
Renata mencoba untuk berdiri dan menatap mertuanya. Yang terlihat tidak bersahabat.
"Sudah saya ingatkan untuk menjauhi hidup kami, kenapa kamu masuk kembali di kehidupan kami? Apa masih tidak puas ibu kamu membuat saya kehilangan suami dan putri saya. Apa sekarang dia juga ingin merebut putra saya satu-satunya? Apa salah saya? Kenapa dia selalu ingin merebut semuanya dari saya?" teriak Anin histeris. Renata hanya terdiam kaget masih memegang pipinya.
"Menjauh lah, Aku mohon, menjauh lah...," ucap Anin histeris mulai tidak tahan menahan tangisnya yang mulai tak tertahankan seraya menangkup kan kedua tangannya seolah memohon pada Renata.
"Aku hanya ingin menyayangi orang yang aku cintai, kenapa aku di perlakukan seperti orang jahat? Aku bersamanya bukan berniat merebut dia dari Mama? Bukankah mamaku sudah meminta maaf? Dia berusaha membayar semua kesalahannya di masa lalu, dia juga menderita, Ma. Aku mohon, Ma, jangan kayak gini," ucap Renata seraya memegang kaki Anin untuk memohon padanya, berlahan mereka mulai menjadi pusat perhatian semua orang. Renata melihat kesekeliling dan tampak beberapa pasang mata melihat kearah mereka. untung di sini cukup sepi, sehingga hanya ada segelintir orang saja yang memperhatikan mereka. Anin pun terlihat risih dengan sikap Renata yang seperti sujud memohon padanya.
"Yang ibu kamu lakukan tidak mungkin bisa saya lupakan begitu saja, dan kapan dia pernah datang meminta maaf kepada saya? Dia hanya bersikap seperti orang yang menyedihkan saja, tapi di balik itu semua dia menghancurkan saya lagi," ucap Anin, Renata hanya tertunduk mendengarnya. "Menjauh lah dari kehidupan kami. Cukup sampai di sini hubungan kalian. Jangan menggoda anakku lagi. Aku mohon cari lah laki-laki lain, jangan anakku. Aku tidak punya siapapun selain dia. Aku mohon" ucap Anin kali ini nadanya terdengar balik memohon pada Renata, ia terduduk dengan linangan air mata yang terus membasahi wajahnya.
"Mama bersikap seolah-olah seperti aku adalah orang yang jahat, Ma. Bukankah aku merawat putra Mama dengan baik? Aku memberikan segalanya pada Liam. Hanya Liam laki-laki yang aku cintai. Aku tidak pernah ingin merebut dia dari Mama, kami ingin bahagia bersama Mama juga," ucap Renata yang kali mata mereka bertemu pandang. Anin melihat tatapan yang lembut dan tulus itu. Sungguh dia wanita yang sempurna dan baik untuk Liam. Tapi sakit hatinya tidak mungkin bisa ia terima.
Anin mengeraskan hatinya kembali, ia berdiri dan menyeka air matanya.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau ada diantara ibumu, seperti ini awalnya dulu. Dia aku anggap sahabat, lalu tiba-tiba dia merebut semuanya dariku. Aku tidak mungkin mempercayai penghianat sepertinya lagi. Dia tersenyum seolah seperti orang yang sangat tulus, lalu dia merebut semua nya dari ku. Bagaimana mungkin aku bisa mempercayainya? Dia datang seperti orang yang menyedihkan lalu aku mengasihaninya, tapi berlahan apa yang aku miliki mulai mengasingkan aku tanpa sepengetahuanku. Seperti itu ibumu masuk di keluargaku, persis seperti saat ini," ucap Anin yang membuat Renata terkejut. Dia menatap Anin yang bicara dengan linangan air mata penuh emosional. Dia tidak percaya bahwa ibunya juga mengenal ibu Liam saat bersama ayah Liam.
"Kalian bersahabat?" tanya Renata dengan tatapan tidak percaya.
"Iya, dia orang yang mengajari aku masak, karena dia ahlinya. Tapi tanpa sepengetahuanku dia malah dekat dengan suamiku, padahal dia datang padaku seperti seorang pengemis yang tersesat. Saat aku bantu dia dan derajatnya mulai naik, dia malah menikamku. Dia bilang dia hanya mengambil apa yang aku buang. Aku memang tidak memperlakukan Frans dengan baik, tapi Frans selalu bersikap baik padaku. Dan sejak dia datang Frans berubah," ucap Anin masih dalam keadaan menangis. Renata terdiam, mengetahui ibunya sejahat itu di masa lalu.
"Jadi ... aku mohon, jauhi putraku, jangan rebut dia dariku. Jangan buat ibumu merebutnya, hanya dia yang tersisa di hidupku," ucap Anin seraya menangkup kedua tangannya di hadapan Renata yang sudah berdiri.
Sekarang Renata tahu alasan Anin sangat membencinya, ibunya sudah menyakiti kepercayaan Anin sedalam itu ternyata. Ibunya tidak pernah bercerita jika dia bersahabat dengan Anin di masa lalu. Pantas dia bersikap seolah sangat mengenal Anin selama ini.
Renata menatap ibu mertuanya dalam.
"Aku mencintai Liam tulus, Mah. Aku sangat mencintainya. Aku tidak berniat merebutnya dari Mama. Jangan samakan aku dengan masa lalu Mama. Aku tidak punya siapapun selain Liam di hidupku. Anakku membutuhkan ayahnya, Mah," ucap Renata dengan wajah yang basah karena air mata.
__ADS_1
Tapi tetap saja dia tidak bisa menerima nya, karena dia adalah anak Mauren.
Sekarang dia menarik nafas panjang dan melepasnya berlahan untuk menenangkan dirinya. Dia menyeka air matanya dan menatap Renata dengan tatapan yang serius.
"Menjauh lah, ini peringatan dariku. Jangan dekati Liam lagi. Aku akan membiayai anakmu sampai dia lulus sekolah. Jangan khawatirkan itu," ucap Anin membuat Renata terdiam menatap Anin. Lalu ia pergi dengan langkah yang anggun. Sedangkan Renata langsung terduduk lemas. Dia tidak bisa melepaskan Liam begitu saja. Itu tidak mungkin.
Saat Anin berbalik, tepat Liam berdiri di belakangnya. Liam mendengar semuanya di balik tembok, Liam memang sering datang ke tempat Renata di waktu makan siang. Anin menatap putranya itu dengan tatapan penuh amarah. Liam hanya menunduk tidak berani membalas tatapan ibunya.
Anin menyeka air matanya dan berlalu dengan tatapan dingin. Liam melihat kepergian ibunya dan Renata. Dia menghampiri Renata dan membantu Renata berdiri.
"Aku tidak apa-apa, kejar ibumu, Li," seru Renata pada Liam. Liam menatap Renata. "Aku antar kamu pulang dulu," ucap Liam.
"Ayo, cepat, kejar Mamamu, Li!" seru Renata lagi. Liam terdiam, Renata menatap Liam seolah meyakinkan padanya bahwa dia tidak apa-apa. Liam pun mengangguk dan berlari mengejar ibunya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...