Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Kunjungan Rekan Kerja


__ADS_3

Sepulang dari kerja, Rekan Liam beramai-ramai akan mengunjungi kediaman Liam untuk menjenguk bayi Liam yang baru lahir. Liam pun menelepon Renata untuk hal itu.


"Re, temen-temen mau ke rumah, ya," ucap Liam memberitahu dan mematikan handphone nya.


"Mah, teman-teman Liam mau kesini," ucap Renata pada ibunya. Ibunya langsung senyum sumringah mendengar cucunya akan kedatangan tamu.


"Wah, Aiden mau ada yang datang liat cucu ganteng nenek katanya," seru Lidya pada cucu kesayangan nya itu.


"Yaudah Mama, Masak sedikit lagi, itu masih ada bahannya. Mereka pulang kerja pasti capek," ucap Lidya bersemangat.


"Mah, kan Mama habis masak juga tadi. Nggak usah, Mah, nanti Mama capek," ucap Renata khawatir.


"Nggak, Mama masih kuat, kok," ucap Lidya lagi dengan semangat.


Lalu dia pun kembali menyiapkan masakannya. Walau sebenarnya dia memang sudah kelelahan, tapi dia tidak perduli. Dia terlalu bersemangat saat ini. Berkali-kali dia ke kamar mandi untuk buang air kecil, dan selalu minum air. Itu menunjukkan jika dia mulai kelelahan. Tapi dia tetap memaksakan diri.


Akhirnya semua selesai, semua masakan sudah siap, sekarang dia tinggal menyambut kedatangan menantu dan rekan kerjanya saja lagi. Dia pun beristirahat sejenak di sofa ruang keluarga itu.



Lidya mencoba merenggangkan ototnya, dia mulai kelelahan sekarang, dia sudah minum cukup banyak dan buang air kecil berkali-kali, itu juga alasan dia kelelahan.


Tidak Lama terdengar ada orang datang. Ternyata dia sudah datang bersama rekan kerjanya yang cukup ramai. Lidya segera berdiri menyambut mereka semua dengan ramah.


"Ini siapa, Li?" bisik salah seorang rekan kerjanya pada Liam dengan Lidya. Lidya yang melihat sikap kaku Liam yang bingung mengatakan siapa dia pun segera menyahut.


"Saya asisten rumah tangga di sini. Saya bantu-bantu karena buk Renata baru melahirkan," ucap Lidya tanpa beban mengatakan dia adalah pembantu.

__ADS_1


Liam tertegun menelan ludahnya yang terasa pahit dan dia pun tertunduk, Bimo yang juga ada di sana tahu betul bagaimana perasaan menantu dan mertua itu. Dia menatap Liam dan Lidya bergantian. Tapi Lidya segera mencairkan suasana dengan mempersilahkan tamunya itu masuk dengan ramah.


Walau dia merasa sedikit canggung karena Liam yang terlihat shock dengan kehadirannya dan pernyataan nya barusan. Sekali lagi Liam menatap Lidya dengan perasaan bersalah Lidya hanya tersenyum seolah berkata 'Tidak apa-apa'. Tapi mereka berdua segera bersikap normal dan menutupi perasaan kaget mereka itu.


" Mana bayinya, Li?" tanya salah seorang rekan kerja Liam. Lidya pun segera memanggil Renata ke kamarnya. Renata segera datang dengan menggendong Aiden keluar menemui rekan kerja Liam.


Dia duduk di samping Liam yang di sambut hangat Liam dengan senyum sumringah, karena memang dia sudah sangat merindukan putranya itu.


Melihat kebahagiaan Liam dan Renata itu membuat salah seorang menyeletuk.


"Ah, gue jadi baper pengen cepet kawin," celetuk salah seorang wanita rekan kerja Liam.


"Kawin mah lo udah, ijab kabulnya yang entah kapan?" celetuk yang lain dan di sambut tawaan dari yang lain. Mereka memang sudah biasa bercanda begitu. Karena sudah dekat jadi jarang ada yang tersinggung.


Sesaat kemudian Lidya berseru.


"Ini masakannya sudah siap. Makan saja dulu, kalian kan baru pulang kerja, pasti lapar," ucap Lidya ramah dan mereka pun segera menuju meja makan.



