
Liam masih tidak banyak bicara dia hanya berbaring seraya mendekap Renata yang juga berbaring membelakanginya dengan tangannya yang terus mengelus perut Renata. Liam tampak berfikir keras tentang kehadiran Mauren yang tidak pernah di sangka-sangkanya itu.
Sedangkan Renata tengah mencari waktu yang tepat untuk membicarakan perihal kedatangan ibunya itu.
"Li!" panggil Renata.
"Hmmm?!" gumam Liam seraya menatap mata istrinya yang tengah berbalik kearahnya. Dia tampak ragu akan bercerita. Tapi jika dia tidak terbuka dia takut Liam akan salah paham nanti, jadi ia putuskan untuk menceritakan nya saja.
"Tadi siang ... Mama datang kesini, dia mintak uang dan aku kasih sebagian uang di lemari itu sama mama. Aku takut mama nggak mau pergi kalo dia nggak dapatin maunya. Maaf, Li. Aku kasihnya tanpa izin kamu," ucap Renata menceritakan kedatangan ibunya dan semuanya yang terjadi. Liam kaget mendengar penjelasan Renata. Tapi itu sudah ia duga sebelumnya, Lidya pasti akan datang kembali.
"Re!" panggil Liam balik. Renata kembali menatap Liam. "Kita nggak bisa tinggal di sini lagi. Gimana kalo mama tau tentang mama kamu. Aku takut mamaku tau. Ini nggak akan mudah mama terima. Ayo kita pindah, Re. Bilang saja kita cari tempat yang dekat dengan tempat kerja aku. Aku yakin mama kamu bakalan datang lagi nanti. Seandainya mereka berdua bertemu, itu akan membuat masalah untuk kita semua," ucap Liam mengemukakan pendapatnya. Renata hanya mengangguk pelan. Dia juga sependapat dengan Liam. Ibunya pasti akan datang lagi mencarinya, karena ibunya belum mendapatkan apa yang menjadi maunya sepenuhnya.
***
Hari ini Anin pulang. Renata dan Liam oun bersiap-siap menyambut kedatangan Anin ini itu. Anin memang beberapa Minggu ini sedang menyelenggarakan acara feshion show di Paris. Jadi dia beberapa Minggu ini berada di sana.
Setelah semua acara selesai, ia pun pulang. Dia di jemput oleh Renata dan Liam di bandara. Tampak Renata dan Liam sudah berdiri di tempat penjemputan para penumpang di bandara itu. Anin senang saat melihat menantunya yang tengah hamil besar itu tampak sehat.
"Mama sempat khawatir loh sama kamu. Mama kepikiran terus ninggalin kamu sama Liam, mama takut Liam bisa nggak jagain kamu. Habis kadang Liam kan rada cuek kalo udah sibuk sama kerjaannya," sungut Anin seraya menatap Liam.
"Nggak kok, Ma. Liam baik banget sama Rere. Liam jangan Rere dengan baik selama mama nggak ada," ucap Renata seraya berjalan bergandengan bersama mertuanya itu.
Anin merasa Liam lebih banyak dia dari tadi. Dia menatap Liam sesaat. Saat melihat tatapan anaknya Anin merasa ada sesuatu yang terjadi. Dia juga menatap Renata. Dia berfikir mungkin Renata dan Liam tengah bertengkar. 'Apa mereka tengah bertengkar? nggak biasanya mereka ribut? Ah, mungkin tidak apa-apa' batin Anin mencoba meluruskan pikirannya.
__ADS_1
Anin tampak antusias menceritakan perjalanan nya di Paris saat melakukan fashion shownya bersama para model bimbingannya. Dia menceritakan semua keseruannya yang mendapat banyak perhatian atas hasil desain busana nya di Paris. Tapi hanya Renata yang tampak antusias sedangkan Liam lebih banyak diam.
***
Tanpa terasa mereka pun sudah sampai di rumah, Anin segera menyeret Renata duluan ke rumah. Dia ingin tahu apa yang terjadi antara Renata dan Liam.
"Liam kenapa? Kok beda keliatannya, Kalian bertengkar ya selama mama nggak ada?" tanya Anin khawatir.
