Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Ceritanya


__ADS_3

Di rumah Anin di kunjungi Ana. Dia masih dalam keadaan menangis di hadapan adiknya itu. Liam sengaja menghubungi tantenya, karena Anin yang terus menangis dan tidak mau Liam dekati.


"Aku kembali di khianati oleh orang yang aku percaya, An. Liam berhubungan dengan Renata dan dia berbohong. Liam mulai seperti Frans dulu. Aku takut, An. Apa yang harus aku lakukan? Liam akan meninggalkanku dan bersama Lidya. Dia akan mengasingkan aku, persis seperti Frans saat jatuh cinta pada Lidya. Lidya akan merebutnya dariku," tangis Anin yang terdengar tersedu-sedu.


Liam yamg mendengar di balik pintu kamar ibunya hanya terdiam. Dia merasa sangat bersalah, sekarang dia menyakiti ibunya yang sangat ia cintai.


'Aku harus bagaimana tuhan. Dia ibuku dan Renata pun tanggung jawabku,' batin Liam di balik dinding kamar ibunya. Dia terduduk lemas bersandar di dinding dengan mendekap wajahnya di lutut yang ia lipat. Terlihat Punggungnya yang tampak bergetar.


"Mbak, berhenti mengukur masa lalu. Ini tidak sama dengan masa lalumu, Mbak. Liam memilih Renata karena dia adalah istrinya. Apalagi Aiden juga ada. Mbak jangan terus membandingkan masa lalumu dengan Liam. Kamu akan terus tersugesti ke hal yang buruk. Coba kamu kasih Lidya kesempatan. Lihat seperti apa dia sekarang. Beri kesempatan pada diri mbak untuk berdamai dengan keadaan. Mungkin ini cara tuhan biar kamu bisa berdamai dengan Lidya dan masa lalumu, Mbak. Dengan mengirim Lidya kembali. Ayo coba lah membuka hatimu untuk maafin dia," nasehat Ana.


Anin menggeleng masih tidak percaya. Baginya Lidya masih orang yang sama. Ana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat reaksi kakaknya ini.


"Memaafkan itu bukan berarti melupakan, memaafkan itu untuk berdamai dengan kesalahan yang menyakiti kita. Setidaknya saat kita ingat kembali dengan kenangan buruk itu, kenangan buruk itu tidak akan menyakiti kita lagi, karena kita sudah memaafkannya, Mbak. Kamu tidak akan bisa melupakan kenangan itu, tapi kamu bisa memaafkannya, Mbak," bujuk Ana lagi. Anin memeluk adiknya itu dengan tangis yang kembali pecah.


Liam yang mendengar dari luar percakapan tantenya itu hanya diam terpaku dan tampak merenung. Pada kenyataannya Liam juga belum sepenuhnya memaafkan Lidya. Selama ini tidak sekalipun ia memanggil Lidya dengan sebutan Mama.

__ADS_1


...***...


Di rumahnya, Renata langsung menemui ibunya. Dan dia menemukan ibunya tengah di dapur bersama Aiden sambil memberi Aiden makan. Renata langsung menemui ibunya dengan tas yang masih ia pegang. Dia membanting tas itu di meja makan sederhana nya dan menatap ibunya yang tengah menyuapi Aiden.


"Kamu sudah pulang, Re?" tanyanya sambil terus menyuapi Aiden yang tengah makan di kursi high chairnya itu dengan lahap.


"Apa benar Mama dan Mertuaku dulu bersahabat? Apa benar ibu Liam yang membantu Mama selama di Jerman?" cerca Renata pada Lidya yang masih tampak kaget. Dia menarik nafas dan melepaskannya, ia menatap Renata yang terlihat emosional.


"Iya, kami berteman. Mama butuh pekerjaan dan dia menawarkan kerja di restoran keluarganya. Saat itu lah Mama kenal dengan keluarganya," terang Lidya tampak tenang. Dia terus menyuapi Aiden makan dengan suapan terakhirnya. "Saat itu ada yang menawarkan Mama kembali masak di restoran mewah lainnya, seperti restoran masakan Indonesia, lalu Mama pindah kerja ke sana. Frans ayah Liam sering makan di sana di tempat kerja baru Mama," terang Lidya lagi seraya membersihkan Aiden yang baru habis makan.


