Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Akan Datang Tamu Istimewa


__ADS_3

Selesai dengan olah raga pagi mereka, Liam langsung terbaring di kamar. Renata tampak sibuk membereskan pakaian kotor dan memasukkan nya di ranjang pakaian kotor.


"Sayang, itu uang untuk mama kamu udah ada, kapan dia mau ambil? Kamu tanyain ya, dia mau cash atau di transfer!" ucap Liam kali ini seraya memainkan handphone nya.


Renata menatap Liam. Entah kenapa dia agak tidak suka dengan ini. Jika dia serahkan uangnya pada ibunya, maka dia tidak akan bertemu ibunya lagi. Ada perasaan tidak ikhlas di hatinya melepaskan ibunya.


Renata berjalan berlahan kearah Liam dan duduk di pinggir ranjang di samping Liam yang masih sibuk memainkan handphone nya.


"Li!" seru Renata berlahan.


"Hmmm ....," gumam Liam masih dengan handphone nya.


"Sayang biar Mama aku disini sampe aku lahiran, ya! Aku mau dia lihat anak kita sebelum dia pergi," pinta Renata.


Liam menghentikan kegiatan nya bermain handphone, dia beralih menatap Renata. Dia mulai serius menanggapi Renata. Dia duduk bersama Renata di pinggir ranjang.


"Bukannya kita udah sepakat sama hal ini, Re?" tukas Liam mulai terlihat tidak suka seraya berubah posisi duduk.


"Iya, Li. aku tau. Tapi, aku nggak tega sama Mama, aku ngerasa Mama kayak mau pergi dan nggak akan kembali lagi. Dia seolah datang cuman buat ngucapin selamat tinggal sama kita," ungkap Renata.


Liam menarik nafas kasar, dia tidak tau harus memberi pengertian seperti apa kepada Renata, jika ia tegaskan dia takut Renata akan kontraksi seperti tempo hari. Seandainya di biarkan ini cukup berbahaya jika ibunya mengetahui kebenaran ini.


Liam pun akhirnya memutuskan untuk keluar sejenak meninggalkan Renata yang tampaknya keras kepala. Renata hanya terdiam melihat Liam meninggalkannya begitu saja di kamar.


***


Di lain sisi Anin tampak sibuk dengan pelanggannya di butik. Tiba-tiba ada seorang wanita menghampirinya. Dia keliatan tidak bersahabat. Anin menatap tenang kedatangan wanita itu.

__ADS_1


"Apa tidak ada laki-laki lain selain suami orang yang bisa kamu goda, hah?" seru nya emosional secara tiba-tiba.


Anin menatapnya dengan tatapan tenang. Suaminya adalah salah seorang sponsor Anin saat melakukan feshion show beberapa saat lalu. Dan dia terus mencurigai Anin karena hal itu, dia menuduh Anin dan suaminya punya hubungan.


"Dasar janda ke gatelan," umpatnya yang membuat Anin kesal. Tapi Anin masih berusaha untuk tidak terpancing karena banyak pelanggan nya di sana.


"Heh, kamu goda suami saya kan. Makanya dia mau sponsori acara kamu, kalo bukan karena kamu kegatelan mana mungkin suami saya mau membiayai acara kamu. Kamu sengaja kan goda suami saya, biar kamu bisa menikmati hartanya di usia pensiun kamu ini. Cih, perempuan seperti rubah seperti ini tidak akan ada laki-laki mau. Kasar, arogan, hanya modal sok cantik saja jangan harap bisa rebut suami saya, ya," ucapnya tidak karuan lagi. Anin hanya geleng-geleng kepala.


"Anda tau kenapa suami anda bosan terhadap Anda? itu karena anda tidak bisa bersikap hormat, bagaimana mungkin anda bisa meminta seseorang menyayangi anda jika sikap anda seakan-akan siap menerkam seperti binatang liar begini," gerutu Anin kesal.


