
Liam tidur di kamar sendirian karena Renata yang tengah sibuk menemani ibunya yang sakit di kamar sebelah. Sedangkan Anin sudah pulang kekediaman nya. Kini tinggal Liam dan Renata yang tampaknya terlibat perang dingin. Mereka tidak saling sapa. Renata bahkan tidak menyapa Liam sama sekali.
Di tengah malam Liam mulai merasakan sakit di perutnya. Dia lupa jika dia belum makan sedari tadi siang. Mungkin maagnya mulai kambuh. Dia pun segera mengambil obat cairnya di tempat kotak obat di lemari yang memang selalu Liam siapkan untuk keadaan seperti ini.
Selesai meminum obatnya beberapa saat. Liam masih merasakan sakit di perutnya. Liam mulai uring-uringan tidurnya, dia sama sekali tidak nyaman dengan keadaannya. Dia pun segera turun untuk makan, walau tidak ada selera sama sekali. Mungkin karena dia juga tengah stress dengan permasalahan yang ada membuat dia kehilangan selera makannya.
Saat keluar dari kamar Renata melihat Liam yang turun menuju dapur, Renata sedang malas memperdulikan Liam. Dia sibuk mengurus ibunya dan Aiden, dia juga berencana untuk pergi bersama ibunya besok.
'Aku tidak mau kehilangan ibuku lagi, Liam. Kamu ingin mempertahankan ibumu? Aku juga. Aku tidak bisa membiarkan ibuku pergi membuang dirinya seperti keinginan kalian,' batin Renata sambil terus menyusun barang-barangnya dan Aiden kedalam koper.
Liam masih tidak menyadari rencana Renata itu
...***...
Anin ternyata tidak langsung pulang, tapi dia menuju ke kediaman Ana. Di rumah Ana, Anin menceritakan semuanya. Ana tersenyum saat mendengar cerita Anin.
"Mbak, sudah lah. Ini sudah terlanjur, Liam sudah menikahi Renata dan mereka juga sudah punya Aiden kan. Kalau mbak keras kepala dan semuanya keras kepala, yang ada rumah tangga Liam berantakan dan Aiden terlantar. Renata itu sangat bergantung pada Liam. Kalau Liam meninggalkan dia maka otomatis Aiden akan luntang-lantung bersama Renata. Renata itu banyak tanggungan nya. Neneknya, adiknya, sekarang ibunya juga. Tidak apa-apa lah kalau memang dia harus Liam mengalah sedikit dulu," nasehat Ana bijak.
Anin tidak menjawab apapun. Dia diam dengan mata sembab yang kosong dengan bersandar di sofa. Ana pun mengusap bahu kakaknya itu.
"Mbak, ayolah berdamai dengan masa lalumu mbak," bujuk Ana lembut.
"Entah lah, An. Aku merasa di khianati sama Liam dan Renata. Aku merasa Mauren tengah ngertawain aku sekarang," ucap Anin yang tanpa sadar air matanya menetes dan ia dengan segera menyekanya.
__ADS_1
Masih terngiang di ingatan nya bagaimana Mauren menyeringai tersenyum penuh kemenangan saat di kantor polisi waktu itu. Anin sangat muak melihatnya waktu itu.
***
Di kamarnya Liam mulai tidak tahan dengan perutnya. Dia bahkan beberapa kali muntah. Semalaman dia tidak bisa tidur karena itu. Tapi Renata tidak menyadari itu dia sibuk dengan rencana kepergiannya bersama ibunya.
Liam mulai lemas. Setelah semalaman tidak bisa tidur akhirnya Liam tertidur saat pagi hari menjelang. Hingga Liam tidak menyadari kepergian Renata, Aiden dan mertuanya. Dia sudah terlalu lelah dari semalaman tidak bisa tidur.
Renata menatap kesal pada Liam yang terlihat asyik tertidur dengan posisi meringkuk di dalam selimut. Renata tidak menyadari jika Liam juga dalam keadaan sakit. Liam tengah tertidur dalam keadaan tidak baik lagi.
"Aku pergi antar Mama pulang ke tempat nenek dulu," pamit Renata ala kadarnya. Renata menatap Liam yg masih saja tidur. Tidak ada reaksi apapun dari Liam. Dia masih asyik dengan tidur dan mimpinya. Itu membuat Renata menjadi kesal karena merasa diabaikan dengan keadaan ibunya yang sakit Liam seolah-olah tidak peduli padanya dan keadaan ibunya. Renata menekuk wajahnya kesal lalu dengan kasar membanting kopernya dan menyeretnya. Dia pun segera pergi seraya menarik kopernya.
