
Malam itu Liam berbaring di ranjangnya dengan terus memandang potret putranya yang diambil nya tadi siang. Liam terus tersenyum menatap layar ponselnya. Walau dia tidak bertemu Renata, bahkan itu jauh lebih baik. Dia memang menghindari Renata untuk sementara waktu ini.
Tiba-tiba pintunya terdengar ada yang membuka. Liam buru-buru menutup galeri fotonya dan pura-pura membuka sosmednya.
Itu adalah Anin, dia memang lebih sering meluangkan waktu bersama Liam akhir-akhir ini. Karena pertengkaran mereka kemaren membuat Anin kembali berpikir, mungkin benar, seharusnya dia berada bersama Liam saat ini, bukannya sibuk melarikan diri.
Dia bertekad ingin memperbaiki hubungannya bersama putranya itu.
"Lagi ngapain kamu?" tanya ibunya seraya beranjak ke atas ranjang Liam. Liam tampak tidak terlalu menggubris kedatangan ibunya itu. Seolah-olah dia memang lagi sibuk. Anin tidak putus asa, dia tetap mendekati putra semata wayanngnya itu.
"Mama malas tidur sendirian, Mama tidur di sini boleh nggak?" tanya ibunya seperti anak kecil yang sedang merayu.
"Aku itu bukan anak kecil lagi, Ma. Mama tidur di kamar Mama aja, risih rasaanya," tukas Liam yang membuat Anin terlihat sedikit kesal.
"Mama cuman mau cerita sama kamu. Dulu kan kita juga sering cerita bareng, masak sekarang udah nggak boleh lagi?!" rayu ibunya masih berusaha. Liam tidak menjawab. Anin tau itu merupakan lampu hijau dari putranya.
"Mama itu kesepian di rumah, kamu kadang kerja seharian. Makanya Mama sering ikut traveling sama temen-temen Mama. Makanya kamu cepetan nikah lagi ya, urus perceraian kamu sama Renata secepatnya. Nanti kamu Mama kenalin sama anak teman Mama. Lagian kamu sama Renata juga udah nggak ada komunikasi lagi. Buat apa kamu gantung hubungan kayak gini, kan?!" bujuk ibunya. Liam hanya diam. Dia tidak berencana untuk bercerai juga tidak ingin memulai hubungannya lagi dengan Renata. Sekarang yang ia pikirkan hanya Aiden.
"Udah lah, Mah. Jangan ngaco. Kalo aku cerai dari Renata, aku juga nggak akan langsung nikah lagi. Mungkin juga nggak akan nikah lagi," ucap Liam santai, tapi seperti pukulan bagi ibunya.
"Kamu jangan ngaco ngomongnya. Kamu itu butuh istri, butuh anak, siapa yang urus kamu kalo Mama nggak ada? Kamu itu nggak punya kakak ataupun adik. Jadi kamu harus punya keturunan buat masa tua kamu nanti. Mama juga pengen cucu, biar Mama semangat lagi kayak dulu," tukas Anin tidak terima.
"Aiden kan udah ada. Itu anak aku," ucap Liam santai.
__ADS_1
"Kamu jangan macam-macam ya, Li. Mama nggak suka kamu ngomong gitu. Kamu harus nikah sama orang lain. Kamu nggak bisa harapin apa-apa dari Aiden, Aiden itu akan di jauhin dari kamu sama ibunya. Apa di dunia ini cuman ada satu perempuan. Banyak perempuan baik di luar sana," ucap Anin yang mulai terlihat emosional. Sedangkan Liam masih santai menanggapinya dan masih sibuk dengan sosmednya.
"Banyak, cuman nggak semua baik dan cocok. Malas penjajakan terus. Jadi yaudah, Liam nggak minat buat nikah lagi. Udah sekali ini saja," ucap Liam masih santai. Sedangkan Anin mulai tidak tahan dengan tingkah Liam yang terlihat sengaja bersikap menyebalkan begitu.
Anin segera bangkit dan pergi ke kamarnya. Liam menatap kepergian Anin sekilas lalu menyunggingkan senyumannya karena berhasil membalas ibunya atas sikap ibunya yang menyebalkan akhir-akhir ini.
***
Di lain sisi, Renata tampak bercengkrama bersama Lusi dengan Aiden di gendongannya.
"Tadi Liam ke sini, loh. Dia main sama Aiden lama, tapi Aiden nya anteng banget nggak pakek nangis. Mereka ketawa-ketawa," ucap Lusi memanas-manasi rasa kepo Renata terhadap Liam.
"Bukannya kamu masuk siang tadi, ya?" tukas Renata penuh selidik.
"Dia juga makan di sini tadi. Kasian dia kurusan. Mungkin Anin tidak merawatnya dengan baik," tambah Lidya masih datar tanpa rasa bersalah.
"Apa urusannya sama aku, Mah. Kita itu sudah cerai," ucap Renata tidak peduli.
"Kapan kalian cerai? Kan kamu belum di kasih akta cerai? Dia juga tidak pernah talak kamu, Re. Dia kasih uang bulanan buat kamu tiap bulan. Itu artinya kalian masih sah suami istri. Dia memenuhi nafkahnya dan tidak pernah mengatakan talak secara langsung dan kasih kamu uang bulanan selalu tepat waktu," terang ibunya. Yang membuat Renata terdiam.
"Kalau dia mau tinggal disini sama kita pun juga boleh. Dari pada di rumah dia sendirian," tambah ibunya.
"Aku sudah tanda tangan surat cerai yang dia kirim, Mah," tukas Renata tidak mau kalah.
__ADS_1
"Itu bisa aja mertua lo yang buat, Re," celetuk Lusi. "Tanya aja sama Liam. Dia udah tanda tangan belum surat cerainya," ucap Lusi lagi. Renata tampak berpikir sejenak. Dia segera mengambil handphone nya dan menyerahkan Aiden pada Lusi. Renata segera mencari nomor Liam.
Tertulis di sana 'Liam Breng**k' Jelas alasannya karena Renata yang masih kesal pada Liam.
Renata mulai menelpon Liam.
"📞 Halo" jawab Liam dari seberang sana.
"📞Aku mau tanya tentang surat cerai yang di kirim sama aku waktu itu. Kamu sudah terima kan surat cerainya? Kamu sudah tanda tangan kan. Mana akta cerai kita?" tanya Renata langsung.
Tanpa Renata sadari Liam tengah tersenyum menahan tawanya.
"📞 Surat apa, ya? Aku nggak ngerti! Tanya aja sama Mama, mungkin dia yang tau," ucap Liam pura-pura. Liam tau betul, Renata tidak mungkin menanyakannya pada ibunya langsung. Mana mungkin Renata berani menemui ibu mertuanya itu. Renata langsung mematikan sambungan telponnya.
"Udah berakhir di tempat sampah Renata Auristela," gumam Liam seraya terkekeh.
***
Sedangkan Renata malah jadi bingung. Tapi ada senyum tipis di bibirnya.
"Belum cerein gue, tapi nggak pernah usaha buat hubungin gue. Dasar lakik breng**k," rutuk Renata kesal.
BERSAMBUNG...
__ADS_1