
Dokter Andi masih memeriksa keadaan Lidya. Dia memeriksa gula darah Lidya yang memang penderita diabetes kering itu.
"Kadar gulanya sangat tinggi, ini yang buat dia pingsan. Kalau sampai besok masih pusing sebaiknya di bawa ke rumah sakit saja. Sebab takutnya ada apa-apa. Ini sangat tinggi. Buat sementara saya kasih obat penurun gula sama obat pusing ya. Tapi kalo besok masih parah. Bawa ke rumah sakit saja," ujar si dokter seraya menulis resepnya. Selesai menulis resepnya dia pun menyerahkan kertas resep itu pada Liam dan Liam pun mengambil kertas resep itu.
Liam segera mengantar si dokter pulang sampai pintu apartemennya. Dia melihat ibunya masih terpaku di sofa. Liam menatapnya sekilas lalu tertunduk dan langsung pergi menebus obat yang di resepkan dokter Andi tadi menuju apotik terdekat.
Sedangkan Renata di kamar terus menatap Lidya dengan perasaan khawatir. Dia semakin berat untuk melepaskan ibunya pergi.
"Ma, jangan pergi, ya. Mama sakit, Mama harus di sini sama kita," gumam Renata dengan mata berkaca-kaca pada Lidya yang masih belum sadar itu.
Tidak lama Aiden menangis, Renata pun segera menyusui anaknya itu. Dengan tatapan yang tidak pernah lepas dari ibunya yang tengah terbaring lemas.
Sesaat Renata menatap Aiden. Wajah yang sangat mirip dengan Liam itu terlihat nyaman di dekapan Renata. Mungkinkah pada akhirnya Aiden akan kehilangan ayahnya. Renata benar-benar tidak sanggup membayangkan itu.
...***...
Di sisi lain ada Anin masih bergemuruh dengan emosinya.
'Renata anak Mauren? Cucuku cucu Mauren? Tidak, ini pasti mimpi. Aku tidak mau berhubungan dengannya lagi. Dia tidak boleh masuk ke kehidupan ku lagi,' batin Anin yang terus bergejolak. Berkali-kali dia melihat ke arah pintu menunggu dengan tidak sabar ke datangan Liam.
Beberapa saat kemudian Liam pun datang, tapi dia langsung menuju kamar Lidya seraya membawa sekantong obat yang baru di belinya itu.
__ADS_1
Anin tidak sempat menghentikan langkah Liam yang terlihat terburu-buru itu. Setelah menyerahkan obatnya pada Renata Liam pun segera keluar menemui ibunya yang sudah lama menunggu sedari tadi.
Dengan langkah pelan, Liam mendekati ibunya yang masih belum beranjak dari posisinya sedari tadi. Liam duduk di sofa samping Anin dengan tatapan khawatir dan takut. Dia takut dengan reaksi ibunya setelah mengetahui semuanya barusan.
"Ada apa ini, Liam?!" seru Anin menunggu penjelasan Liam dengan sorot mata yang tajam.
Liam Tidak bisa menghindarinya lagi. Liam menarik nafas yang panjang sebelum menjelaskan. Liam pun menjelaskan semuanya. Anin mendengarnya dengan seksama penjelasan Liam. Liam mengatakan semua tanpa ada lagi yang di tutupinya.
"Setelah Mama tau semuanya. Liam harap ini tidak akan membuatnya Mama membenci kami. Liam nggak nutupin, Mah. Liam cuman nunggu waktu yang tepat buat cerita. Karena ini juga nggak mudah buat Liam ceritakan," ungkap Liam penuh harap atas pengertian ibunya. Anin berdiri dan ....
PLAK...
"Aku ibumu, aku yang melahirkan kamu Liam Adlar. Aku mendidik mu dengan baik. Aku memberikan semua yang terbaik untukmu sampai kau bisa sebesar ini," ucap Anin keras. Liam hanya diam dengan kemarahan ibunya itu. Dia hanya tertunduk dengan wajah yang tak berani ia angkat untuk menatap ibunya itu. "Aku yang kau cari di sudut matamu saat kau terluka. saat kau terjatuh dari tegakmu, tanganku yang membimbing kau berdiri. Aku yang menyemangati mu. Aku yang selalu ada untukmu, ibumu ini Liam," tunjuk Anin keras pada dirinya. "Tapi sekarang bisa-bisanya kamu menjadi penghianat yang melukai perasaan ini, ibumu LIAM! Kamu tahu betul siapa Mauren, lalu kenapa kamu nutupin ini semua dari Mama? Apa Mama sudah tidak penting lagi, Liam?! JAWAB LIAM, JAWAB!" teriak Anin histeris seraya menarik kerah baju putranya yang kali ini Liam tidak sanggup menahan rasa bersalah nya. Air matanya bergulir dari sudut matanya. Sedangkan Anin semakin lemas dengan teriakan histeris seraya terus menuntut penjelasan dari putranya itu.
