Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Provokasi Anin


__ADS_3

...PENGUMUMAN...


Visual Liam di ganti ya, berhubung visual sebelumnya tidak mewakili jiwa Liam yang usil, ramah dan agak iseng. 😅😅😅 Itu membuat author memutuskan mengganti visualnya menjadi. 🙏🙏✌️😂😂



Happy read ... 😘😘


***


Setelah beberapa hari Liam di rawat, Liam sudah di perbolehkan untuk pulang. Tapi sejak kepulangannya Liam tampak lebih banyak diam. Mungkin juga mulai lelah dengan keadaannya. Apalagi secara fisik dia juga masih lemah.


Malam Itu Anin dan Liam makan malam bersama. Mereka makan, makanan yang Anin pesan dari restoran. Karena memang Anin jarang masak, yang biasanya memasak di rumah hanyalah Renata. Tapi sekarang dia sudah tidak ada diantara mereka. Membuat hidup Liam kembali seperti tanpa Renata dulu. Makan di restoran atau cafe. Pakaian di loundry. Dan kebutuhan lainnya akan di urus dengan uang tanpa ada pelayanan yang penuh perhatian seperti Renata lakukan padanya. Itu yang membuat Liam merasa kosong tanpa Renata.


Sepanjang makan malam, malam itu tidak ada komunikasi diantara mereka. Hanya suara sendok garpu dan piring yang terdengar beradu. Sedangkan ibu dan anak itu terus sibuk menikmati makan malam mereka dan larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Suasana menjadi bertambah hening saat benar-benar mereka lewati tanpa sepatah katapun hingga makan malam mereka usai.


Anin menatap Liam yang masih tampak tidak perduli apapun, dia seolah-olah menganggap ibunya tidak ada di ruangan itu. Begitupula Anin, dia tidak ingin menggubris kekesalan Liam. Dia lebih memilih untuk mendiaminya. Dia tidak ingin memancing kekesalan Liam lagi.


...***...


Selesai makan, Liam langsung ke kamar. Di sana dia berdiam diri didalam kamarnya yang gelap. Liam sengaja hanya menyalakan lampu tidurnya. Dia hanya ingin sendirian di dalam kegelapan.

__ADS_1


Suasana yang hening membuat dia semakin larut dengan rasa rindunya pada anak dan istrinya. Tangis si kecil Aiden yang selalu terngiang di telinganya dan sapaan hangat Renata padanya. Mengingat itu membuat Liam merasakan sesak di hatinya.


Liam segera duduk bersandar di kepala ranjangnya. Dia tidak bisa tidur, mungkin karena tadi siang dia sudah menghabiskan waktunya untuk tidur, sehingga saat malam dia jadi tidak bisa tidur lagi. Liam menoleh kesamping ranjang, ada sebuah meja kecil di sana. Liam mengambil sesuatu di laci meja itu.


Ada sebuah benda yang membuat Liam tercekat memandangnya, berlahan tangannya mengambil benda itu dan mendekapnya ke dekapannya dengan perasaan sedih dan hancur. Itu adalah baju Aiden yang tertinggal di apartemen dan sengaja Liam bawa pulang sebagai pengobat rindu pada anaknya itu.


Dia mencium baju mungil itu, bau Aiden masih melekat di pakaian mungil itu. Liam meresapi rasa rindunya di dalam remangnya lampu kamarnya. Dia semakin rindu dengan sosok kecil yang manja itu. Liam memandang pakaian mungil itu dengan seutas senyuman, seolah-olah Aiden lah yang tengah ia dekap saat ini.


Tiba-tiba seseorang berlahan membuka pintu kamar Liam. Liam menoleh dengan cepat ke sumber suara. Sosok itu melangkah masuk kamar dengan langkah berlahan. Dia adalah Anin. Anin berlahan berjalan mendekati Liam dan duduk di pinggir ranjang Liam. Dia melihat baju Aiden yang tengah di pegang Liam.


Anin tertunduk dan berusaha menarik nafas panjang sebelum dia bicara. Dia ikut sedih karena jauh di dalam hatinya. Dia juga merindukan Aiden. Tapi saat ia ingat Lidya, itu membuat Anin segera menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.


"3 hari lagi Mama akan pergi. Mama ada acara di Australi. Mama buat janji jauh hari, jadi Mama tidak bisa membatalkannya lagi. Kalau tidak Mama akan kena masalah," terang Anin meminta pengertian Liam. Sekaligus memberitahu keberangkatannya pada Liam.


Bahkan ibunya masih memikirkan pekerjaan nya di saat terpuruknya seperti saat ini.


"Kamu tidak apa-apa, Kan? Kalo Mama pergi sebentar. Mama akan pulang setelah semua selesai,"


Liam masih tidak bergeming dari posisinya. Anin menatap punggung Liam sesaat, dia merasa sedikit tercekat dengan reaksi dingin Liam. Lalu ia pun tersenyum miris.


"Ya sudah kalau kamu memang sudah mau tidur," ucap Anin seraya mengusap lembut bahu putranya itu sebelum beranjak bersiap akan pergi.


