Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Laura Si Menyebalkan


__ADS_3

Pagi-pagi Liam sudah bangun dan menemui Renata di dapur. Dia melihat Renata sedang masak. Renata memang sedang di skors, jadi dia tidak punya kegiatan lain selain masak dan tiduran.


"Baju aku mana?" tanya Liam pada pakaiannya yang di cuci oleh Renata kemarin.


"Ntar aku ambilin," ucap Renata. Lalu segera ke kamarnya. Sesaat kemudian ia kembali dan menyerahkan setumpuk pakaian rapi pada Liam.


"Udah jadi pacar, apa masih bayar utang aku?" goda Renata.


"Ini bukan buat bayar utang, tapi buat berbakti sebagai pacar yang baik," ucap Liam seraya mengacak rambut Renata yang tersenyum nyengir membuat Liam semakin gemas. Lusi yang baru datang jadi geli mendengar nya.


"Jijik gue liat kalian berdua, dari kemarin kayak anak alay?" rutuk Lusi kesal.


"Sirik tanda pengen," ucap Liam seraya menarik hijab Lusi lalu berlalu begitu saja meninggalkan Lusi yang masih kesal.


"Arsitek, tapi nggak ada wibawanya dia sekarang," gumam Lusi. Renata hanya tertawa mendengarnya sambil terus melanjutkan menyelesaikan masakannya dan di bantu Lusi.


***


Siang itu Laura menemui Gio ke kantornya, tepat saat Gio baru saja menyelesaikan rapatnya. Laura pun masuk ke ruang rapat yang cukup rapi tersebut dengan meja panjang membentang dan kursi yang berjejer. Di ujung meja tampak Gio yang duduk dengan senyum manisnya menyambut Laura. Laura pun duduk di salah satu kursi di samping Gio.



"Tumben kamu kesini?" tanya Gio seraya menutup laptopnya.


"Nggak, lagi pengen aja. Bosen di rumah," jawab Laura seraya memainkan kuku lentiknya nan cantik dengan polesan kuteks merah menyala itu.


"Kamu kemaren ada masalah apa sama pramuniaga di mall? Bukannya dia pacarnya Liam, ya?" tanya Gio dengan gaya lembutnya yang khas.



...(Argio)...


__ADS_1


...(Laura)...


"Kaki aku sakit habis di paksa masuk sepatu yang sempit," ucap Laura memberi alasan sekenanya, ia masih sibuk dengan kukunya yang baru di salon itu.


Gio melihat gurat kebohongan di mata Laura. Jelas dia melihat jika wanita itu memakaikannya dengan lembut, hanya Laura saja tiba-tiba menaikan kakinya hingga menendang wajah wanita tersebut.


"Apa kamu cemburu karena dia pacar Liam?" tebak Gio penuh selidik. Laura terdiam, dia merasa Gio mulai mengetahui sesuatu tentang dia dan Liam. Dia menatap mata Argio mencari tahu sejauh mana yang Argio ketahui. Sesaat Laura sadar, Gio tak bisa ia bohongi lagi. Ia pun tersenyum menyeringai dan mulai serius menanggapinya.


"Iya. Aku cemburu, aku membenci wanita pelayan itu, karena dia terlalu rendah untuk Liam," aku Laura dengan sorot mata tajam.


Dia tidak ingin Gio memojokkan nya. Tidak ada yang boleh menyalahkan dia. Dia tak terkalahkan dan tak Sudi di sudutkan. Itu lah sifat Laura. Laura menarik nafas kasar dan segera bangkit dari posisinya dan ia pun segera pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan tatapan tajam menahan rasa emosinya.


"Jadi Liam mantan pacarmu, Laura?" seru Gio dengan gaya coolnya, kedua siku tangannya bertopang di atas meja, sedangkan tangannya yang menyatu tertopang menyentuh dagunya.


Langkah Laura seketika terhenti tepat di saat dia telah memegang gagang pintu bersiap untuk keluar. Dia berbalik dan menatap Gio tajam dengan senyum tersungging dan mata tajam menghunus ke arah Argio.


"Aku tidak mau dalam hubungan kita ada orang lain, Laura. Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main, aku ingin hubungan yang serius. Kalau kau ingin bersamaku, maka kau harus bersedia melupakan Liam dan berhenti mengikuti Liam. Biar kan dia dengan hidupnya, dan kita dengan kehidupan kita," ucap Gio tajam, seketika membuat Laura terdiam. "Aku bukan Liam, dan aku tidak sebaik Liam. Aku tidak ingin kau mempermainkan aku seperti Liam." Kali ini Gio membuang mukanya. Ia menatap ke jendela kaca seraya bersandar di kursinya. Laura masih mematung di posisinya.


Laura menarik nafas panjang untuk berfikir. Dia tidak bisa menentang Gio seperti dia menentang Liam. Kali ini dia harus mengalahkan egonya pada Gio.


"Beri aku waktu. Aku akan bereskan masalah yang kemarin," ucap Laura, lalu ia pun pergi. Gio menatap Laura hingga ia hilang di balik pintu.


