
Di rumah Anin sedang membereskan pakaiannya karena ia yang baru saja bepergian, sehingga barang-barangnya banyak yang masih di dalam kopernya. Dia menyusun barang-barangnya itu kembali di kamarnya.
Sejenak ia tertegun saat melihat sebuah sepatu dan beberapa helai pakaian mungil. Masih terbungkus rapi. Tampaknya memang baru ia beli saat bepergian. Ia menatap pakaian itu dan mengangkatnya dengan kedua tangannya. Seutas senyuman terukir dari wajah cantiknya.
"Sudah 10 bulan usianya sekarang. Pasti sudah dia besar, sedang lucu-lucunya," ucap Anin seraya merentangkan baju-baju mungil itu di atas kasurnya satu-persatu. "Hmmmh ...," gumam Anin lagi kali ini ia menyeka air matanya dengan senyuman getir.
...***...
Saat hampir magrib Liam baru sampai rumahnya. Anin segera membuka pintu saat mendengar suara mobil Liam datang. Terlihat Liam yang sudah berdiri di depan pintu.
"Kamu kemana semalam?" tanya Anin seraya mengekori langkah Liam yang berjalan menuju kamarnya.
"Tidur di rumah temen?" ucap Liam masih tampak cuek seraya menaiki anak tangga, ia juga tampak kelelahan karena baru pulang.
"Siapa?" tanya Anin penuh selidik masih mengekori Liam.
__ADS_1
"Ada, di kasih tau pun Mama nggak akan tau," ucap Liam yang sudah sampai kamarnya, masuk dan menutup pintu kamarnya tanpa sempat Anin bertanya lebih jauh lagi. Liam sengaja lakukan itu untuk menghindari ibunya.
Di kamar Liam melepaskan nafasnya dengan kasar sambil melepaskan sepatunya dan membuka kancing bajunya, lalu menghempaskan tubuhnya ke ranjang dengan merentangkan tangannya. Melepaskan penatnya sejenak sambil bermain handphone.
'📞 Anakku lagi apa?' ucap Liam pada sebuah chat tertuju pada Renata.
'📞Lagi main, ayah," balas Renata yang membuat Liam tersenyum.
'📞Masih sakit?' tanya Liam lagi.
'Iya, bundanya lagi ngapain? 😘' tanya Liam lagi. Sontak membuat Renata tertawa riang melihat emoticon yang Liam kirim untuknya itu.
Mereka terus berbalas chat, hingga Liam lupa waktu. Kamar Liam pun tiba-tiba di ketuk seseorang.
"Iya!" Sahut Liam dari dalam kamar. Seseorang membuka pintu kamarnya. Dia pun menoleh dan itu adalah ibunya.
__ADS_1
"Mama udah masak, turun, kita makan lagi." Sesaat ibunya kaget saat melihat Liam belum menggantikan pakaiannya, padahal dia sudah lama sedari tadi pulang. "Kok kamu belum ganti pakaian sih, Li?" Liam bangkit dan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu dengan senyum nyengir. "Yaudah, Mama tunggu di bawah, ya. Cepetan!" perintah ibunya sebelum kembali menutup pintu kamar itu.
...***...
Liam turun untuk makan malam bersama ibunya. Anin masak beberapa menu, sebenarnya masakan Anin kadang tidak terlalu enak. Mungkin karena Anin yang jarang masak, bumbu masakannya pun terasa kurang pas di lidah Liam. Hanya saja Liam tidak mungkin mengatakan itu padanya. Yang bisa Liam lakukan hanya menikmati tanpa banyak kata.
"Gimana? Enak?" tanya Anin antusias. Liam hanya mengangguk dengan menyunggingkan senyumannya. "Kok nggak yakin gitu sih ekspresinya? Iya ... Mungkin nggak seenak restoran, sebab Mama belajar di YouTube tadi sambil masak," terang ibunya, Liam menatap tajam pada ibunya dengan sorot mata yang menahan tawanya. Ibunya pun tertawa.
"Jangan gitu kamunya, Mama kan udah usaha buat masak," celetuk Anin malu karena merasa di ledek.
Setidaknya hubungan mereka sedikit mencair dengan mulai adanya tawa canda diantara mereka.
...***...
BERSAMBUNG...
__ADS_1