Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Kepulangan Anin


__ADS_3

Malamnya Liam baru pulang. Wajah lelah terlihat jelas di wajahnya.


"Capek bener kayaknya!," sapa Miko.


"Hmmm... Habis cek lokasi gue. Sialan, bongkar lagi. Kita mintak ukuran berapa, yang di bikin sama tukangnya berapa. Ya ke paksa bongkar. Itu ribut sama mandor sama tukangnya walau ujung-ujungnya mereka setuju buat bongkar," keluh Liam.


Miko hanya menganggukkan kepala tanpa membantah, sebab dia sibuk dengan cemilan yang di bawakan Liam. Liam memang membeli cemilan sebelum pulang tadi, karena dia sering di ganggu Miko jika dia tidak mendapatkan apa yang jadi maunya saat Liam pulang. Dari pada pulang di ganggu Miko lebih baik dia mengalah dengan membawakan tiap Miko cemilan kesukaannya. Maka istirahat Liam pun bisa tenang jika sudah begitu.


"Renata mana?" tanya Liam pada kekasihnya itu. Seharian tidak bertemu membuatnya merindukan wajah cantik itu.


"Paling di kamarnya. Eh, tadi ada cewek kesini, dia kelihatannya kesel. Ceweknya cantik kayak model. Habis cewek itu datang, Renata ngurung diri di kamar sampe sekarang nggak keluar," terang Miko dengan mulut yang penuh makanan. Liam sangat penasaran siapa wanita yang di maksud, sebab firasat Liam agak tidak enak rasanya.


"Laura mantan, lo," seru Lusi yang baru datang. Liam langsung membelalakan matanya. Dia tahu betul dengan sifat Laura.


"Dia ngomong apa?" tanya Liam pada Lusi dengan expresi khawatir.


"Nggak. Dia cuman bilang, pakaian dalam lo banyak ketinggalan di tempat dia," jawab Lusi sinis.


Seketika membuat Miko menoleh pada Liam yang memerah wajahnya karena Malu. Dia pun segera beranjak menuju pintu kamar Renata yang tertutup itu.


"Nggak nyangka, tampang lugu kayak ini ****** juga bisa main sama cewek," gumam Miko dengan tatapan tidak percaya pada Liam yang tengah berdiri di depan kamar Renata.


"Sayang, bukak donk. Aku bawak sesuatu buat kamu. Ntar di habisin Miko, lo," bujuk Liam.


"Sayang, bukak. Aku Kangen pengen liat muka chubby kamu. Pengen peluk tubuh berlemak kamu." Mendengar pernyataan Liam, itu membuat Renata berteriak dari dalam kamar.


"Arrrgggghhh ... Kamu nyebelin. Pergi," teriak Renata dari dalam kamar. Liam hanya terkekeh mendengarnya.

__ADS_1


"Ya udah, aku ke tempat Laura aja malam ini," ancam Liam.


Seketika pintu pun terbuka. Renata keluar dengan sorot mata tajam pada Liam, tapi tak lantas membuat Liam takut malah langsung memeluknya, yang segera di tolak Renata dan segera berlalu ke tempat teman-temannya. Liam pun segera mengekori langkah Renata.


"Baru pulang capek kerja, bukannya di tanyain, di sapa, malah di cemberutin," ucap Liam menatap Renata yang masih tampak kesal lalu ikut duduk bersama Miko. "Laura emang gitu mulutnya. Aku nggak pernah ngapa-ngapain sama dia. Dia usilin kamu, kamu nya juga bereaksi, Ya makin menjadi lah dia," ucap Liam seraya memakan martabak Mesir yang di belinya tadi bersama Miko seraya terkekeh melihat kecemburuan Renata. Renata menatap Liam, Liam menatapnya balik dengan tatapan santai. Renata mencari kebenaran di mata Liam. Mungkin Liam benar, Laura hanya menggodanya. Liam sepertinya adalah pria baik-baik tidak mungkin dia mau sembarangan dengan perempuan.


"Beneran?" tanya Renata dengan tatapan menuntut penjelasan.


"Hmhhh... Terserah kamu," ucap Liam malas menjelaskan, dia sibuk makan bersama Miko.


