Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Hukuman Bagi Lidya


__ADS_3

Setelah semua siap Renata pun segera masuk ke ruang operasi. Liam menatap istrinya dan Renata pun menatap Liam.


"Aku di sini," bisik Liam hangat memberi sedikit ketenangan pada Renata.


Liam dan anggota keluarga menunggu dengan perasaan cemas, khawatir, dan takut. Terutama Liam, Liam terus menatap liar dia tidak bisa tenang walau dia terpaku di posisinya tapi nafasnya tampak berpacu dan tangannya terus saling meremas menunjukkan kegelisahan hatinya.


"Tidak apa-apa," bisik Anin seraya mencengkram bahu putranya itu. "Sebentar lagi kamu akan jadi seorang ayah," bisik ibunya lagi dengan seulas senyuman, Liam menoleh pada ibunya dan tersenyum.


***


Di lain sisi Lidya terus berdoa agar Renata dapat melahirkan tanpa halangan, dia tidak putus-putusnya berdoa. Dia berdiri di salah satu sudut rumah sakit yang sama dengan Liam dan Renata. Dia datang tapi tidak bisa mendekat, dia hanya berdoa dari kejauhan.


***


Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi dari ruangan Renata di operasi, semua bernafas lega. Anin mendekap bahagia putranya.


"Itu suara cucu Mama. Keras sekali," gumam Anin dengan senyum bahagia. Liam pun bahagia. Sesaat tanpa sengaja Liam melihat keberadaan Lidya sekilas, ada seulas senyum Liam pada Lidya dari kejauhan. Lidya pun tersenyum padanya, seolah ingin mengatakan terimakasih. Liam lah yang memberitahu Lidya jika Renata akan melahirkan.


Liam merasa bagaimana pun Lidya adalah ibu mertua yang harus ia hormati juga. Dia hanya mencoba bersikap adil kepada Renata yang dapat menyayangi ibunya seperti ibu kandungnya, jadi sesuatu yang tidak adil jika dia tidak bisa bersikap yang sama.


Setelah memastikan semua baik-baik saja. Lidya pun pergi. Saat dia pergi Anin melihat nya sekilas, tapi belum menyadari jika itu Mauren alias Lidya. Hanya saja dia merasakan detak kan aneh saat dia melihat Lidya melintas, walau dia hanya melihat punggungnya saja.


Anin segera meluruskan pikirannya, dia tidak mau terganggu dengan hal lain dulu. Dia sekarang sedang ingin fokus pada cucu pertamanya itu. Dia segera menghampiri suster yang baru keluar dari ruangan operasi itu menanyakan tentang keadaan cucu dan menantunya.


"Ibu dan Anaknya sehat. Sekarang tunggu sebentar lagi, ibu Renata bisa keluar," terang suster membuat semua orang lega.


Liam tampak tidak sabar ingin bertemu anak dan istrinya.


***

__ADS_1


Renata sudah di pindahkan ke ruang perawatan bersama bayinya, Liam terus duduk di samping Renata tanpa mau beranjak dari sana. Dia sangat bahagia dengan kehadiran buah hatinya bersama Renata.



"Udah di Adzan-in, Li?" tanya pamannya Budi sekaligus atasan nya di perusahaan.


"Udah tadi, om," ucap Liam seraya menyentuh lembut jemari bayinya. Renata hanya tersenyum melihat tingkah lucu suaminya yang terlihat masih tidak percaya jika sekarang dia sudah menjadi seorang ayah.


Kebahagiaan ini sungguh indah, tapi Renata masih mengharapkan ibunya bisa hadir diantara mereka saat ini, harapan itu sangat lah mustahil untuk terjadi saat ini. Liam melihat ada guratan sedih di wajah istrinya, dia tahu Renata sekarang sedang memikirkan ibunya. Tapi Liam hanya tersenyum tipis, karena tanpa sepengetahuan siapapun Lidya datang hadir menyaksikan walaupun dari kejauhan.


***


Di sisi lain di depan pintu gerbang rumah sakit, Lidya tampak tersenyum haru melihat potret cucunya yang di kirim oleh Liam padanya barusan, dia mengusap ponselnya yang terdapat potret cucu pertamanya itu.



Sesaat senyumnya memudar, dia kembali ingat dengan Anin. Mungkin kutukan Anin tengah terjadi sekarang.