***


Di sisi lain Renata yang sedang tiduran di kamarnya masih sibuk berbalas chat bersama Liam yang tengah di kantornya. Dia tak henti-hentinya tersenyum layaknya seorang yang tengah mabuk cinta.


Lusi yang tiba-tiba datang makin tidak mengenal sahabatnya ini. Renata yang kalem sekarang mendadak pecicilan.


"Cinta bisa bikin orang berubah drastis, ya," gumam Lusi dengan menatap Renata, lalu ia kembali menutup pintu kamar Renata yang tampaknya sedang tidak bisa memperdulikan apapun lagi selain Liam. Dia pun juga lupa untuk menangisi masa skorsing nya yang kemarin hampir membuat nya gila, tapi hari ini mendadak dia baik-baik saja seperti tidak terjadi apa-apa.


"Re, ada yang nyariin," seru Lusi kembali ke kamar Renata. Renata segera menoleh pada Lusi.


"Siapa?" tanya Renata.

__ADS_1


"Kurang tau. Cewek, cantik. Liat aja dulu," ucap Lusi. Renata pun segera beranjak dari posisinya dan segera keluar.


Tampak seorang wanita cantik dengan tinggi semampai dan stelan yang sangat modis. Serta barang banded yang melekat di tubuhnya .


Saat dia berbalik, seketika Renata terpaku kaget.


"Laura!" lirih Renata tidak percaya. Ya, dia adalah Laura. Wanita cantik dengan sejuta pesona. Tapi sangat menyebalkan bagi Renata.


"Hai... Mana Liam?" tanya nya dengan gaya menyebalkan seraya berjalan berlahan kearah Renata yang tengah menatapnya tidak suka.


Sesaat Laura melihat di sudut pelipis Renata terdapat luka goresan, itu lah luka karena kejadian kemarin. Laura tersenyum lirih, berlahan tangannya akan menyentuh pelipis itu. Tapi sebelum tangan nya sempat menyentuh nya, Renata segera menepis tangan Laura.


"Mau apa kamu?" tanya Renata ketus. Laura hanya tersenyum sinis menanggapinya. Dia segera duduk tanpa di komando. Laura semakin terlihat menyebalkan.


"Liam itu milikku. 3 tahun kami habiskan bersama. Jadi tindakkan ku kemarin itu suatu yang wajar, kan," pungkas Laura seperti biasanya, bersikap tak ingin di bantah seraya menatap jari lentik nya yang berkuteks merah menyala itu. "Untuk luka mu dan kejadian kemarin aku minta maaf. Aku tidak bermaksud. Hanya saja, melihatmu kemarin itu sangat membuat aku kesal. Bagaimana bisa seorang pramuniaga biasa saja sepertimu menggantikan posisiku. Aku tidak bisa menerimanya jika Liam menggantikan aku dengan wanita biasa," ucap Laura semakin menyebalkan.


"Kalau anda kesini untuk mencari ribut, lebih baik anda pulang sekarang juga," ucap Renata kesal. Laura langsung berdiri kembali dan menatap Renata tajam.


"Oke ... Maaf... Puas?!" ucap Laura menatap Renata tajam tanpa beban dengan senyuman menyebalkan nya.


Renata hanya tersenyum sinis seraya geleng-geleng kepala dengan tingkah Laura. Dia meminta Maaf tapi dia lupa untuk memelas layaknya orang yang berniat meminta maaf. Sedangkan Laura terus menatap Renata dengan senyumannya kali ini menjadi manis.


"Sudah lah, aku pulang. Hutang permintaan maaf ku sudah selesai. Sampai kan salamku pada Liam. Sampaikan padanya di rumah ku masih ada pakaiannya ....," ucap Laura terputus, lalu ia pun mendekatkan wajahnya pada Renata hingga membuat parfumnya tercium jelas oleh Renata. Dan napas Laura pun dapat Renata rasakan di wajahnya, karena sangking dekatnya jarak mereka sekarang. "Juga pakaian dalamnya," lanjut Laura dengan senyum penuh kemenangan. "Tenang saja. Liam, tidak melakukannya dengan banyak wanita. Aku adalah perempuan pertama baginya. Karena sebelum bertemu denganku, dia sangat lugu. Semenjak bersamaku, dia seperti serigala kelaparan saat di ranjang. Dia hebat untuk urusan itu," ucap Laura masih dengan separuh berbisik.


Wajah Renata seketika menjadi merah padam tangannya terkepal dengan nafas yang naik turun tak karuan karena menahan gejolak emosinya yang bergemuruh mendengar pernyataan Laura barusan.


"Pulang lah. Sebelum kita berdua hilang kendali," ucap Renata mencoba untuk tenang tidak terpancing oleh Laura.


Laura hanya tersenyum, lalu ia pun pergi meninggalkan Renata dengan api kemarahannya yang menyala. Sedangkan Laura masih tersenyum puas sampai di dalam mobilnya seraya mengenakan kacamata hitamnya dan mengendarai mobil Ferarri miliknya dengan gaya elegan.


"Menyenangkan!" gumamnya seorang diri lalu ia pun segera tancap gas.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2