
Hari itu Renata membantu ibu Liam membereskan rumahnya yang sudah lama ia tinggal. Tampak berdebu dan kotor di seluruh ruangan. Mereka bertiga mulai membersikan rumah yang lumayan besar itu.
Renata membersihkan setiap sudut dengan rapih dan telaten. Anin terus memperhatikannya sambil bekerja. Anin mulai mengagumi Renata yang tampak berbeda dari gadis yang selama ini Liam sering kenalkan dengannya yang biasanya manja dan takut kotor. Renata justru tau apa yang harus dia lakukan dalam membersihkan dan merapikan rumah tanpa takut kotor.
Dia merapikan dan mengelap setiap sudut dengan cekatan dan di selingi dengan tawa candanya bersama Liam.
Setelah selesai merekapun makan bersama dengan makan delivery karena dapur yang belum bisa di gunakan.
Anin mulai menyukai Renata, apalagi melihat dia yang sigap dalam segala hal. Dan melihat bagaimana dia memperlakukan Liam itu membuat Anin semakin menyukainya. Renata mengkibas-kibas kecil pakaian Liam yang tampak kotor sebelum mereka makan. Anin hanya tersenyum melihatnya.
"Sudah, kita makan lagi. Yang penting kamarnya bersih aja dulu, sebab kemaren Mama lupa mbak Sumi nggak ada. Biasanya dia yang beres-beres. Nah sekarang rumah di tinggal sama Liam, malah jadinya kayak gini, mamanya baru pulang pun nggak punya tempat buat istirahat" omel ibunya, Liam hanya tersenyum kecut.
"Besok Rere bantuin lagi, Tante. Rere lagi libur juga, jadi nggak ada kerjaan di rumah," ucap Rere, Liam tersenyum menatap kekasihnya itu seraya mengacak rambut Renata dengan senyuman hangat, Renata melototinya karena Liam membuat rambutnya berantakan. Liam hanya terkekeh melihat tatapan lucu kekasihnya itu. Renata merasa sangat beruntung bisa bersama Liam yang selalu mengasihi dan menyayangi nya seperti saat ini.
Anin pun terlihat senang, tapi ada rasa aneh di hatinya. Dia masih merasa sangat familiar dengan garis wajah Renata. Garis wajah yang mengingatkannya pada kejadian yang menyakitkan. 'ah mungkin hanya perasaanku saja' batinnya mencoba meluruskan lagi pikirannya.
Selesai makan Renata dengan sigap membersihkannya.
"Biar Rere aja, Tante. Tante kan baru nyampe, istirahat aja dulu," ucap Renata penuh perhatian, Anin hanya tersenyum melihat sifat rajin Renata. Dia pun segera ke ruang keluarga meninggalkan Renata.
"Dia nggak kerja, Li?" tanya Anin tentang Renata, Liam segera menoleh pada ibunya yang baru datang dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Habis di skors, Ma. Di kerjain sama Laura tempo hari," ucap Liam santai seraya sibuk mengecek desainnya di laptopnya.
"Loh, kok bisa?" tanya Anin penasaran.
"Laura ajak dia ribut di tempat kerjanya. Mama kan tau sifat Laura, suka seenaknya dia tanpa mikirin orang lain," ucap Liam santai. Anin tampak terkesiap mendengarnya, melihat reaksi ibunya itu Liam pun tersenyum. "Tenang aja, Ma. Jajan Rere Liam yang kasih selama di di skors. Rere di skors kan gara-gara Liam. Kayaknya Laura masih cemburu, tapi kemaren dia udah minta maaf, tapi ya gitu gayanya, nyebelin, padahal dia datang buat minta maaf. Masak dia bilang ke Rere Liam tinggal bareng sama dia dulu, ya ngamuk lah Rere," ucap Liam lagi, Anin terkekeh mendengarnya. Anin cukup kenal dengan Laura, jadi dia tau betul bagaimana sifat Laura.
Tidak lama Renata pun sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Sini duduk, Re," sambut Anin pada Renata yang baru datang, dia meminta Renata duduk di sampingnya. Liam senang melihat Renata yang bisa mengambil hati ibunya. Dengan tampak malu-malu Renata duduk di samping Anin. Anin menyambutnya dengan senyuman hangat.
"Kamu kerja apa masih kuliah?" tanya Anin.