"Nggak papa, Ma. Cuman ada sedikit masalah aja," ucap Renata mencoba menutupi.
"Jangan lama-lama, coba aja di omongin. Nggak baik kalo terlalu lama diem-dieman gini," nasehat Anin, Renata pun mengangguk.
Untuk kesekian kalinya Renata merasa beruntung memiliki mertua seperti Anin. Renata sering membayangkan seandainya ibunya seperti ibu Liam yang pengertian dan penuh kasih sayang. Yang selalu hadir saat anak-anaknya membutuhkannya, sayang ibunya selalu menjadi sumber masalah baginya selama ini.
***
Malamnya Liam membicarakan rencana kepindahannya bersama Renata. Tampak Anin tidak bisa terima.
"Li, Rere itu lagi hamil besar. Siapa yang akan jagain dia kalo kalian pindah? Terus kalo lahiran nanti gimana?" ucap Anin menentang Rencana Liam.
"Mama kan jarang di rumah juga, jadi nanti Liam rencananya mau pinjem apartemen Bimo. Liam udah tanya Bimo. Katanya boleh. Sekalian kalo ada apa-apa Liam jadi gampang nemuin Rere," ungkap Liam pada alasannya.
"Kalian itu lagi butuh tabungan banyak, buat lahiran, buat keperluan lainnya. Ini malah mau pergi. Biayanya nanti banyak, belum lagi harus beli perabotan. Lagian mama nggak enak sama tante Ana nantinya di kira mama nggak becus jagain kalian. Kamu itu anak tunggal mama, Li," tukas Anin masih menentang.
__ADS_1
"Mah, disini juga mama jarang di rumah. Mending di apartemen Bimo, kan. Rumah sakit pun dekat. Ya, Ma, ya," bujuk Liam.
"Ya udah, tapi inget kalian jangan berantem diem-dieman lagi," ucap Anin.
"Siapa yang berantem?" tukas Liam. Renata menatap Liam seraya tersenyum dan mencium pipi suaminya itu. Anin pun tersenyum melihat keduanya, sepertinya mereka sudah mulai berbaikan, pikir Anin.
***
Malam itu Liam mulai berhasrat kembali pada istrinya setelah beberapa saat hasrat itu hilang saat dia mengetahui Renata adalah anak Mauren. Renata senang akhirnya Liam kembali mau bersamanya lagi. Dia lakukan itu sepenuh hatinya walau pun mereka harus berhati-hati karena gerak mereka agak tidak leluasa karena Renata yang tengah hamil. Tapi masih bisa mereka nikmati bersama.
Selesai dengan cumbuan panas mereka sebagai suami istri, Renata dengan manja di dalam dekapan Liam dengan tubuh polos keduanya. Mereka tidak terlibat banyak obrolan setelahnya, Liam terlihat lelah dan langsung tidur dan akhirnya mereka tertidur bersama.
***
Paginya Liam terbangun, dia menatap wajah cantik istrinya itu. Berlahan ia mengusap lembut kepala Renata membuat Renata terbangun dan tersenyum ke arah Liam yang masih mengusap kepalanya lembut.
"Kita pindah hari ini. Kita harus cepat sebelum mama berubah pikiran dan sebelum mama kamu datang lagi," ungkap Liam.
"Aku takut, Li. Bagaimana nanti kalo mama kamu sampe tau. Apalagi mamaku nggak akan pergi sebelum dia dapat maunya," ucap Renata khawatir.
"Nanti aku usahakan buat dapat uang biar mama kamu bisa lunasin hutangnya dan dia bisa pergi," ucap Liam. Sesaat dia merasa ini cukup tidak adil bagi Renata karena harus menjauhi ibunya. "Maaf, Re. Mungkin ini akan nyakitin kamu, karena harus menjauhi ibu kamu, tapi kita nggak bisa bawak ibuk kamu kalo kita mau tetap bersama," ucap Liam. Renata mengangguk pelan. Dia cukup paham dengan situasinya. Lagipula bagi Renata itu tidak jadi masalah, karena selama ini ibunya memang selalu cari masalah tiap kali dia hadir.
BERSAMBUNG...
__ADS_1