
Di pagi yang cerah, berlahan cahaya mentari di pagi hari masuk ke kamar Liam. Cahayanya yang terang ikut membuat Liam terbangun dari tidurnya. Liam bangkit dan berjalan berlahan ke terasnya. Dia memang belum mulai bekerja. Dia diminta untuk beristirahat dulu pasca sakitnya tempo hari.
Liam duduk di sebuah kursi di balkonnya. Sambil menikmati udara pagi.Setelah kejadian semalam, Liam tidak bisa tidur dengan nyenyak. Ucapan ibunya yang mengatakan Renata tidak pernah menganggapnya penting, itu selalu menghantui Liam.
Liam mengambil handphone nya. Dia mencoba menghubungi Renata dengan ragu. Setelah beberapa kali mencoba tapi Liam tetap tidak bisa menghubunginya. Liam tersenyum miris, nomor Liam sudah di blokir oleh Renata. Hingga dia tidak bisa menghubunginya lagi.
'Apa aku benar-benar tidak penting untukmu, Re?' batin Liam kembali kecewa. Dia melempar pandangannya ke halaman belakang rumahnya itu.
Liam mencoba membuka medsosnya, di sana dia menemukan sebuah tulisan yang seolah menggambarkan perasaannya saat ini.
Pernah merasakan sakit? Tapi kau tetap memperjuangkannya?
Mungkin bukan masalah kau yang kurang gigih, tapi kau yang keras kepala. saat tuhan gagalkan engkau dan kecewakan engkau berkali-kali, kau tetap memperjuangkan orang yang sama. Itu yang membuat kau sakit, kau memperjuangkan sesuatu yang salah terlalu kuat.
Lepaskan, mungkin hati mu bisa tenang dengan begitu.
Berhentilah, mungkin kau sudah terlalu jauh melanggar batasanmu.
Kau tau? Cinta memang layak di perjuangkan, tapi cinta tidak pernah menyakiti. Itu artinya yang sekarang kau perjuangkan bukan lah cintamu, tapi obsesimu.
Cinta itu lembut, dia tak akan menyakiti siapapun yang tulus menginginkan nya. Hanya saja terkadang orang-orang sering salah mengenalinya. Lepaskan lah, mungkin sekarang yang tengah kau perjuangkan adalah obsesi mu bukan cintamu lagi.
Jatuh itu masalah biasa, yang perlu kau pikirkan bukan bagaimana kau bisa terjatuh, tapi bagaimana kau bisa bangkit.
__ADS_1
Itu yang penting .
Liam membaca tulisan itu berkali-kali, Liam kembali berpikir. Apa yang sekarang tengah ia perjuangkan bukan lagi cinta? Apa ini sudah berubah menjadi obsesi? Liam menarik nafas panjang dan melepaskannya berlahan.
Kenapa dia merasa sudah tidak memiliki siapapun lagi sekarang. Kenapa dia merasa sendirian saat ini. Dia hanya ingin seseorang yang setia di sampingnya. Apa sesulit itukah untuk dia mendapatkannya? Apa dia tidak pantas untuk mendapatkan itu semua? Liam kembali terdiam dan termenung.
Ana yang kebetulan lewat di depan kamar Liam melihat Liam yang sedang duduk bersandar di ranjang tengah menatap kosong keluar jendelanya. Dia terlihat banyak pikiran dan beban. Setelah menatap Liam beberapa saat, lalu Ana pun pergi.
Di ruang keluarga Ana melihat Anin tengah duduk santai dengan segelas teh hijaunya. Dia tampak lebih tenang dan terkesan biasa-biasa saja pasca kepergian menantu dan cucunya.
"Kamu nggak khawatir mbak sama Liam?" tanya Ana pada kakaknya tampak tidak ada minat sama sekali untuk membuat Renata kembali. Atau pun memperbaiki semua kekacauan ini.
