
Renata dan ibunya baru sampai di Jakarta. Mereka berangkat dengan pesawat dan di sambut Lusi dan Miko kedatangannya.
Renata sangat kaget dengan mobil yang di gunakan Miko untuk menjemputnya. Sejenis mobil ford ranger dengan bawaan penuh di belakang. Renata terbelalak menatap mobil jemputan mereka. Sedangkan Lidya hanya tertawa melihatnya.
"Mobilnya bagus," puji Lidya.
"Bagus apaan. Mana barang bawaannya penuh lagi di belakang, penuh lumpur gini. Mobil siapa sih yang lo colong, Mik?" tanya Renata sedikit jijik melihat mobil yang penuh lumpur dan barang bawaan di bak belakangnya itu.
"Ini mobil paman gue. Habis lo mintak jemputnya mendadak. Ya udah, gue pakek yang ada aja," terang Miko santai. "Lagian kenapa nggak mintak jemput Liam aja, sih. Mobil dia kan bagus, BMW. Nyaman, mewah, bersih, Wangi," ucap Miko seraya menggoda Aiden yang tengah di gendongannya. Renata hanya terdiam. Melihat suasana yang mulai canggung, Lusi pun segera mencairkannya.
"Udah ah, kan mau buat kejutan buat ayah, ya Aiden, ya. Ayah pasti kaget lihat anaknya udah gede," ucap Lusi seraya ikutan menggoda Aiden yang terkekeh itu. Aiden memang tipe anak laki-laki yang mudah untuk di buat tertawa. Di usianya yang menginjak 8 bulan itu Aiden tumbuh menjadi bayi sehat yang menggemaskan.
__ADS_1
"Mirip bule Re nih Aiden. Lo selingkuh ya," tuding Miko asal seraya terkekeh dan di sambut tamparan dari Renata ke pundak tambun Miko.
"Bapaknya kan emang keturunan Jerman-Indo. Neneknya Jepang-Indo," terang Renata.
"Darah gado-gado kamu ya, bikin om laper aja, om makan nih ya," goda Miko lagi. Membuat yang lain ikut tertawa dan tidak berapa lama mereka pun segera pergi.
***
Tidak Lama datang Bimo menghampirinya. Mereka memang sudah janji untuk bertemu. Dia menyerahkan sebuah map pada Liam.
"Nih desainnya. Udah gue perbaiki tuh. Lain kali lo kalo kerja jangan ngaco lagi. Kalo emang lo nggak bisa konsen, serahin aja ke gue. Kita kan saudara, Li. Lo bisa kok mintak bantuan gue kapanpun lo butuhkan," ucap Bimo yang merupakan teknik sipil di tim desain Liam. Liam hanya tersenyum dan menatap Bimo sekilas. Liam masih menatap map itu.
"Eh, Li. Gio udah pulang kemaren. Dia nggak ngamukin lo, kan?" tanya Bimo.
__ADS_1
"Nggak tau. Biarin aja, Gio pasti paham lah dengan kelakuan Laura. Gue salah telfon malam itu, maunya nelfon elo. Eh malah dia yang datang. Ya udah lah, lagian gue udah mulai berasa nggak enak mau istirahat," terang Liam, Bimo hanya terkekeh mendengar penjelasan Liam yang masih fokus dengan map dan laptopnya.
"Laura itu unik, ya. Dia seenaknya tapi lucu. Cara dia protes sama Gio itu absurd banget. Dari pada ngomel dia malah milih cara tak terduga gitu, sampe Gio langsung balik jadinya," ucap Bimo seraya terkekeh dan Liam pun ikut terkekeh mendengarnya.
"Laura itu nggak bisa ngomel. Dia selalu bersikap nyebelin kalo dia marah. Dia selingkuh dari gue berkali-kali juga gitu, kalo gue salah dia pasti deketin orang lain. Ntar di tanya ada apa, baru deh dia ngeluh, itu pun butuh imajinasi tinggi buat gue paham bahas dia. Ntar kalo gue udah mintak maaf, dia putusin sendiri pacar-pacarnya yang lain, kadang di tinggal seenaknya gitu aja dan bersikap seolah-olah nggak ada apa-apa," kenang Liam santai. "Dia terlalu liar, itu yang bikin dia butuh orang keras kayak Gio. Ada satu hal yang gue kagum sama dia, dia itu bukan tipe orang munafik, dia juga nggak punya rasa benci ataupun dendam, kalo salah dia langsung balas terus dia lupa. Hidup dia itu santai nggak ada beban berat," Terang Liam yang terdengar sangat mengenal Laura. Bimo tersenyum simpul mendengar penjelasan sepupunya itu tentang Laura mantan kekasihnya.
...***...
Di sisi Lain Laura tampak sendirian lagi. Dia tengah menikmati malamnya di sebuah bar dan diam-diam berharap Liam akan kesana lagi malam ini.
Tapi setelah sekian lama menunggu dia sadar Liam tidak mungkin datang malam ini. Dia melihat ke sekeliling dan memang tidak ada tanda-tanda jika Liam akan datang. Akhirnya dia pun pergi meninggalkan bar itu. Bagi Laura cinta itu bukan paksaan, dia tidak ingin. mendekati Liam dengan paksa lagi, jika memang mereka di takdirkan untuk bersama. Maka Liam akan kembali padanya dengan caranya suatu saat nanti.
BERSAMBUNG...
__ADS_1