Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Jangan Pergi


__ADS_3

Malam itu mereka makan malam bersama, walau terasa sangat canggung. Lidya berusaha membuat suasana menjadi nyaman. Itu terlihat dari dia yang terus berusaha ramah dan menyapa Liam. Renata melihat itu juga, ia tahu ibunya itu sangat menginginkan Liam untuk bersamanya.


"Kamu di rumah sama siapa?" tanya Lidya yang di tuju pada Liam.


"Sendirian, mama lagi pergi," jawab Liam masih dengan menyantap makan malam mereka. Sedangkan Renata masih diam sesekali melirik Liam.


"Aiden masih sakit, malam ini kamu tidur di sini saja. Nanti kalau ada apa-apa sama Aiden kan kamu juga ada buat bantu," terang Lidya yang membuat Liam terdiam dan speechless, ia menahan senyum bahagianya. Ingin rasanya dia melompat kegirangan saat mendengar lampu hijau itu, tapi dia berusaha menyembunyikan perasaannya itu. Ia pura-pura setenang mungkin.


Sedangkan Renata entah apa yang ia rasakan. Dia tampak tenang walau dia sempat melirik tajam sekilas pada ibunya atas keputusan berani ibunya itu. Tapi mungkin karena memang putranya itu juga membutuhkan ayahnya untuk saat ini, dia pun mengalah tanpa banyak membantah.


...***...


Selesai dengan makan malam mereka, Liam mengambil Aiden dari gendongan Lidya. Dia bermain bersama Aiden yang tampak sudah bisa tertawa dan bermain. Panas tubuhnya pun sudah mulai normal.


"Lihat itu! Anak kamu butuh bapaknya. Sudah jangan keras kepala kamu. Mau dapat di mana lagi suami sebaik itu," ucap Lidya seraya menyerahkan setumpuk pakaian Aiden yang sudah di rapihkannya kepada Renata.


Renata menata ayah dan anak yang sedang asyik bermain bersama itu. Liam melirik Renata, Renata langsung pura-pura masuk kamar seraya menenteng tumpukan pakaian Aiden yang di serahkan ibunya itu.

__ADS_1


Aiden di ruang keluarga tampak bahagia bercanda bersama Liam yang memang notabene nya sangat menyukai anak kecil itu.


Lidya terus melihat ayah dan anak itu bermain dan tertawa dengan seutas senyuman tipis yang menunjukkan kebahagiaannya. Renata pun menatap nya dari kamar.


Dia mulai berpikir. Beberapa saat bersama Liam bisa membuat Aiden tidak ingin berpisah dari Liam. Bahkan dia bisa sakit saat Liam beberapa hari tidak mengunjunginya. Itu seolah menyadarkan Renata, betapa anaknya itu membutuhkan ayahnya disisinya.


...***...


Setelah Aiden tertidur, Liam segera berkemas bersiap untuk pulang. Renata yang melihat Liam yang bersiap akan pergi. Langsung keluar dari kamarnya.


"Pulang," jawab Liam singkat seraya memasang sepatunya.


"Bu_Bukannya kamu sendirian di rumah, ngapain pulang? Nginap aja di sini sekalian nemenin Aiden yang lagi sakit," ucap Renata agak ragu.


Liam menoleh padanya. Dia melihat wajah malu dan canggung Renata. Liam menarik nafas dan berpikir sejenak.


"Aku hanya akan datang waktu kamu sudah yakin sepenuh hati, Re," ucap Liam seraya bangkit dan mengusap kepala Renata. Ia bersiap akan pergi tapi dengan cepat Renata menarik tangan Liam.

__ADS_1


"Tunggu ...," cegah Renata menarik tangan Liam. Liam berbalik dan menoleh pada Renata.


"Hmmm...?!" gumam Liam seraya menoleh pada Renata yang masih memegang tangannya.


"Menginap lah di sini ... i_ini rumahmu juga, kan ... ?! Kita masih suami istri, kan ... ? Ka_kamu bilang, kamu nggak pernah cerein aku," ucap Renata gugup, tangannya terasa sangat dingin dan expresi nya juga gelisah. Tatapannya juga terlihat penuh harap. Liam tersenyum menahan tawa melihat expresi lucu itu.


"Tapi kamu bilang kamu nggak bisa. Aku nggak bermaksud paksa kamu, kalo memang kamu nggak bisa percaya sama aku," ucap Liam dan seketika Renata berhamburan ke pelukan Liam. Liam yang kaget hanya terpaku. Dia bingung harus bagaimana, tapi berlahan tangannya terangkat dan berlahan senyumnya terukir dari wajahnya.


"Aku nggak peduli kamu akan ninggalin aku atau akan tetap bertahan dengan hubungan kita," ucap Renata yang kali ini ia menatap mata Liam. "Yang jelas ... Hidup tanpa kamu dan berusaha keras menyembunyikan perasaan aku. Aku nggak kuat," ucap Renata yang tanpa ia sadari air matanya mengalir seperti mata air. Liam mengusap air mata itu dengan penuh cinta.


"Aku juga. Ayo kita mulai hubungan kita walau dengan cara yang mungkin tidak sama dengan orang lain. Tapi percayalah, Re. Aku nggak akan khianatin kamu. Aku janji ....," ucap Liam tulus. Renata tersenyum lalu kembali memeluk erat suaminya itu.


Mungkin saat ini tuhan sedang menjawab doa-doanya yang selalu di panjatkan dan mereka harapkan. Hari ini satu awal yang baik untuk memulai hubungan mereka kembali. Liam tersenyum haru, dia mendekap erat Renata yang sama eratnya memeluk Liam.


Apapun yang memisahkan mereka pada akhirnya mereka tetap tidak bisa hidup tanpa satu sama lainnya. Cinta mereka terlalu kuat untuk di munafikkkan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2