
Siang itu saat siang Liam menemui Renata di tempat kerjanya. Akhir-akhir ini dia sering makan siang bersama Liam di mall tempat Renata bekerja di waktu makan siang. Karena posisi kantor Liam yang juga tidak jauh dari sana, sehingga mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Renata selalu membawa bekal berlebih untuk di makannya bersama suaminya itu. Liam lebih menyukai makanan buatan Renata dari pada restoran yang baginya membosankan, apalagi jika di makan bersama.
"Bikin repot tau nggak, kamu kan bisa bawak kantor sekalian. kekantorkan juga lewat depan. Apa salahnya berhenti dulu sebentar di kontrakkan," keluh Renata.
"Aku maunya makan sama kamu," ucap Liam seraya menikmati makan siang buatan istrinya itu. Renata tersenyum seraya mencium wajah suaminya dengan gemas.
"Aku kasian sama ayah Aiden ini akan capek bolak-balik gini buat makan siang doang," ucapnya kali ini mencubit pipi Liam yang membuat Liam nyengir. Mereka pun tertawa bersama sambil menikmati makan siangnya.
Ini yang diinginkan Liam. Menikmati hari-harinya bersama orang yang di cintainya. Walau apa yang mereka lakukan sekarang harus di lakukan sembunyi-sembunyi karena permasalahan keluarga mereka.
"Nggak papa, kalo itu bisa sama kamu, aku nggak papa bolak-balik," ucap Liam dengan tatapan dalam pada mata Renata, Renata melihat cinta yang begitu dalam pada mata indah itu. Dia pun tersenyum dan menunduk.
__ADS_1
"Hmmmm.... Besok aku libur, kamu kan juga libur. Kita nginep di hotel yuk, sama Aiden juga. Nanti besoknya kita jalan-jalan," ajak Liam. Renata menatap Liam dengan tatapan penuh curiga.
"Ngajak nginep di hotel, emang mau ngapain?" goda Renata.
"Hmmmh ... Apa perlu aku perjelas lagi," ucap Liam. Mereka pun terkekeh. "Dandan yang cantik," bisik Liam membuat Renata membulatkan matanya sambil tersenyum. Liam hanya tertawa melihat reaksi Renata itu.
...***...
Selesai dengan makan siangnya Liam pun segera kembali ke kantor. Renata mengantar suaminya itu hingga ke tempat parkir.
Lalu Liam pun pergi dengan mobilnya. Perlahan menghilang dari pandangan Renata yang segera di hampiri para rekan kerjanya sekaligus sahabatnya.
"Yah, Re. Sisain satu kek yang good looking kaya, mapan kayak gitu, kan mayan buat memperbaiki keturunan gue," seru Melly dengan wajah mupeng seraya melihat mobil Liam yang berlalu.
__ADS_1
"Rejeki orang beda-beda," Seru Viola seraya menepuk bahu rekannya itu. Merekapun tertawa.
"Eh, Re. Cowok kayak laki lo itu banyak yang goda, pinter-pinter deh dandan elonya, biar nggak di tikung orang lain laki lo itu," ingat sahabatnya itu. Renata melototi sahabatnya itu.
"Siapa yang berani deketin dia bakal gue makan hidup-hidup. Dia itu punya gue," ucap Renata dengan tatapan mata tajam yang malah membuat yang lainnya tertawa. Lalu mereka pun masuk kedalam mall tersebut kembali untuk lanjut bekerja lagi.
Tanpa mereka sadari ucapan sahabatnya tadi membuat Renata berpikir. Liam sering meledek jika ia gendut sekarang. Renata segera menuju sebuah cermin besar yang ada di salah satu sudut di mall itu, dan ia memantaskan diri di depan cermin besar itu. Dia menyadari tubuhnya memang terlihat agak berisi sekarang. Sontak itu membuat terlihat ada gurat khawatir dari wajah Renata.
Lusi yang melihat Renata yang sibuk bercermin itu, segera menghampirinya.
"Ngapain?" tanya Lusi menghampiri Renata yang masih melihat pantulan tubuhnya di cermin itu.
"Gue gemuk nggak, Si?" tanya Renata pada Lusi.
__ADS_1
"Tubuh berubah sehabis lahiran itu wajar kali. Udah, Liam nggak liat itu kok dari lo. Dia sayang sama lo tanpa syarat, Re. Nggak usah khawatir," hibur Lusi mencoba memahami kekhawatiran Renata. Renata tersenyum senang mendengar ucapan Lusi. Mungkin benar, dia harus mempercayai Liam. Dia tidak perlu mengkhawatirkan masalah ini. Toh Liam bukan tipe laki-laki mata keranjang.
BERSAMBUNG...