"Khawatir tentang apa, An? Liam masih muda, masih juga 29 tahun. Masih banyak wanita yang antri untuknya. Anakku itu tampan, An. Aku malah merasa senang, sekarang perempuan itu menyingkir tanpa banyak usaha dariku. Tadinya aku pikir akan sulit menyingkirkan dia dan ibunya dari Liam," ungkap Anin dengan senyuman tipis.
"Mbak, kamu nggak sayang apa sama Aiden? Renata itu juga perempuan yang baik, kalo mereka bertengkar itu masalah biasa. Kalo memang masih bisa di bicarakan kenapa nggak, mbak," ungkap Ana berusaha membuat kakaknya mau membantu Liam.
"Mbak, Aiden itu cucumu loh, mbak. Anak kandung Liam. Kamu nggak boleh ngomong gitu. Kamu seolah-olah ingin mencampakkan Aiden juga. Aiden nggak ada hubungannya dengan ini semua. Kamu mulai ngelantur, mbak," ucap Ana kesal.
"Kalo kamu nggak mau urus masalah ini. Biar aku yang bantu Liam. Kamu mulai ngawur," Ana pun meninggalkan Anin sendirian di sofa.
Anin masih tidak bergeming dari posisinya, dia masih menikmati teh hijaunya dengan seulas senyuman penuh arti seraya menatap keluar jendela.
...***...
__ADS_1
Di lain sisi Renata masih tampak tidak bersemangat, pertengkaran kerasnya dengan mertuanya masih sangat membekas di ingatannya. Bukan hanya tamparan itu yang membuatnya sakit, tapi dia juga masih meragukan keputusannya saat ini.
Apa lagi sampai saat ini dia masih tidak bisa melupakan Liam. Dia terus merindukanmu laki-laki itu. Dia terus mengingat sosok Liam yang hangat dan penuh pengertian.
Renata memejamkan matanya dengan tangan yang terus mengayun Aiden di ayunannya. Lidya yang melihat itu segera menghampiri Renata.
"Maaf, gara-gara Mama semuanya kacau. Sekarang kalian jadi seperti ini. Seharusnya Mama tidak nekat menemui kalian. Seharusnya Mama segera pergi waktu itu," sesal Lidya.
Renata menatap ibunya.
"Mama tidak pernah membahagiakan kamu, Nak. Entah ibu macam apa Mama ini. Mungkin karmanya Mama seperti ini. Karena saat ada kesempatan Mama sia-siakan untuk diri Mama sendiri," ucap Lidya merasa hatinya tersayat. Dia merasa kehadirannya menjadi duri untuk siapapun yang ia temui. Renata menggenggam tangan ibunya.
"Rio saja sejak Mama di sini dia selalu menghindar dari Mama," ucap Lidya tersenyum miris.
Renata sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa memeluk ibunya itu.
"Mama berarti buat Rere. Mama jangan pergi. Ikut Rere kemanapun Rere pergi," ungkap Renata tulus.
Renata melepas pelukannya dan menatap ibunya yang terharu itu. Renata menyeka air mata ibunya.
Lalu ia memandang Aiden yang tengah terlelap tidur itu. Yang ia pikirkan adalah bagaimana dengan anaknya jika dia hidup tanpa Liam ayahnya. Dan dia juga tidak mungkin tetap tinggal di sini, tante Ayu selalu mencari masalah dengannya seolah ingin membuat Renata segera pergi.
"Ma, Rere Mau balik ke Jakarta saja, Rere mau kerja di sana. Rere mau mulai dari awal lagi," ucap Renata seperti sudah membulatkan tekatnya untuk tidak bergantung kepada siapapun lagi. "Anggap saja pernikahan ini adalah sebuah kesalahan, Ma. Biarlah, anggap saja ini tidak pernah terjadi. Mungkin dengan begitu semua akan jadi lebih baik untuk kita semua," ucap Renata dengan seulas senyuman yang ia paksakan.
__ADS_1
"Tidak, nak. Kamu tidak boleh berpisah dengan Liam. Kamu sangat menyayangi suamimu, Mama tau itu. Mama akan bicara dengan mertuamu. Jangan cepat mengambil keputusan, Re" ucap ibunya khawatir.
BERSAMBUNG...