Hingga Anin terduduk lemas. Liam segera menarik Anin pelan untuk berdiri tapi di tepisnya dengan keras. Liam tetap menarik ibunya untuk duduk di sofa.
"Mah, Mama penting untuk Liam. Mama segalanya," ucap Liam seraya mengusap air mata ibunya dengan tangannya. "Tapi ... Lihat lah, Liam harus mempertimbangkan Aiden juga kan. Liam sudah menikah dengan Renata dan memiliki anak. Apa kita tidak bisa, Mah, berdamai dengan masa lalu kita dan memulainya lagi dari awal," ucap Liam pelan dengan hati-hati. Anin menatap Liam tajam.
"Tidak Liam. Mama tidak bisa melupakan apa yang sudah wanita itu lakukan pada kita dulu. Sekarang kamu pilih saja, Mama atau perempuan itu," ucap Anin emosional.
Renata yang baru keluar pun menyaksikan pertengkaran ibu dan anak itu. Dia berjalan berlahan menuruni tangga dan menuju Liam dan ibunya.
__ADS_1
"Liam tidak harus memilih, Mah. Biar Aku dan Mamaku yang pergi. Kalian bisa tenang sekarang. Tidak perlu berdebat lagi. Aiden masih ASI, jadi biar dia sama aku sekarang. Perdebatan ini tidak akan selesai, aku juga tidak mungkin membuang ibuku begitu saja demi kenyamanan aku sendiri. Seburuk apapun dia di mata kalian, tetap tidak bisa di pungkiri dialah ibuku," ucap Renata penuh ke ikhlasan.
"Bagus kalau kamu tau diri," pungkas Anin datar.
Tapi tidak dengan Liam. Dia tidak terima dengan keputusan yang penuh emosional ini.
"Tidak, tidak ada yang pergi," tolak Liam keras. Liam menatap mata Renata dalam. "Sayang. Bukan ini yang kita Rencanakan, kan? Kita sudah sepakat untuk tetap sama-sama. Ayo lah, Re. Jangan biarkan aku sendirian berjuang. Aku butuh kamu di pihak aku sekarang," ucap Liam memohon kepada pengertian Renata masih dengan tatapan dalamnya seraya mengelus wajah istrinya itu penuh harap.
Renata pun tersenyum tipis kearah Liam dengan Aiden yang masih di gendongannya.
"Tidak, Li. Aku tidak bisa membuat ibuku pergi jauh dalam keadaan sakit. Seolah-olah aku ingin membuangnya mati di jalanan. Aku benar-benar tidak bisa, Li. Maaf kan aku. Mama aku butuh aku sekarang," ucap Renata mematahkan hati Liam seketika. Dan berlahan Renata menurunkan tangan Liam dari wajahnya seolah meminta kesediaan Liam melepaskannya.
"Re, pikirankan Aiden. Dia butuh aku sebagai ayahnya, dia butuh kita. Jangan korbankan dia juga," ucap Liam bergetar menahan sesak di dadanya. Sekarang Liam benar-benar merasa berjuang sendirian. Dia merasa di tinggal sendirian dalam perjuangannya ini.
"Kalian sibuk dengan perasaan kalian masing-masing," ketus Liam kecewa.
"Ceraikan dia Liam," ucap Anin keras seperti tanpa beban.
Liam dan Renata menatap Anin bersamaan. Mereka pun saling pandang. Renata mengangguk seolah ingin berkata pada Liam untuk melakukannya. Liam menggeleng keras menolak. Liam langsung pergi. Dia tidak sanggup lagi dengan perdebatan ini, melihat seolah-olah semua orang yang ia hadapi sekarang benar-benar keras kepala dengan pemikiran mereka masing-masing.
BERSAMBUNG...
__ADS_1