Itu membuat si perempuan semakin agresif dan bersiap menyerang Anin yang segera di tahan oleh sekuriti di sana. Akhirnya wanita itu pun di seret keluar dari butik Anin.


Anin masih tampak kesal dengan kejadian barusan, ini pertama kalinya dia di labrak begini. Itu membuat dia merasa sangat terhina atas kejadian barusan. Dia duduk dengan perasaan tidak tenang, seorang karyawan nya pun segera datang membawakan nya segelas air putih agar dia sedikit tenang setelah meminum air. Anin masih mencoba menguasai keadaan dirinya.


***


Tanpa dia ketahui Lidya juga di sana, ia juga tengah mengantri untuk membeli obat. Saat itu mereka sama-sama tengah mengantri. Saat selesai membayar Lidya pun segera pergi. Anin tanpa sengaja melihat itu. Anin terpaku di tempatnya dengan mata yang terus mengekori Lidya tidak percaya.


'Mauren? Apa aku salah lihat? Tidak, itu pasti benar-benar Mauren? Dia ada di Jakarta juga? Perempuan brengsek itu,' rutuk Anin. Tanpa Anin sadari dia sudah ketinggalan antriannya. Dia pun segera maju ke depan.


Selesai membeli obat, Anin pergi ke kediaman Liam dan Renata. Dia segera mengebel apartemen yang didiami Liam dan Renata itu. Tidak lama pintu pun segera di bukakan oleh Renata dengan expresi meringis. Anin pun kaget melihatnya.


"Kamu kenapa?" tanya Anin.


"Perut aku mulai mules, Mah," seru Renata seraya menahan kontraksi.


"Kamu mulai kontraksi? Liam mana?" seru ibunya seraya memapah menantunya untuk duduk dan ia segera menelpon Liam.

__ADS_1


📞"Li, kamu dimana?" telpon Anin.


📞"Di kafe, Ma!" jawab Liam.


📞"Pulang, Rere mulai mules, cepetan pulang," seru Anin yang terdengar panik itu. Liam pun segera buru-buru Pulang.


***


Sesampainya di kediamannya mereka langsung berangkat ke rumah sakit membawa Renata untuk bersalin. Tidak berapa lama mereka sampai dan langsung di tangani oleh perawat yang membawa mereka kesebuah ruangan dan sedangkan Liam segera mengurus segala macam administrasi dan pendaftaran atas nama Renata.


Setelah semua selesai Liam segera menghampiri Renata yang tampak terus meringis kesakitan.


"Li, dokter bilang bayinya sungsang, lebih baik di Cesar," ucap Anin pelan. Tidak lama Ana pun datang bersama Budi suaminya dan Bimo putranya sepupu Liam.


Akhirnya Liam dan Renata pun setuju untuk Cesar, Liam kembali mengurus semua presedurnya. Walau Renata sedikit kecewa karena dia sudah mempersiapkan diri untuk melahirkan normal dan pada akhirnya dia malah gagal. Anin yang mengerti perasaan Renata pun memeluknya dengan hangat.


"Nggak papa, asal anaknya sehat. Nanti Mama sama Liam nemenin kamu, kok," bujuk Anin. Renata segera menyeka air matanya. Tidak lama Liam pun datang. Bersama dengan seorang dokter.


Renata menyambutnya dengan merentangkan kedua tangannya dan Liam pun segera memeluk istrinya itu. Renata sesegukan di pelukan Liam.



"It's ok, Aku disini sama kamu, sayang. Kamu jangan takut," bisik Liam. Renata merasa tenang di pelukan Liam.


Liam adalah laki-laki terbaik yang pernah Renata temui. Seorang ayah yang Renata miliki di masa lalu pun bukan lah laki-laki yang baik di mata Renata. Dia laki-laki dingin yang tidak begitu perduli dengan keluarganya, dia hanya peduli dengan bisnis dan uang. Itu lah sosok ayah Renata. Liam adalah sosok laki-laki pertama dan baik yang pernah Renata kenal. Sangat lembut dan pengertian.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2