"Oya, besok mama pulang. Temenin aku jemput, ya," ucap Liam pada Renata, Renata langsung menatap Liam serius.


"Nggak ah, aku malu," ucap Renata.


"Malu kenapa? kan sama aku," tukas Liam. "Nggak papa, mama aku itu orangnya santai. Laura aja dulu deket banget sama dia. Jangan sampe dia jodohin aku sama Laura lagi gara-gara dia nggak pernah kenal sama kamu," ucap Liam membuat Renata jadi khawatir.


***


Keesokkan harinya Liam dan Renata pergi menjemput ibu Liam. Liam menunggu dengan perasaan yang rindu membuncah, sedangkan Renata menunggu dengan perasaan berdebar.


Mereka menunggu sambil duduk di sebuah bangku panjang di sana. Mereka mengobrol di sela waktu menunggu mereka. Renata mengungkapkan ketakutannya pada ibu Liam yang mungkin akan menolaknya karena dia merasa tidak pantas untuk Liam. Tapi Liam terus meyakininya, bahwa ibunya bukan tipe perempuan seperti itu.


"Jangan takut, mama aku orangnya baik sayang," ucap Liam yang terus mencoba menenangkan Renata.


"Aku nggak pantes untuk kamu, Li," ungkap Renata pada kekhawatiran nya. "Aku nggak ada apa-apa nya di banding Laura," lirih Renata tertunduk.


"Kamu perempuan paling pantas, Re. Aku maunya kamu, bukan Laura. Jadi berhenti membandingkan diri kamu kayak gitu, sayang," ucap Liam sekali lagi seraya mengusap punggung tangan kekasihnya yang tengah bersandar di bahunya itu.

__ADS_1


Tidak lama terdengar berita panggilan dari kedatangan luar negeri. Mereka pun segera berdiri melihat kedatangan para penumpang satu persatu. Hingga terlihat lah seorang wanita cantik yang tetap anggun di usia senjanya itu. dengan gaya anggun dan berkelasnya dia tampak melangkah dengan anggun khas para model, karena dia memang seorang model dulunya. Dia lah Anin ibunda Liam. Renata menatap kagum pada ibunda cantik Liam itu.



...(Ibunda Liam Anin)...


Saat Anin melihat putranya itu, dia segera berlari dan memeluk hangat putranya. Renata hanya menatapnya dengan perasaan campur aduk, tiba-tiba dia merasa rindu pada ibunya saat melihat Liam yang di peluk hangat ibunya itu. Sesaat Renata tersadar saat Liam akan memperkenalkan nya pada Ibunda Nya.


"Mah ini Renata pacar Liam sekarang," ungkap Liam dengan ekpresi bangganya. Renata hanya tersenyum kaku dan di sambut dengan senyuman hangat Anin. Sesaat Anin melihat lekat wajah itu, wajah itu terlihat tidak asing baginya. Garis wajah wanita di hadapannya ini sangat mirip seseorang.


Anin menyambut uluran tangan Renata seraya mencium tangan Anin tanda salam hormat Renata. Tapi melihat sikap hormat Renata, Anin segera menepis pikirannya, jika memang wanita di hadapannya ini punya hubungan dengan wanita itu, tidak mungkin dia mampu mendidik anaknya sebaiknya ini. Pikir Anin.


"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Anin pada Renata.


"Udah seminggu ini Tante," jawab Renata masih sungkan. Anin hanya mengangguk seraya tersenyum.


"Cantik kan pacar Liam, Mah," ucap Liam bangga, seraya memegang manja kedua bahu kekasihnya itu. Sedangkan Renata malah menjadi semakin merah wajahnya karena malu. Menyadari itu, Anin segera menepuk lembut bahu putranya itu seraya tersenyum.


"Iya, dia cantik," puji Anin dengan seulas senyuman hangat nya yang tulus. Melihat senyuman hangat Anin membuat Renata tenang, tadinya dia berfikir Anin tidak akan mau menerimanya tapi kelihatannya Anin memberi nya ruang.


Setelah mengobrol sebentar, mereka pun segera pulang menuju rumah Liam.



...(Rumah keluarga Liam)...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2