Tanpa Renata sadari Liam terbangun tapi terlalu lemah untuk memanggil Renata kembali. Hingga dia hanya menatap pasrah kepergian Renata. Karena tiba-tiba Liam kembali merasakan sakit di perutnya.
"Kamu sudah bilang sama Liam kalau kamu mau pergi?" tanya Lidya yang heran melihat Liam tidak turun.
"Udah. Tapi dia diem aja. Udah lah, Mah. Biarin aja dia," ucap Renata bersikap dingin.
Tanpa Liam ketahui semalam Anin telah memaki Renata dengan kata-kata yang menyakitkan. Itu pula yang membuat Renata bertekad akan meninggalkan Liam. Dia akan pergi jauh dari Liam jika memang kehadirannya dan ibunya membuat kekacauan di keluarga Liam.
'Terima kasih untuk semua kasih yang tulus mu, Li. Kamu laki-laki yang paling baik yang pernah aku kenal. Aku tidak akan membebani kamu dengan pilihan yang sulit. Kamu akan dapatkan orang yang lebih baik dari aku,' batin Renata berat. Jelas dia tidak ikhlas dengan keputusannya saat ini. Tapi bertahan disini bersama Liam juga akan membuat perdebatan dan permusuhan bagi Liam dan ibunya. Dia tidak ingin menyulitkan Liam dengan itu.
Ucapan ibu Liam padanya sudah cukup jelas semalam, jika dia tidak ingin Renata dan Aiden menjadi bagian dari keluarganya lagi. Liam pun kelihatannya juga mulai lelah dengan drama ini. Dari tadi bahkan hingga saat ini Liam masih belum bangun seolah-olah sengaja menghindarinya.
__ADS_1
Renata dan ibunya bersama Aiden pun pergi. Renata menutup pintunya berlahan. Sekali lagi menatap kearah kamarnya, seolah hati kecil nya meragukan keputusannya saat ini tapi pikirannya mengatakan hal sebaliknya. Renata pun memejamkan matanya dan melangkah pergi.
'Aku hanya ingin melindungi semuanya, Li. Aku tidak bisa membiarkan ibuku pergi. Jika kau sudah tenang, kau tau kemana harus mencari aku kan?! Aku dan Aiden akan menunggumu,' Batin Renata lagi. Lalu melanjutkan perjalanannya.
"Anin memang begitu, seharusnya kamu jangan terlalu ambil hati. Dia hanya ingin Mama pergi, semua akan beres kalau Mama pergi. Liam itu anak tunggal, dia tidak akan mau kehilangan Aiden. Kamu pergi lah bersama Liam. Mama sudah puas dengan semua yang Mama dapatkan. Mama benar-benar tidak apa-apa, Re," bujuk ibunya lagi.
"Tidak apa-apa, Ma. Mama yang lebih membutuhkan Rere sekarang," ucap Renata lalu melangkah dengan hati yang mantap walau Lidya terlihat masih berat melihat Renata pergi tanpa pamit seperti ini.
***
Di sisi lain, Liam baru terbangun setelah semalaman dia tidak bisa tidur. Dia merasa perih di tenggorokannya. Mungkin keadaannya pun sedang tidak baik. Mual dan perih di perutnya semakin terasa, Liam pun berlari ke kamar mandi. Dia kembali muntah dan itu membuat tenggorokannya semakin perih dan ulu hatinya pun ikut terasa perih. Untuk mengurangi rasa tidak enak di mulutnya dia menggosok gigi dan berkumur dengan obat kumur, tapi itu hanya membantunya sedikit. Perihnya masih tetap terasa.
Liam keluar dari kamar mandi dan masih tidak menyadari kepergian Renata dan Aiden. Dia kembali terbaring. Sesaat dia sadar. Keadaannya rumahnya terlalu sunyi. Sangat sunyi dan kosong.
'Kosong?!' Liam seolah tersadar. Dia memaksa untuk bangkit dan melihat kesekeliling,
'Barang-barang Aiden mana?' serunya membatin. Dia pun membuka lemari pakaian.
'Pakaian Renata?!'
Liam keluar dan sesaat dia lupa dengan sakitnya.
'ouh ... Tidak, kalian pergi. Kalian pergi ....,' batin Liam dengan pandangan nanar kini dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Liam merasa pandangannya semakin buram dan ... BRUK. Dia terjatuh di ruang tamu.
__ADS_1