Di saat rapuhnya seperti sekarang dia malah kehilangan semuanya. Di usia senjanya yang sudah tidak berdaya lagi, dia di tinggalkan anak dan cucunya. Lidya terduduk di sebuah kios sepi yang sudah tutup. Dia tertunduk dengan isaknya yang ia tahan.


'Aku hanya ingin memeluk cucuku ya tuhan, jangan buat aku terlambat. Sekali saja, aku ingin memeluk nya sekali saja, tuhan,' batin Lidya seraya menangis.


"Terimakasih menantu ku Liam, maaf apa yang sudah aku lakukan pada keluarga mu dulu," gumamnya di antara isaknya seorang diri di kegelapan malam



Lalu ia pun kembali melangkah kan kakinya untuk pulang ke kediaman nya di tengah kesunyian malam.


***

__ADS_1


Setelah beberapa hari di rawat akhirnya Renata pun di perbolehkan untuk pulang. Liam bersikukuh untuk tetap tinggal di apartemen Bimo untuk sementara dengan alasan ibunya jarang di rumah dan apartemen Bimo lebih dekat dari kantornya juga.


Anin yang memang super sibuk itu dengan berat hati harus meninggalkan anak cucunya yang sebenarnya masih sangat membutuhkannya, karena mengingat Renata lahiran Cesar dan masih dalam pemulihan. Dia belum begitu kuat untuk beraktivitas seperti biasanya.


"Nggak apa-apa, Ma. Rere udah kuat, kok. Kan ada tante Ana juga yang sering nengokin kita di sini," ucap Renata penuh dengan pengertiannya.


"Maaf ya, Mama sebenarnya tidak mau pergi. Mama masih berat mikirin kamu," ucap Anin seraya menatap Renata dan cucunya yang di gendongannya.


Setelah mengucapkan salam perpisahan Anin pun pergi dengan tatapan yang tampak sangat berat itu.


Ini lah moments yang ditunggu-tunggu Renata. Renata segera menelepon ibunya agar datang kekediaman nya. Dia juga sudah lama tidak melihat kedatangan ibunya karena Anin yang memang memilih untuk tinggal bersama Liam dan Renata pasca Renata melahirkan. Itu membuat Lidya tidak bisa mengunjungi cucunya. Padahal dia sudah sangat ingin menemui cucunya.


Saat di telpon Renata dia dengan segera bersiap-siap akan pergi, dia buru-buru menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu dengan semangat.



Si bos tempat dia bekerja pun jadi heran melihat Lidya yang tampak buru-buru itu.


"Mau kemana, Buk? Kelihatannya buru-buru?" tanya si bos muda pemilik restoran tempat Lidya bekerja itu.


"Ini nak Reno, cucu ibuk kan baru lahir, jadi tadi ibuk di telfon katanya dia sudah di bawak pulang. Makanya ibuk mau buru-buru beres-beres biar bisa cepat-cepat datang. Ibuk sudah lama pengen liat nya," ucap Lidya dengan senyum sumringah dan tanpa ia sadari ada buliran bening yang menetes dari sudut matanya karena terharu sekaligus sangat bahagia.


Si majikan yang melihat antusiasme Lidya yang besar pun jadi tidak tega melihatnya.


"Oh, ya udah. Ibuk pergi saja sekarang. Soal dapur biar yang lain saja yang mengerjakan nya. Lagian ibukkan bukan resmi pekerja. Ibukkan tidak harus menyelesaikan semuanya. Sudah di bantu pun saya sudah senang, apalagi sekarang ibuk sakit," ucap si bos baik hati.


Lidya hanya tersenyum mendengarnya. Karena memang Lidya di restoran itu, bukan lah pekerja. Dia di sana di beri tumpangan oleh sahabatnya. Dia menempati kamar kosong di lantai atas restoran tersebut. Padahal sahabatnya sudah menawarkan untuk tinggal bersamanya tapi Lidya menolaknya karena dia takut merepotkan.


Karena tidak enak tinggal gratisan di sana, Lidya pun juga bantu-bantu masak dan beres-beres di sana. Dan ternyata masakan yang Lidya buat malah di sukai banyak pelanggan, sehingga sejak saat itu Lidya yang tadinya hanya menumpang jadi peracik bumbu masakan di sana. Dan juga di gaji oleh anak temannya itu sebagai jasanya peracik bumbu masakan di sana sekaligus membantu beres-beres.

__ADS_1


Lidya jadi karyawan kesayangan di sana karena dia yang ramah dan keibuan di sukai karyawan muda di sana. Karena itu Lidya punya tambahan penghasilan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2