
Tidak terasa masakan mereka pun selesai dan mereka bersiap untuk makan. Anin segera memanggil Liam di kamarnya. Dan setelah itu mereka pun makan malam bersama.
Anin berharap ini bisa menghibur Liam atas kerinduannya pada suasana keluarga, walau sesaat setidaknya Liam dapat merasakannya.
Keakraban tampak jelas di makan malam mereka malam itu. Bimo juga datang bersama kekasihnya, sehingga membuat suasana semakin ramai dan hangat.
BERSAMBUNG...
__ADS_1