
Selesai membeli semua pesanan Liam. Laura pun kembali ke hotel. Saat Laura masuk, kamar sudah sepi. Televisi pun sudah mati, Laura melirik ke Ranjang. Ternyata benar, Liam tengah tertidur dengan handuk piyamanya ia tampak sudah pulas. Mungkin karena mabuk membuat dia lelah dan tertidur. Laura meletakkan barang belanjaannya di meja dan menghampiri Liam yang tengah tertidur.
Dengan berlahan Laura berbaring di samping Liam. Dia meletakkan dagunya di bahu Liam dengan berlahan, agar tidak sampai membangunkan Liam.
Kini jarak wajah mereka menjadi sangat dekat, hanya tinggal beberapa cm. Laura memandang wajah Liam seraya tersenyum. Dia memperhatikan Liam lekat-lekat.
"Lucu banget wajahnya waktu tidur. Masih lugu kayak dia lagi bangun. Kamu itu jadi cowok terlalu baik, terlalu tulus, terlalu ganteng, terlalu manis, terlalu nggak tegaan, dan terlalu sulit buat aku lupain. Kalo kamu cerai dari Renata, aku akan tempelin kamu kayak setan nempelin orang. Aku ikutin kamu terus sampe kamu bilang mau balikan. Tapi ... Kalo kamu masih sama Renata, aku ngalah aja lah. Aku nggak bisa kalahin dia, dia terlalu kuat di hati kamu," gumam Laura sambil terus menatap wajah Liam.
...***...
Akhirnya dia tertidur di samping Liam sepanjang malam. Pagi-pagi Laura terbangun, dia melihat Liam masih tidur di sampingnya. Sesaat Laura ingat jika Liam belum makan dari semalam. Khawatir dengan keadaan Liam. Laura segera memesan makanan lagi pada staf hotel. Karena makanan yang ia pesan semalam sudah dingin.
"Li, bangun. Katanya mau makan. Li, bangun, Bangun Li. Bangun cepetan, Banguuuunnnn, LIiiiiiaaammmm....," Laura membangunkannya dengan tidak sabaran dia terus menggoncang-goncang tubuh Liam walaupun Liam sudah terbangun, bahkan sampai membuat Liam menutup telinganya karena suara berisik Laura. Laura malah terkekeh melihat reaksi Liam. Sedangkan Liam hanya menatapnya dengan tatapan kesal dan tajam. Karena merasa terganggu dengan kelakuan Laura.
Laura tersenyum melihat expresi kesal Liam yang sangat lucu baginya.
"Ganggu!" rutuk Liam yang membuat Laura terkekeh. Dia merasa sangat nyaman saat mengusili Liam.
Tanpa banyak bicara Liam segera bangkit dan mengambil tas belanjaan Laura untuk mengambil obat maagnya yang dia pesan semalam.
__ADS_1
Selesai minum obat Liam ke kamar mandi mencuci wajahnya dan mengganti pakaiannya. Selesai mengganti pakaiannya Liam keluar, Laura terus memperhatikan pria tinggi yang berwajah tampan itu hilir mudik di depannya. Sedangkan Laura asyik berbaring di ranjang dengan tengkurap khas gaya manjanya.
Tidak lama pesanan makanan yang Laura pesan pun datang. Dan para pelayan hotel itu menyajikannya di meja, Liam menatap Laura.
"Aku yang pesan," terang Laura masih asyik dengan handphone nya.
Liam pun langsung sarapan, karena mengingat semalam dia belum makan dan dia khawatir maagnya akan kambuh lagi. Sesaat Liam tersadar jika Laura memperhatikan nya sedari tadi.
"Gio mana?" tanya Liam membuka percakapan seraya menikmati makanannya.
"Lagi selingkuh sama kerjaannya, aku dianggurin kayak istri tua yang di tinggal suami berkunjung ke rumah istri muda. Dia nggak nelpon, nggak ngabarin, di telfon sibuk terus. Hmmmmhh... Aku bosan," ucap Laura yang kini sudah duduk seraya menopang dagunya dengan tangannya seraya melirik dengan lirikan penuh arti pada Liam.
Tidak lama Liam sudah selesai dengan sarapan paginya. Sedangkan Laura berlahan mulai bangkit dan mendekati Liam. Liam memperhatikannya dengan perasaan mulai bergidik.
"Mau apa kamu?" ucap Liam penuh curiga.
"Bantuin aku ngerjain Gio," ucap Laura. Di detik selanjutnya Laura sudah mendaratkan ciumannya di bibir Liam dan Liam yang kaget malah terpaku sesaat dengan mata yang membulat kaget, Laura langsung memotretnya. Liam menatap Laura seraya mengelap bibirnya dengan punggung tangannya.
"Makasih?" bisik Laura. Liam sadar sekarang Laura sedang kumat lagi.
__ADS_1
"Jangan macam-macam kamu. Aku bisa di hajar Gio, dan Renata akan marah nanti kalo tau. Jangan suka seenaknya, Laura," ucap Liam mulai panik melihat Laura yang bersiap mengirim foto mereka pada Gio dengan santai dan tanpa beban dengan senyuman licik. Liam yang melihat senyuman menakutkan itu hanya bisa mengernyitkan keningnya dengan tingkah Laura ini.
"Kamu yang salah, ngapain kamu nelpon aku. Itu bayarannya, karena aku udah baik sama kamu malam tadi," ucap Laura santai.
"Udah, hapus," tukas Liam seraya merebut handphone Laura dan sialnya Laura sudah mengirim foto itu pada Gio.
"Ini pelajaran buat dia, aku capek di kacangin terus sama dia," ucap Laura lagi sambil menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
"Laura, kamu nggak bisa seenaknya gini terus. Aku udah nikah, apa kata keluarga kalo tau. Mereka semua bisa salah paham sama kita," ucap Liam panik.
"Ya udah, biarin aja. Kita kan nggak ngapa-ngapain," kilah Laura.
Percuma bertentangan dengan Laura. Liam pun segera pergi bersiap akan pulang, sebelum Laura berulah yang tidak-tidak lagi. Saat sedang membereskan barang-barangnya Liam mendapat telfon dari Bimo.
"Terserah kamu, aku ada kerjaan. Bayar kamar hotelnya sekalian," ucap Liam lalu pergi. Meninggalkan Laura yang masih terbaring tidak peduli pada Liam. Dia masih menatap layar handphonenya.
"Ayo kita bermain Argio ...," ucap Laura seraya menyunggingkan senyuman nya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1