...(Hidangan makan malam)...


Setelah siap semua mereka pun segera menyantap makanan mereka. Mereka berkali-kali memuji masakan Lidya enak dan mereka sangat menikmatinya. Saat sedang asyik makan tiba-tiba ada yang kekurangan sendoknya salah seorang rekan kerja Liam pun segera memanggil Lidya.


"Bik! Ambilin sendok, donk," sahut salah seorang dari mereka. Liam kaget saat mertuanya benar-benar dianggap pembantu. Liam dengan cepat berdiri mengambil sendiri sendok nya di lemari dan menyerahkannya kepadapada rekannya itu.


Sedangkan yang lain hanya menatap aneh pada Liam yang terlihat sangat menjaga perasaan pembantunya itu. Dia dari tadi berkali-kali terlihat turun tangan langsung membantu pembantunya dengan tatapan sungkan, itu terlihat aneh bagi rekan kerjanya. Tapi tidak ada yang berani bersuara.

__ADS_1


Renata yang tengah duduk di sofa seraya menggendong bayinya itu langsung menatap tajam kepada rekan kerja Liam itu dan juga menatap Liam yang dengan kesal juga karena sudah membiarkan hal itu terjadi. Dia bersiap akan menjelaskan siapa Lidya sebenarnya, tapi belum juga Renata bicara dia segera di tahan Lidya.


"Jangan, Mama sendiri tadi yang bilang kalau Mama pembantu di sini," ungkap Lidya yang membuat Renata kaget, tapi Renata segera paham akan situasinya.


Dia menatap keadaannya dan menatap Liam yang tengah bercengkrama akrab bersama rekan kerjanya dengan rasa yang masih kesal. Tapi Renata segera meluruskan pikirannya, setidaknya Liam tidak memperlakukan ibunya seperti pembantu juga, namun tetap saja itu menyebalkan, semua orang menganggap ibunya pembantu dan Liam membiarkan rekan kerjanya menganggap ibunya begitu.


Selesai makan malam mereka mulai menyerahkan kado dan bingkisan untuk bayi Liam dan Renata. Renata tampak berusaha tersenyum menerimanya, karena dia sudah terlanjur sakit hati ibunya dianggap pembantu.


Liam melihat ekspresi itu, dia sedikit tidak menyukai sikap Renata kepada rekan kerjanya itu.


Setelah semua selesai mereka pun pulang. Lidya segera bersiap membereskan semua, Liam pun segera membantunya, Renata segera ke kamar membawa bayinya ke kamar.


Sedangkan di bawah Liam membantu Lidya membereskan semuanya. Dia merasa tidak enak hati melihat Lidya harus bekerja di rumahnya.


"Tidak apa-apa, kamu istirahat saja. Biar saya yang bereskan," ucap Lidya seraya beres-beres.


"Anda pasti juga capek dari tadi menyiapkan ini semua sendirian. Istirahat saja," ucap Liam canggung. Lidya terkekeh mendengarnya


"Kalau begitu, kita kerjakan bersama saja," ucap Lidya seraya tersenyum bahagia. Sedangkan Liam hanya tersenyum canggung.


"Oh iya, uang yang anda butuhkan sudah siap. Mau di transfer?" ucap Liam hati-hati. Lidya menghentikan pekerjaannya. Dan menatap Liam. Liam pun menatapnya.


"Boleh saya minta tolong sekali lagi?" tanya Lidya dengan tatapan penuh harap. Liam mengangguk ragu. Tapi dia juga penasaran apa yang di ingin kan Lidya darinya.


"Tolong, antar aku membayarnya. Aku tidak kuat lagi berjalan jauh. Aku juga harus cepat mengantarkan nya, sebelum aku terlambat," ucap Lidya yang membuat Liam semakin penasaran. Tapi dia tidak berani bertanya.


"Lusa aku libur, kita bisa pergi," ucap Liam tanpa banyak tanya lagi.

__ADS_1


"Terimakasih, kamu anak yang baik. Aku titip anak dan cucuku," itu membuat Liam tidak tega mendengar nya. Karena pekerjaan mereka yang juga sudah selesai, Liam pun segera ke kamarnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2