Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
PERSAHABATAN


__ADS_3

Setelah selesai, Liam pun mengantar Renata ke tempat kosnya. Setelah mengantar Renata, Liam kembali ke kediamannya. Liam memang sudah sejak kemarin tidak tinggal di kosan lagi, dia tinggal di rumahnya.


Sesampainya di tempat kos, Renata di kagetkan dengan Angel yang tampak tengah berkemas-kemas. Lusi menghampiri Renata.


"Dia mendadak mau pindah kosan, waktu liat undangan lo, kayaknya dia cemburu, deh," bisik Lusi.


Sedangkan Angel terus menyusun barang-barangnya di kamar. Setelah berpikir beberapa saat Renata pun berjalan menuju Angel di kamarnya.


"Kenapa pindah, Ngel?" tanya Renata. Angel menoleh pada Renata, dia menatap dengan tersenyum canggung saat melihat Renata.


"Nggak papa, kan kontrak nya juga udah habis, mau cari suasana baru aja," ucap Angel berusaha sesopan mungkin. Berbeda dari sikap nya yang biasa, menyebalkan dan suka cari masalah.


Renata tersenyum dan mencoba mendekati Angel yang terlihat kagok itu. Renata berjalan berlahan mendekatinya, Angel pun menatap Renata dalam. Ia memejamkan matanya seperti tengah menguatkan hatinya sendiri. Dan BRUUKK... Tiba-tiba Angel memeluk Renata erat saat Renata sudah dekat. Renata menjadi semakin bingung dengan tingkah Angel yang kali ini benar-benar sangat aneh.


"Maaf, Re. Selama gue di sini. Gue sering nyebelin," ucap Angel tiba-tiba di pelukan Renata dengan lirih, air matanya pun mulai membuat mata blow nya berkaca-kaca. Ia memeluk Renata dengan sangat tulus, Renata dapat rasakan kehangatan dari pelukannya, berlahan tangan Renata terangkat dan menepuk bahu Angel berlahan. Lusi juga tidak kalah heran melihat tingkah Angel yang sangat tidak biasa ini.

__ADS_1


Berlahan Angel mulai melepaskan pelukannya dan menatap Renata dalam. "Waktu awal kalian pindah kesini, gue udah pengen ikut gabung kalian, tapi lo terlalu sibuk sama Lusi berdua, itu buat gue merasa nggak punya tempat diantara kalian berdua. Kemana-mana kalian berdua nggak pernah gue diajak. Gue kesel dan sejak itu gue sering bikin masalah sama lo, sebab kalo lo nggak bisa jadi temen gue maka gue jadiin lo rival gue. Gitu pikiran gue waktu itu. Dan sampe kemaren pun gue masih cari masalah sama lo, padahal awal-awalnya gue pengen jadi temen lo sama Lusi, tapi tiap gue deketin kalian berdua seolah sibuk sama kalian berdua aja," ucap Angel tertunduk menyembunyikan sesalnya. Mendengar penjelasan Angel barusan sontak membuat mereka merasa kaget dan ada raut sesal tergaris di wajah Lusi dan Renata, mereka berdua saling pandang. Lusi berlahan mendekati Angel dan Renata. "Maaf, Re, Si. Selama ini gue nyebelin," lanjut Angel lagi dengan tulus, tidak pernah Renata melihat Angel seserius ini selama ini.


Renata semakin merasa bersalah. Apa yang di katakan Angel memang benar, dia terlalu sibuk berdua bersama Lusi tanpa menggubris kehadiran Angel. Di awal kedatangan mereka Angel memang sangat lah ramah, dia menyambut Renata dan Lusi dengan ceria. Tapi lama-lama dia mulai berubah seolah suka sekali mencari masalah. Tidak di sangka oleh Renata dan Lusi jika Angel merasa di sisihkan selama ini.


"Maafin gue juga, Ngel. Seandainya gue tau dari awal, gue pasti ajak lo bareng kita. Gue pikir selama ini lo nggak mau gabung sama kita karena lo lebih mapan dari kita, sedangkan kita cuman pramuniaga biasa. Makanya kita nggak berani deketin lo. Gue nggak nyangka kalo lo pengen gabung sama kita juga, Ngel," ucap Renata merasa sangat bersalah. Lusi pun juga ikut nimbrung.


