Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Kejanggalan


__ADS_3

Di rumah Renata sudah bersiap-siap. Berdandan secantik mungkin. Liam sudah menyewa kamar hotelnya dan akan menjemputnya dan Aiden untuk menghabiskan liburan mereka bersama.


Lidya hanya melihat Renata yang tengah bersiap-siap dari luar kamar, karena memang pintu kamar Renata yang tidak di kunci.


'Karena aku, mereka harus menjalani rumah tangga seperti ini,' batin Lidya. Dia menarik nafas panjang lalu melepasnya dengan kasar. Ia pun pergi. Sedangkan Renata masih sibuk bersiap-siap bersama Aiden yang sudah siap juga.


...***...


Selesai makan malam, Liam duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi. Anin pun datang dan duduk di sampingnya. Liam tidak menggubris kedatangan ibunya. Ibunya tampak akan menyampaikan sesuatu. Setelah ia berpikir sejenak, Akhirnya ia pun bicara.


"Li!" panggilnya, Liam pun menoleh. "Bianca masih sering nanyain kamu loh. Kenapa kamu nggak coba penjajakan dulu sama dia," ucap ibunya hati-hati. Liam mulai terlihat tidak menyukai topik pembicaraan mereka.


"Jangan terlalu larut, Li. Sudah saatnya kamu ambil keputusan. Lagian Bianca itu kurang apa coba? Cantik, dari keluarga baik-baik juga, dia juga mandiri. Dia kerja dan sekarang dia punya penghasilan yang lumayan," ucap ibunya. Liam menatap ibunya yang tampak penuh harap pada Liam.


"Mah, Bianca bukan tipe aku. Berhenti jodohin aku sama dia, aku sama dia nggak cocok. lagian aku masih belum cerai dengan Renata, Mama bisa buat masalah kalau Mama terus jodoh-jodohin aku kayak gitu," ucap Liam.


Anin mulai merasa Liam tidak bisa melepaskan Renata. Dari mata Liam dia dapat rasakan, jika perasaan Liam pada Renata masih terjaga dengan baik. Atau Liam sudah memiliki pilihan lain?! Entah lah yang mana yang Liam rasakan sekarang. Yang jelas Anin ingin anaknya secepatnya melupakan masa lalunya.


"Terserah kamu mau dengan perempuan yang seperti apa, yang jelas jangan dia, Mama tidak bisa melihat ibunya ada diantara kita. Dia terlalu berat untuk Mama terima. Jangan bawa wanita yang sudah kita hindari selama ini kembali di kehidupan kita lagi, Li," ucap Anin tegas. "Sudah cukup sakit rasanya Mama kehilangan Papa dan kakak kamu karena dia, jangan buat seolah dia datang lagi akan merebut kamu dari Mama," ucap Anin mulai bergetar.

__ADS_1


"Aku nggak akan ninggalin Mama, kok," gumam Liam meyakinkan ibunya.


"Mama tidak akan bisa terima itu, Kamu satu-satunya yang tersisa dari hidup Mama. Mama harap kamu jangan sampai khianati Mama. Mama tau Aiden anak kamu, tapi Mama benar-benar takut dia datang di hidup kita lagi, Mama juga berusaha keras menahan diri Mama terhadap Aiden. Tapi Lidya terlalu menakutkan untuk Mama, Li. Jangan bawa wanita itu ke kehidupan kita lagi," Kali ini tangis Anin tak terbendung lagi. Liam terdiam, ada rasa bersalah di hatinya. Karena pada kenyataannya dia sudah menghianati dan membohongi ibunya. Liam menarik ibunya ke pelukannya.


"Janji sama Mama, Li. Kamu nggak akan bawa dia di kehidupan kita lagi, Li," desak Anin di dekapan putranya itu. Liam semakin tak mampu berkata-kata. Liam tercenung, apalagi saat ibunya menangis di pelukannya, itu membuat dia semakin merasa tak karuan.


Sebenarnya tadi pagi Lidya mendapati sesuatu yang aneh di dalam mobil Liam. Itu yang membuat dia ingin memastikan jika itu bukan Renata.


Flashback On


Pagi itu Anin mengambil kunci mobil Liam, tepat saat Liam masih tidur di kamarnya. Dia akan mengambil pakaian Liam yang baru habis di loundrynya, karena memang Liam biasa mengambil pakaian loundrynya saat pulang kerja.


"Ini kotak makanan apa?" gumam Anin. Setelah berpikir sesaat, "Ah, sudahlah," Anin segera menepis rasa penasarannya. Dia pun segera membawa pakaian-pakaian itu ke rumah.


Di ruang keluarga dia mulai memilah-milah antara pakaian dia dan Liam. Pakaiannya memang tidak banyak, hanya beberapa lembar saja, karena memang Anin yang jarang ada di rumah, sehingga tidak banyak pakaiannya yang harus di laundry.


Saat Anin membuka salah satu bungkusan pakaian Liam, Anin merasa aneh karena bau parfum pakaian itu tidak sama dengan yang lain, apalagi pakaian itu juga tidak di bungkus seperti yang lain, hanya di bungkus dengan kantong kresek biasa.


Itu lah pakaian Liam yang di tinggal di tempat Renata. Anin menciumnya, memang seperti parfum biasa, bukan parfum laundry. Anin mulai merasa ada yang aneh. Dari kotak makanan di mobil, pakaian Liam yang sepertinya di cuci seseorang.

__ADS_1


"Liam sedang bersama siapa?" gumam Anin membatin.


Flashback Off


Anin harap apa yang ia temukan tadi pagi bukan pertanda hal yang tidak di inginkanya. Ia harap Liam memang tengah mulai membuka hatinya untuk orang lain, dan semoga wanita yang sedang Liam dekati sekarang adalah wanita yang baik. Yang dapat membuat Liam melupakan Renata.


"Ma," gumam Liam. Anin pun menoleh dan melepaskan pelukannya. "Aku nggak tidur di rumah malam ini, aku tidur tempat Bimo. Mama nggak papa kan di rumah sendirian?" tanya Liam.


"Lo, kenapa ke tempat Bimo?" tanya Anin heran.


"Ada kerjaan yang mau aku kerjain sama dia, kita mau ngerjain desain kita malam ini di apartemen dia," terang Liam.


Anin mengangguk pelan, walau dia masih merasa aneh pada Liam. Mungkin itu hanya perasaannya saja.


...***...


Liam pun pergi, Anin menatap mobil Liam yang melaju menjauh. Anin menatapnya hingga hilang di belokkan. Lalu ia pun kembali masuk ke rumahnya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2