
Setelah semua selesai Liam dan Lidya pun kembali melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.
"Aku aku akan pergi seperti janjiku pada kalian. Jaga Renata baik-baik," ucap Lidya santai tapi Liam malah merasa terenyuh.
"Aku jahat, ya?!" Liam berbisik dengan senyum miris.
"Tidak. Aku yang jahat," tukas Lidya.
"Kemana kau akan pergi?" tanya Liam, yang masih berat memanggil Lidya dengan sebutan 'Mama' atau ibu sebagai sebutan hormat pada ibu mertuanya itu. Lidya menatap Liam, sepertinya Liam masih belum menerimanya di kehidupannya, Lidya memaklumi sikap Liam itu.
"Kemana saja," ucap Lidya seraya memandang Liam sekilas di saat Liam pun memandangnya. "Aku lega, sekarang aku bisa pergi tanpa takut di kejar orang-orang lagi. Aku merasa bebas" ungkap Lidya dengan senyumannya, Liam hanya melihatnya sekilas.
***
Di sisi lain ada Anin yang sudah mulai menunggu pesawatnya take off di dalam pesawat. Dia tampak sudah tidak sabar akan pulang dan menemui cucu, anak dan menantunya.
***
Liam dan Lidya baru sampai di kediaman nya. Dia di sambut dengan hangat oleh Renata yang langsung memeluk suaminya itu. Dan Liam yang memang belum berani menggendong Aiden hanya mencium dengan gemas bayi mungil itu.
Sedangkan Lidya tampaknya mulai kelelahan, dia hanya menyapa Aiden tidak sanggup menggendongnya lagi. Kepalanya mulai terasa pusing, mungkin gula darahnya mulai naik karena kelelahan. Dia langsung ke kamarnya, sedangkan Liam dan Renata segera ke kamar mereka.
Renata sempat menatap Lidya yang mulai terlihat letih itu. Dia melangkah dengan sedikit menahan lututnya menuju kamarnya. Dan Renata kembali menatap suaminya yang berjalan lunglai ke kamar, mungkin juga lelah karena baru sampai dari perjalanan jauh. Renata menatap punggung Liam dan mengikuti langkah Liam ke kamar.
"Li, Mama aku nggak dalam keadaan sehat lagi. Jangan suruh dia pergi dari kita, ya. Aku takut dia pergi dan meninggal tanpa aku tau di mana makamnya," ungkap Renata khawatir "Li, aku mohon!" Kali ini Renata memohon.
"Seandainya aku bisa. Tapi sayang kita udah sepakat, kan?!" ucap Liam tetap dengan keputusan awalnya.
"Aku bisa menyayangi ibu kamu. Kenapa kamu nggak?" ucap Renata masih membujuk dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Udah lah. Aku capek nyetir seharian. Aku mau istirahat dulu," ucap Liam langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan langsung tidur istirahat.
Renata benar-benar tidak habis dengan Liam yang baginya sangat membenci ibunya.
Renata segera ke kamar ibunya seraya menggendong Aiden bersamanya. Dia mendapati Lidya tengah meminum obat dan bersandar di kepala tempat tidurnya dengan wajah pucat. Renata tampak khawatir dengan keadaan ibunya itu.
"Mama kenapa?" tanya Renata khawatir.
"Mama kecapean, mungkin gula darah Mama naik juga. Udah, Mama tidak apa-apa. Liam mana?"
"Ada di kamar lagi tidur," terang Renata. "Ma, Mama jangan pergi, ya. Kalo Mama pergi, Rere ikut. Rere akan tinggalkan Liam, Rere nggak mau nikah sama orang yang benci sama ibu Rere kayak dia," ungkap Renata emosional.
"Liam itu laki-laki baik. Kamu jangan buat dia susah lagi. Mama memang tidak mungkin di terima keluarga Liam. Kesalahan Mama sudah cukup fatal." Lidya berusaha memberikan pengertian kepada Renata. "Nanti kalau ada kesempatan, Mama akan datang untuk bertemu kamu dan Aiden kesayangan nenek ini," Lidya menggendong cucunya di pangkuan nya dengan perasaan yang gemas.
