Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Lampu Hijau


__ADS_3

Renata tampak masih sibuk membereskan barang-barang dan merapikannya dari kopernya. Karena mereka memang baru sampai.


Lidya tidak banyak membantu, hanya Renata dan Lusi yang sibuk beres-beres. Dia menggendong Aiden yang kini sudah terlelap tidur. Mungkin karena perjalanan mereka yang melelahkan membuat dia kelelahan dan tidur lebih cepat dari biasanya.


Selesai meletakkan Aiden di kamar Lusi yang merupakan satu-satunya kamar yang bersih saat ini, Lidya pun menghampiri Renata di kamarnya. Mereka tampan masih sibuk berberes-beres.


Renata dan Lusi memutuskan untuk mengontrak rumah, dan mereka mendapatkan rumah yang cukup besar untuk di sewa mereka berempat, Renata, Lusi, Lidya dan Aiden. Itu semua karena Renata tidak nyaman jika harus tinggal di kosan dengan posisi Aiden yang masih bayi dan ibunya yang sudah cukup tua untuk di kelilingi anak muda.


"Kamu sudah beri kabar Liam kalau kita sudah sampai, Re?!" tanya Lidya.


"Kenapa harus kasih kabar ke dia. Mama lupa aku sama dia udah sepakat untuk bercerai. Aku sudah tanda tangan surat cerai kita. Jadi, dia udah nggak ada hak untuk tau kabar kita," ketus Renata sedikit kesal.


"Kan belum ada akta cerai. Dan kamu juga belum pernah dengar talak langsung dari Liam. Itu surat Mama nya yang buat dan belum tentu Liam terima. Jadi, kamu masih sah istrinya Liam. Dia berhak tahu tentang Aiden walaupun kalian sudah bercerai sekalipun," tukas ibunya. Lusi yang sudah mengabari Liam sedari tadi hanya diam mendengar perdebatan ibu dan anak itu. Dia sengaja tidak memberitahu Renata atas tindakannya itu. Dia tahu betul Renata tidak ingin Liam mengetahui kedatangannya.


"Dia nggak peduli lagi sama kita, jadi nggak usah buang-buang tenaga buat ngabarin dia, Mah," ucap Renata masih terus sibuk dengan pekerjaannya, tentu saja dengan nada ketusnya.


"Ya sudah, Mama saja yang kasih kabar dia kalau begitu," putus Lidya langsung keluar tanpa sempat Renata cegah lagi. Renata menatap Lusi, Lusi hanya tersenyum melihat tingkah anak dan ibu itu. Bagi Lusi ibu Renata itu memiliki expresi yang datar dan lucu. Entah orang marah atau kesal padanya, maka dia akan tetap tenang dan datar tanpa expresi. Sebenarnya sikap Lidya itu walau menyebalkan tapi cukup ampuh untuk menangani sikap keras kepala Renata.


"Sudah, Re. Biarin aja. Kamu nggak boleh pisahin Aiden sama ayahnya gitu. Liam berhak tau tentang anaknya," nasehat Lusi. Renata hanya mendengus kesal dengan sikap Lusi yang tampak tidak pro padanya saat ini.


...***...


Di luar Lidya segera menelepon Liam. Sesaat kemudian, telpon itu sudah diangkatnya. Tepat saat Liam masih berkumpul bersama keluarganya. Melihat Lidya yang menelpon, Liam segera menjauh dari keluarganya.


Anin hanya melihat sekilas, Liam yang tampak mengambil jarak yang jauh untuk menelpon.

__ADS_1


"📞 Apa kabar kamu?" tanya Lidya ramah saat sudah diangkat.


"📞 Baik," jawab Liam datar dan singkat dengan perasaan berdebar.


"📞Kami sudah di Jakarta bersama Aiden juga. Kalau kamu mau datang, datang lah. Nanti akan saya beri tahu alamatnya," ucap Lidya yang membuat Liam girang tidak karuan. dia melompat seperti anak kecil, tapi tetap menahan suaranya agar tetap tenang di hadapan Lidya.


"📞Iya, besok saya akan datang," ucap Liam sopan dan berusaha terdengar tenang. "Terimakasih sudah mengabarinya," ucap Liam lagi.


"📞Iya," ucap Lidya lalu mematikan sambungan telponnya.


Liam riang bukan main, akhirnya dia menemukan alasan yang tepat untuk datang. Anin yang melihat Liam kegirangan seperti itu jadi penasaran.