Dia merasa Liam benar-benar sudah menganggapnya seperti musuh atas apa yang sudah terjadi. Dia melangkah menuju pintu kamar Liam. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Saat Liam memanggilnya.

__ADS_1


"Ma ...," panggil Liam membuat Anin menoleh. "Dulu aku seperti menemukan kebahagiaanku. Saat masuk rumah yang tercium bau masakan yang membuat aku lapar dan rindu ingin cepat pulang, ada Aiden yang menangis, suaranya berisik tapi aku sangat menyukainya. Saat pulang ada yang menyambutku. saat mau makan sudah ada yang hidangkan. Tapi ... Sekarang sudah hilang. Aku kembali pada kehidupan ini lagi, di hidup yang membosankan. Pura-pura baik-baik saja di kesepian ku, di nomor dua kan, bahkan saat terpurukku seperti saat ini pun aku seperti tidak memiliki keluarga untukku bersandar. Dan menumpahkan letihku. Aku baru saja mendapatkan keluarga yang sebenarnya, yang bisa aku jadikan sandaranku dan harus hancur sekarang," ucap Liam tiba-tiba, Anin terdiam dan menarik nafas panjangnya dan melepaskannya dengan kasar. Sekarang dia benar-benar tidak bisa sabar lagi. Dia tidak tahan terus disudutkan begini.


"Kalau kamu benar-benar penting buat dia, kamu tidak akan di tinggal nya kan? Dia bahkan pergi tanpa izin. Apa masih pantas kamu pertahankan dan tangisi seperti ini? Dan yang jelas dia sudah dapatkan apa yang jadi maunya. Hutangnya sudah kamu bayar lunas, adiknya sudah selesai dengan sekolahnya. Lalu dia pergi, kan? Sekarang kamu nilai sendiri itu apa artinya," ucap Anin mulai menyudutkan Renata.


"Apa yang Mama katakan setelah aku pergi malam itu?!" selidik Liam penuh tanya.


"Aku hanya ingin sebuah keluarga, keluarga yang seutuhnya. Yang selalu ada untuk satu sama lainnya. Hanya itu yang aku mau. Aku tidak pernah menuntut apapun selama ini. Aku hanya meminta pengertian Mama. Dia bahkan sudah meminta maaf berulang kali. Apa itu belum cukup? Mama mau apa lagi? pengakuan apa lagi?" seru Liam yang mulai terlihat menentang.


"Tidak. Tidak akan pernah cukup untuk menerima mereka dalam hidup kita. Dia minta maaf?! Baik. Mama maafkan, tapi tidak untuk membuat mereka menjadi bagian dari keluarga kita. Mama akan lakukan apapun agar dia tidak menjadi bagian dari keluarga kita lagi. Dia tidak akan pernah di terima di rumah ini. Tidak akan pernah," tukas Anin yang sekarang terlihat sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi. Liam menatap ibunya dalam.


Dia menunjukkan wajah tajamnya pada Liam dengan emosional. Sorot mata yang kuat menunjukkan dendamnya yang tidak akan mudah untuk di sembuhkan.


"Mama menampar wanita tidak tau malu itu malam itu, dan Mama juga meminta dia untuk bercerai dengan kamu. Dia menginginkan ibunya, dan dia melupakan kamu Liam. Dia hanya memilih ibunya. Sadar lah Liam, kamu hanya di manfaatkan dan diperalat oleh mereka," ucap Anin lantang. "Masih mau mempertahankan wanita seperti itu? Bangun Liam, dan lihat lah kenyataannya. Kenyataannya kamu sama sekali tidak penting buat dia," ucap Anin mulai memprovokasi Liam.


Liam tercekat mendengar ucapan Anin, dia menelan salivanya yang terasa pahit. Melihat Liam yang terdiam Anin tersenyum miris. Kata-kata Anin sangat melukai Liam. Tapi Liam juga tidak bisa membantahnya. Renata adalah wanita pertama yang memberikan Liam arti sebuah keluarga yang sesungguhnya. Kehidupan keluarga yang sudah ia rindukan sejak kecil. Mendapati kenyataan ternyata itu semua semu membuat Liam terluka.


Padahal dia sudah memperjuangkan semua, agar dia tetap bisa bersama Renata. Akhirnya Renata tetap memilih untuk meninggalkan nya demi ibunya.


"Aku capek, aku mau istirahat," tukas Liam dingin, dia tidak sanggup lagi berbantah dengan ibunya, meluahkan semuanya padanya malah membuat dia semakin tersiksa bukannya lega. Dia kembali berbaring membelakangi ibunya.


Anin bangkit dan meninggalkan Liam. Dia menutup pintu kamar Liam berlahan.


Sedangkan Liam terbaring dengan dada yang terasa bergemuruh tidak karuan. Dia meremas pakaian Aiden. Entah apa yang tengah Liam pikirkan, mulai membenci Renata atau hanya sedang terguncang dengan keadaan saja. Dia mencoba memejamkan matanya, tepatnya memaksanya untuk terpejam.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2