"Disana lah kami mulai dekat tanpa sepengetahuan Anin. Saat itu dia sangat tertekan dengan Anin, dia menceritakan semua tentang rumah tangganya. Dan kamu tau perlahan kami mulai dekat dan menjalin hubungan lebih dari sekedar seorang teman berbagi cerita. Itu di luar rencana kami, hubungan kami berkembang ke arah yang lebih serius, karena dia tidak bahagia bersama Anin. Anin saat itu lebih mementingkan karirnya dari pada keluarganya. Dia bahkan tidak begitu peduli dengan putrinya yang tengah mengalami penyakit mental. Putri cantiknya selalu mengalami tekanan dari lingkungan pergaulannya, tapi dia malah lebih sibuk dengan dirinya sendiri. Lalu perlahan dia mulai mengabaikan semuanya, dia seringkali bolak balik Indonesia-Jerman karena kesibukannya di dunia desainer dan modelling. Karirnya sangat menanjak saat itu. Semua orang kenal siapa dia, tapi dia malah lupa memperhatikan keluarganya. Lalu keluarganya pun mulai berantakan, saat itu lah Mama baru berani mendekat dan menerima Frans, karena mereka akan pisah. Tapi saat dia tahu Mama dan Frans mulai dekat, dia mulai berubah, dia vakum dari dunia modelling dan mulai jadi ibu yang baik,"


"Mama merasa hanya dimanfaatkan dan di campakkan Frans begitu saja, karena itu Mama lakukan penjebakan pada Frans dan membuat skandal kami di ketahuinya. Mama memang sempat berniat menghancurkannya. Tapi Mama kembali tidak tega dan menghapus semua sesaat setelah Mama kirim vidio skandal itu. Tapi di luar dugaan ternyata berita kami malah menyebar dengan cepat tanpa rencana dari Mama, karena keluarga mereka memang tengah menjadi sorotan saat itu karena Anin adalah seorang model yang terkenal saat itu. Saat itu juga lah semua menjadi kacau dan tidak terkendali lagi. Mama sangat menyesal, Re. Kalau bisa waktu di putar, maka Mama akan memperbaikinya, nak, Mama akan pilih untuk mengalah dan menjauh. Karena rasa sesal Mama juga yang membuat Mama pergi dari sana," cerita Lidya panjang lebar.


Renata terdiam dan menangis. Lidya menatap Renata.

__ADS_1


"Maaf, nak. Dosa Mama di masa lalu harus kamu juga yang menanggungnya," ucap Lidya yamg terlihat sangat menyesal.


"Apa yang terjadi? Apa Anin menemuimu? Apa Anin meminta kamu menjauhi suamimu lagi?" tanya Lidya, Renata hanya diam, dia terus menangis.


"Aku mulai merasa jijik dengan hubungan ku sendiri, Mah. Aku merasa seperti Mama. Itu yang ibu Liam katakan. Aku seperti Mama, Setelah Mama bersama ayahnya, sekarang aku dengan tidak tau malunya terus bertahan bersama Liam," ucap Renata bergetar.


Lidya ikut terdiam dan mulai berpikir. Dia segera membuka celemeknya.


"Tidak. Kau bukan Mama. Mama akan membayar semuanya sekarang. Tenanglah," guman Lidya lalu pergi meninggalkan Renata yang masih menangis dan mendekap wajahnya di meja makannya. Dia masih tidak menyadari kepergian ibunya.


...***...


Lidya segera menemui Lusi di kamarnya, dan meminta Lusi mengantarnya ke suatu tempat.


"Kemana tante?" tanya Lusi masih bingung.

__ADS_1


"Ketempat Anin. Bantu tante menemui Anin, ya," ucap Lidya, Lusi mengangguk mengerti.


BERSAMBUNG...


__ADS_2