"Kenapa, Li?" tanya Anin penasaran. Dia melihat Liam melompat kegirangan dari kejauhan tadi.


"Nggak ada apa-apa, tadi temen nelpon barang yang aku pesan udah datang katanya, aku senang saja bisa dapatinnya," ucap Liam berbohong dengan lancar jaya tanpa keseleo sedikitpun. Melihat Liam menceritakannya dengan ekspresi datar itu membuat Anin curiga.


***


Keesokan harinya Liam datang menemui Aiden ke kontrakan Lusi dan Renata. Liam datang dengan perasaan berdebar. Dia terus tersenyum sepanjang perjalanannya, hingga sampailah dia di sebuah gang sempit. Itu memaksanya untuk parkir diluar.


Karena tidak tau rumahnya yang mana Liam menelpon Lusi. Lusi pun datang menjemput Liam. Setelah menemukan tempat parkir yang tepat, Liam pun pergi bersama Lusi


"Dia mau selesein skripsinya katanya, juga mau kerja. Kebetulan ada 2 orang karyawan yang akan cuti melahirkan, jadi Renata gantiin mereka buat sementara," terang Lusi. Mereka terus bercerita banyak hal sepanjang perjalanan mereka itu. Hingga sampai lah mereka di sebuah kontrakan sederhana di gang sempit itu.


"Ini kontrakan Kita," terang Lusi. Liam diam dengan hati berdebar, akhirnya dia bisa juga menemui anaknya lagi. Setelah berbulan-bulan mereka terpisah.

__ADS_1


Lusi segera membuka pintu dan mempersilahkan Liam untuk masuk. Tampak Lidya menyambut kedatangan mereka. Ada perasaan canggung di mata keduanya saat kembali bertemu.


"Dia lagi tidur. Tunggu sebentar, dia pasti bangun nanti. Oh, ya. Renata sedang pergi, katanya urus apa gitu sebelum dia mulai kerja," terang Lidya.


"Saya tinggal masak dulu, ya," ucap Lidya yang di sambut senyum simpul boleh Liam.


Tidak lama Lusi sudah datang dengan. pakaian rapi.


"Eh, Li. Aku tinggal dulu, ya. Aku masuk shift siang hari ini," terang Lusi yang sudah tampak rapi dengan seragamnya itu.


Auto itu membuat hanya tinggal Liam dan Lidya yang tinggal di rumah. Membuat Liam semakin tidak nyaman. Liam melirik sebuah kamar yang terbuka, tampak Aiden sedang tertidur pulas. Dengan perasaan ragu, Liam datang mendekat.



Ada rasa segan di hatinya harus masuk kamar di rumah yang masih asing baginya. Tapi rasa rindunya pada anaknya mendorongnya untuk bangkit dan menghampiri Aiden. Liam masuk kamar itu secara berlahan. Masih tampak barang yang masih belum rapih, Liam tidak memperdulikan itu, dia menyingkirkan barang-barang itu berlahan agar dia dapat duduk di dekat putranya itu.


Liam tersenyum menatap bayi 8 bulan itu. Terlihat tubuhnya mulai terlihat montok dengan kulit putih halusnya membuat terlihat semakin menggemaskan. Liam mengelus kepala putranya itu dan menggenggam tangan putranya itu.


Lidya datang dengan membawa segelas teh hangat untuk Liam. Dia kaget saat mendapati Liam sudah tidak ada, tapi saat melihat Liam sudah di kamar bersama Aiden. Dia hanya tersenyum.


"Datanglah sering-sering menjenguk anak dan istrimu. Jangan cepat mengambil keputusan untuk berpisah," ucap Lidya segan. Liam hanya diam tertunduk, dia tampak tidak nyaman membicarakan itu. Lidya memahami itu, Lidya merasa Liam sangat tidak nyaman dengannya, sampai saat ini saja Liam tidak pernah memanggilnya dengan sebutan 'Mama'.


Karena merasa semakin tidak nyaman dengan keadaan yang ada. Lidya pun segera permisi untuk lanjut memasak di dapur.


"Jangan lupa minum tehnya," ingat Lidya sebelum pergi. Liam mengangguk dengan senyuman kakunya. Lalu meminum teh hangat itu.

__ADS_1


Liam kembali menatap putranya itu dengan senyuman. Dia merasa sangat bahagia akhirnya setelah berbulan-bulan dia tidak bisa menemui putranya, akhirnya hari ini rindunya terbayar sudah.


BERSAMBUNG...


__ADS_2