"Kita yang salah, Ngel. Kita ngabein lo selama ini. Jangan pindah, Ngel. Biar kita mulai dari awal lagi biar bisa jadi temenan kita," sambung Lusi. Angel tersenyum terharu. Dia menatap Lusi dan Renata lekat-lekat. Dia mulai berpikir, seandainya dia bisa lebih terbuka dari awal mungkin mereka tidak perlu terlibat kesalahpahaman sampai selama ini.


"Mungkin karena kita nggak pernah ngomonginnya selama ini gue pendem sendirian. Gue juga yang salah nggak ngomong sama kalian. Malah berulah jadi nywbelin," ungkap Angel lagi. "Gue pindah bukan gara-gara masalah ini. Tapi karena gue pindah tempat kerja, gue nggak di cabang lama lagi, gue pindah buat cari kosan yang lebih deket dari tempat kerja. Bukan gara-gara kalian, kok. Kalo dari sini pasti gue nggak kejaran sama waktu berangkat nya," ucap Angel seraya menggenggam tangan Renata dan Lusi dengan senyuman manisnya. "Walaupun gue nggak tinggal di sini lagi, kalo gue punya waktu gue bakalan mampir kesini," ucap Angel lagi. "Seenggaknya gue sebelum gue pergi, kita udah lurusin kesalahpahaman kita. Sekarang gue bisa pergi dengan perasaan lega," Angel merasa sangat senang sekarang.


Untuk pertama kalinya dia merasa memiliki teman di tempat kosnya ini, walaupun itu di detik-detik kepindahannya. Setidaknya dia bisa pergi tanpa masalah lagi bersama Renata dan Lusi. Setidaknya dia berhasil meluruskan permasalahan mereka sebelum ia pergi.


"Iya, jangan nggak dateng, ya. Gue tungguin loh," ucap Renata di sambut tawa ketiganya. Sekarang mereka bertiga terlihat seperti teman akrab.


***

__ADS_1


Setelah selesai berkemas Angel pun pamit pergi. Mereka melepaskan kepergian Angel dengan haru. Mereka tidak menyangka apa yang mereka lakukan selama ini ternyata tanpa mereka sadari telah membuat Angel terluka.


"Gue ngerasa bersalah sama Angel, Re," ucap Lusi yang tengah di peluk Renata itu dari belakang dengan manja. Sedangkan Miko dan Robert hanya berdiri di samping mereka. Miko dan Robert tadi ikut juga mengantar kepergian Angel.


"Gue juga, Si. Kayaknya kita deh yang jahat selama ini sama dia. Tanpa kita sadari kita udah asingin dia di kosan," ucap Renata penuh sesal seraya menempelkan dagunya di bahu Lusi yang tengah di peluknya dari belakang.


"Makanya, kalo temenan itu jangan kayak kembar siam yang dempet mulu, kan buat yang ngerasa di asingkan. Kalo temennya banyak sih nggaj masalah, cuman kalo cuman bertiga itu bisa buat yang lain cemburu. Temenan itu beda tipis sama pacaran, juga bisa bikin orang cemburu," celetuk Miko lalu berlalu bersama Robert masuk kosan. Renata dan Lusi terdiam beberapa saat.


"Tumben tuh gembul bisa mikir, biasanya isi otaknya makanan mulu," celetuk pada Renata yang membuat keduanya terkekeh, lalu mereka berdua pun ikut masuk dengan berjalan beriringan.


"Bentar lagi lo juga bakalan ninggalin gue, Re. Kalo gue sendirian yang cewek di kosan, mending gue juga pindah juga lah, Re," ungkap Lusi.


Renata menatap sahabatnya itu lalu mereka pun saling peluk dengan sangat erat.


"Sampai kapan pun, kita akan tetap temanan, Si. Jadi kalo gue nikah lo jangan berubah, ya," ingat Renata pada Lusi dan di balas anggukan oleh Lusi.

__ADS_1


Begitu lah persahabatan Renata dan Lusi. Lebih dari sekedar seorang sahabat, tapi sudah seperti saudara kandung.


BERSAMBUNG...


__ADS_2