Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Cinta Perantara


__ADS_3

Sesampainya di rumah. Renata segera meletakkan bahan belanjaannya di atas meja di dapur. Ibunya yang melihat barang belanjaan Renata yang banyak jadi kaget dan mengikuti Renata ke dapur sambil menggendong Aiden. Renata melihat kedatangan Aiden dan ibunya itu segera menghampiri nya dan menggendong Aiden seraya menciumnya berkali-kali. Seolah tengah meluahkan perasaan tak terbendungnya pada Liam.


Hanya Aiden lah pelampiasan semua perasaan cinta Renata pada Liam. Melihat wajah Aiden membuat Renata mengingat Liam, dari bagaimana mereka bersama dan saling mencintai. Walau pada kenyataannya dia tidak bisa memiliki Liam, tapi setidaknya dia sudah memiliki Aiden dari Liam. Anak yang Liam tinggalkan bersamanya cukuplah baginya itu sebagai pengganti Liam yang sangat ia cintai.


"Re, dari mana kamu dapat duit buat belanja sebanyak ini, nak?" tanya Lidya heran.


"Liam kasih aku ATM yang baru, Mah. Makanya aku bisa ambil uang lagi di ATM, jadi pulang ambil ATM dari Liam aku langsung belanja," terang Renata.


"Ini pernikahan seperti apa, Re? Apa kalian bisa menjalankan pernikahan seperti ini? Ini bukan pernikahan. Kalian hanya sedang menunda perpisahan kalian. Semakin lama kalian menunda perpisahan semakin sakit bagi kalian nantinya untuk saling melupakan," nasehat Lusi yang kebetulan ada di dapur. Renata terdiam pikirannya segera teralihkan saat Aiden menangis.


"Segini pedulinya dia sama kamu, bahkan dia borong pakaian bayi kayak gini untuk anak kalian. Apa kalian siap buat pisah nantinya? Kalo kalian masih jaga perasaan satu sama lainnya kayak gini!" seru Lusi membuat Renata terdiam.


Lidya yang merasa bersalah atas semua yang terjadi hanya bisa diam. Renata melihat gurat sedih dari wajah ibunya itu. Lalu Lidya pun pergi ke kamarnya tanpa sepatah katapun. Renata melototi Lusi. Lusi hanya bingung dengan apa salah nya.

__ADS_1


"Apa salah gue?!" bisik Lusi bingung


Lidya menutup pintu kamarnya dan duduk bersandar di atas kasur yang tak memiliki ranjan itu. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk anaknya bisa bersama lelaki yang di cintainya. Dia ingat bagaimana sulit nya dia saat bersama ayah Liam dulu. Manjalin hubungan di garis yang salah, seolah itu sekarang terulang lagi di alur yang berbeda tapi dengan luka yang sama. Sama-sama tidak bersama dan dengan menjadikan perasaan Anin korbannya.


Tanpa terasa Lidya menangis di kamarnya. Tetesan bening mengalir dari wajah keriputnya yang menunjukkan penuaan itu. Dia segera menyekanya.


"Aku tidak bermaksud menyakitimu lagi, Anin. Aku tidak bermaksud merusak kebahagiaanmu lagi. Aku tidak bermaksud jahat padamu. Maaf kan aku Fans ....," isak Lidya di kamarnya sendirian.


"Apa yang bisa aku lakukan?!" gumamnya putus asa.


...***...


Di rumah Liam tampak baru pulang, rasa lelah dan penat merayap di tubuhnya. Itu membuat dia merindukan kamar dan ranjangnya, ingin segera beristirahat dan melepaskan penatnya.

__ADS_1


Rumah yang tampak sepi, mungkin ibunya belum pulang. Atau sudah pergi lagi.


"Ah udah lah," gumam Liam yang sudah terlalu lelah untuk peduli keberadaan ibunya yang memang suka menghilang dan pergi.


Liam langsung terbaring, dengan sepatu dan kaos kaki yang ia buang sembarangan. Lalu langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


Sesaat handphonenya berbunyi, ada sebuah notifikasi pesan dari Renata. Liam membukanya, ternyata Renata mengirim foto Aiden yang tengah menggunakan beberapa pakaian yang ia beli tadi.


'📞 Cakep. Nggak gembel lagi" tulis Liam.


Yang membuat Renata kesal mendapatkan pesan seperti itu.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2