"Mah, Rere ke kamar bentar, ya," Rere pun pergi menuju kamarnya.
***
Renata dan Liam tidak menyadari kedatangan Anin itu. Lidya yang tengah menggendong Aiden segera turun membukakan pintu. Dia meletakkan Aiden di kasur karena merasa terlalu lemah untuk menggendong Aiden.
Lidya melirik kamar Renata yang pintunya tertutup. Lalu dia pun melangkah berlahan untuk membukakan pintu.
Anin di luar menunggu dengan tidak sabar karena rindunya yang membuncah pada Aiden. Dia menekan bell apartemen itu karena tidak kunjung di bukakan itu.
Sedangkan Lidya dengan langkah tertatih terus mencoba menuruni tangga. Dan berlahan mencoba mendekati pintu. Saat sampai pintu Lidya segera membukakan pintunya.
Alangkah kagetnya Anin saat melihat siapa yang membukakan pintunya. Begitu pula Lidya yang tidak kalah kagetnya. Sesaat keduanya tercekat mematung saling pandang tak percaya. Waktu seakan berhenti berputar untuk sesaat bagi mereka berdua.
Saat bersamaan dengan Renata yang keluar kamar. dan menuju kamar ibunya. Dia kaget mendapati Aiden terbaring di kasur sendirian. Dia pun segera mengambil Aiden dan menuju kebawah. Langkah Renata langsung tercekat di tangga saat melihat ibunya dan mertuanya berhadapan, matanya membulat tidak percaya. Renata langsung teringat dengan suaminya.
__ADS_1
"Liam," gumam Renata segera menuju kamar memanggil Liam.
"Li, bangun! Gawat, Li. Ayok bangun!" seru Renata panik. Liam berlahan mulai terbangun. Dan masih separuh sadar dari tidurnya. "Cepetan bangun, Li. Ah... Nggak tau orang lagi panik apa?!" omel Renata mulai kesal.
Liam terduduk dengan mata masih separuh terpejam tapi masih bisa tersenyum ke arah Aiden.
"Li, Mama kamu sama Mama aku di bawah mereka ketemu," ucap Renata membuat Liam seketika terperanjat dan langsung kantuknya hilang seketika.
Liam buru-buru turun dan mendapati Lidya tengah terduduk lemas, sedangkan Anin masih berdiri terpaku dengan hadiah yang ia bawa telah terjatuh di lantai.
Liam buru-buru mendekati Lidya yang langsung jatuh pingsan di pangkuan Liam. Renata segera membawa Anin duduk di sofa masih dalam keadaan menggendong Aiden.
"Ada apa ini? Kenapa dia di sini?" gumam Anin masih bingung, sekarang ia tengah duduk di sofa.
"Re, kayaknya Mama kamu pingsan," seru Liam yang seketika membuat Anin membelalakkan matanya.
Anin menatap Renata dan Lidya bergantian, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Ma-Mauren ibumu?" tanya Anin terbata pada Renata. Dengan berat Renata pun mengangguk pelan. Seketika Anin ternganga tidak percaya. Dia menutup mulutnya tidak percaya.
Liam langsung mengangkat Lidya yang sudah pingsan itu. Menuju kamarnya.
"Re, panggil dokter Andi di apartemen sebelah," seru Liam yang tengah menggendong Lidya yang pingsan. Renata pun buru-buru menuju apartemen dokter Andi. Dokter Andi merupakan salah satu penghuni apartemen itu juga yang kebetulan merupakan dokter spesialis dalam.
Liam segera menuju kamar tamu itu. Dia membaringkan Lidya di ranjangnya.
Sedangkan Anin di ruang tamu masih terpaku di sana. Pikiran Anin berkecamuk dan tangannya terkepal meremas sofa yang di dudukinya. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi. Sedangkan dokter Andi baru saja datang memeriksa keadaan Lidya di kamarnya.
Anin masih menunggu dengan tidak sabar di sofa ruang tamu, hingga si dokter selesai dengan pengobatannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...