Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Mencoba Memahaminya


__ADS_3

Saat Liam baru mulai dengan makan malamnya Liam di datangi seseorang. Dia menoleh ke arah sosok laki-laki yang baru datang itu. Lelaki dengan tampilan maskulin dan berwajah tegas dengan rahang kokoh, serta berjambang tipis yang memberi kesan gahar dan berkharismatik. Itu lah Argio kekasih Laura.



"Boleh gabung?" tanya Gio dengan seulas senyuman tipis seraya membuka kancing jasnya.


Deg ...


Seketika Liam jadi mati kutu. Dia menatap Gio yang tengah tersenyum simpul padanya. Ia mengambil posisi duduk di kursi di hadapan Liam dan mengambil buku menu.


Liam masih bingung dengan tujuan Gio mendatanginya. Apa laki-laki garang ini berniat membunuhnya karena sikap lancangnya bersama Laura tempo hari.


Liam melihat penuh selidik pada Gio. Tiap gerak Gio terasa menakutkan buat Liam, jangan-jangan nanti Gio menyerangnya dengan gerakan tiba-tiba. Bisa mati muda dia malam ini. itu pikir Liam. Sedangkan Gio masih tampak tenang, tapi itu pula yang membuat dia terlihat menakutkan saat ini.


"Saya juga lagi tidak punya teman makan malam," terang Gio sambil melihat-lihat menu. Dan dia melihat Liam yang masih mematung menatapnya. "Tenang, saya yang traktir," ucap Gio santai dan segera memanggil waiters untuk memesan makanannya.

__ADS_1


Liam tetap waspada, jangan sampai dia lengah dan Gio tiba-tiba menebasnya dengan samurai panjangnya yang mungkin saja tengah dia sembunyikan saat ini. Bisa tamat riwayatnya hari ini.


Entah apa yang di pikirkan Gio tentang dia sekarang. Jantung Liam terus berdetak tak karuan, makanan yang ia makan pun rasa nya sudah seperti kerikil, sulit untuk tertelan.


"Padahal dia yang berselingkuh, tapi aku yang di musuhinya," ucap Gio sambil melirik ke arah Liam yang terlihat masih waspada. Gio hanya menyunggingkan sebuah senyum saat melihat reaksi Liam itu. Dia masih sibuk membolak-balikkan halaman demi halaman dari buku menu yang masih dipegangnya.


Liam menarik nafas panjang sebelum bicara, dan melepasnya berlahan. Dia menatap Gio yang masih sibuk dengan buku menunya. Liam mulai berpikir sambil menikmati sesuap makanannya, sampai akhirnya ia bicara.


"Kami tidak melakukan apapun, itu hanya salah paham. Saya salah telpon, sebab nomor dia yang tersimpan di handphone saya sudah di setnya jadi paling atas, makanya saya bisa salah telpon. Nomor dia berada di atas nomor Bimo sepupu saya, Bimo yang ingin saya telpon saat itu. Malah dia yang datang. Tapi kami benar-benar tidak melakukan apapun. Kami hanya tidur tanpa terjadi apa-apa diantara kami," ucap Liam yang takut Gio salah paham.


Liam tidak ingin berurusan dengan Gio. Siapapun tahu siapa Gio. Lelaki sukses dan keras, dengan kekuatan dan uang yang dimilikinya tentu melakukan apapun tidak akan ada keraguan dalam dirinya. Sepembangkang Laura saja tidak berkutik saat berhadapan dengan Argio.


"Saya tau! Karena kamu laki-laki baik, dan mungkin karena itu juga Laura tidak bisa melupakan kamu, kamu sulit untuk di taklukkan nya," ucap Gio yang membuat Liam terpaku.


'Maksudnya apa, nih. Dia nggak berencana bunuh gue, kan?' batin Liam.

__ADS_1


"Terimakasih, ya. Sudah menjaganya dengan baik," ucap Gio sekali lagi. Ia terlihat sangat tulus dengan ucapannya barusan.


Liam mengernyitkan keningnya. Tiba-tiba aura kejam menakutkan tadi seketika lenyap dari Gio. Tadinya dia pikir Gio datang untuk menghajarnya.


"Dan terimakasih juga karena kamu tidak melakukan apa-apa dengannya, padahal kamu punya kesempatan untuk melakukan itu. Dan mungkin juga Laura tidak akan menolak seandainya malam itu kamu bersedia. Tapi kamu laki-laki baik, kamu bisa tetap menolak itu dari Laura. Saya kagum dengan laki-laki seperti kamu" puji Gio lagi. Liam terdiam sesaat mendengarnya. Lalu ia pun mulai berpikir.


"Dia hanya ingin di perhatikan. Dia bukan perempuan seperti itu. Kami sering tidur bersama dulu waktu kami masih berteman dan pacaran, tapi hanya sekedar tidur saja. Karena kami berdua itu seperti sebatang kara. Keluarga kami sama-sama sibuk dan kami berdua merasa sama-sama di telantarkan, kami suka menghabiskan waktu malam bersama. Walau kadang dia usil pakek bekini, lingerie seksi, atau pakai pakaian seksi lainnya. Tapi itu hanya cara dia membuat permainannya, agar aku memperhatikan dia," terang Liam. "Dia bukan wanita lemah dan murahan. Dia wanita kuat dan tidak gampangan. Percaya lah," terang Liam yang terdengar sangat mengenal siapa Laura. Gio tersenyum seolah-olah memahami sesuatu dari ucapan Liam barusan.


"Dia selalu bilang, kamu itu baik, sabar, pengertian. Dan aku tau sekarang ... Apa alasannya dia mengatakan itu. Dia sudah berkali-kali menguji kamu, Liam. dan kamu selalu dapat di percaya olehnya. Kamu memberi kesan yang dalam untuknya," ucap Gio dengan seulas senyuman miris seraya menyantap steak sapinya yang baru datang. Liam terdiam dan tersenyum. "Dia juga mengujiku, dan aku mengecewakannya, karena itu dia marah," ucap Gio terkekeh. Liam tersenyum seraya mengernyitkan keningnya tanda tidak paham dengan ucapan Gio barusan.


"Dia menghabiskan uangku, tapi aku diam dan tidak menegurnya, bahkan membiarkan nya dan memberikan nya kartu kredit yang baru. Dia buat keluargaku membencinya, dan terakhir dia membuat skandal konyol bersamamu," terang Gio lagi. Gio seolah-olah mulai paham dengan tingkah Laura selama ini. Liam pun paham apa maksud Gio sekarang.


"Dia marah, karena kau tidak memeluknya saat dia menyudutkan dirinya sendiri. Dia memintamu untuk bersamanya. Dia ingin kau menegur kesalahannya, dia ingin kau melihat keberadaan nya, bukan malah sibuk dengan duniamu. Dia sangat mencintai anda tuan Argio," ucap Liam juga paham sekarang, mereka saling tatap dan sesat Gio tertunduk seolah sadar jika apa yang dia lakukan pada Laura selama ini seolah telah membiarkan Laura kesepian sendirian. Laura melakukan itu semua agar Gio memperhatikannya dan mau bermain bersamanya, tapi yang Gio lakukan malah membiarkan Laura bermain sendirian.


"Terimakasih, Liam. Kau laki-laki baik. Sangat baik," puji Gio sekali lagi dengan tatapan yang tulus. Liam terdiam dan tersenyum.

__ADS_1


Mereka pun menghabiskan makan malam mereka dengan saling bertukar cerita sehingga membuat hubungan kaku mereka menjadi cair.


BERSAMBUNG...


__ADS_2