"Udah mau skripsi, Tante. Tapi nggak ada biaya buat lanjut. Jadi saya kerja dulu baru nanti selesaiin kuliahnya," terang Renata.
"Ayah saya sudah meninggal. Mama nggak tau kemana, dia pergi waktu kita masih kecil dan nggak ada kabarnya sampai sekarang," terang Renata, Anin terdiam sesaat. Anin tampak berpikir dan Liam jadi sangat gusar.
"Hmmmhhh... Tapi kamu hebat bisa tetap survive dengan keadaan yang ada. Kamu tetap mau kerja keras dan nggak nyerah. Kamu juga tante lihat ulet banget, pintar masak lagi," puji Anin yang membuat Liam bisa bernafas lega setelah beberapa saat nafasnya seperti tercekat karena khawatir ibunya akan menolak Renata. "Liam sering cerita di telfon, katanya masakan kamu enak. Kalah tante sama kamu, Liam kalo tante yang masak sering nggak habis makannya," ucap Anin seraya terkekeh. Renata hanya tersenyum mendengarnya seraya saling tatap dengan Liam.
Malam itu malam awalan yang sempurna untuk Liam dan Renata.
***
__ADS_1
Di sisi lain ada Laura yang tengah bersama Argio kekasihnya. Mereka tengah makan malam bersama, walau dia datang terlambat karena dia harus meeting bersama kliennya terlebih dahulu.
Laura dengan santai sudah makan malam terlebih dahulu, saat dia datang Laura tengah menikmati makanannya yang hampir habis. Laura terus makan tanpa peduli pada Gio yang baru datang. Gio tahu Laura tengah menyatakan kekesalannya. Karena itu di menghabiskan makannya tepat saat dia datang.
"Maaf!" ucap Gio menyesal. Karena memang dia yang salah, dia berjanji jam 8 dan nyatanya dia terlambat 30 menit.
"Liam nggak pernah telat kalo janji," ucap Laura yang sengaja memancing kemarahan Gio dengan membandingkan dirinya dan Liam mantan kekasihnya. Gio mencoba menahan diri untuk tidak terpancing. "Dia selalu prioritas kan aku. Dan dia juga nggak pernah marahin aku kalo aku ngelakuin kesalahan, apalagi paksa aku buat minta maaf," ucap Laura seakan menyindir Gio. Gio terkekeh, sekarang dia paham Laura kesal bukan karena dia datang terlambat saja, tapi juga karena dia sudah memaksa Laura untuk meminta maaf pada Renata.
"Jadi kamu sudah nemuin dia buat minta maaf?" tanya Gio kali ini seraya memotong steak makan malamnya yang sudah dingin karena memang Laura sengaja memesan makanan Gio yang dingin dan dengan sengaja pula dia mengipasinya tadi sebelum Gio datang, agar makanan Gio dingin dan tidak enak dimakan oleh Gio.
Gio paham betul dengan permainan Laura, jika sedang kesal. Karena itu dia tetap menghabiskannya walau sudah dingin dan tidak enak lagi sebab Laura juga mencampuri lada dan garam secara berlebihan, sebelum Gio menikmatinya. Gio mengenali Laura sedari kecil, karena itu Laura sangat terobsesi pada Gio. Karena dia sudah sejak lama mengidamkan Gio.
"Sudah. Aku paksa dia buat maafin aku," ucap Laura santai.
"Kenapa? Kamu bikin dia kesal juga sebelum kamu pergi?" tebak Gio, Laura hanya tersenyum seraya menikmati pemandangan Gio yang tengah menghabiskan steak asin dan pedasnya.
"Iya. Dia lugu mudah buat di bikin kesel. Nggak kayak kamu," ucap Laura seraya ikut membantu Gio menghabiskan steaknya yang tidak enak itu.
Gio hanya tersenyum melihat tingkah Laura. Senyum Gio selalu hangat menatap Laura, itu yang buat Laura jatuh cinta padanya.
Gio juga selalu terhibur dengan tingkah Laura, walau kadang dia juga harus super sabar menghadapinya. Seringkali Laura bertingkah di luar kewajaran, antara jenius dan saiko.
__ADS_1
"Lain kali jangan paksa aku lagi," ucap Laura dengan gaya menggodanya membuat Gio terkekeh.
BERSAMBUNG...