Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Ayo Kita Mulai Lagi


__ADS_3

Siang itu Liam dan Bimo di mintai ke sebuah mall untuk datang menghadiri pemasaran perumahan yang di kerjakan perusahaan mereka. Mereka diminta membantu pemasarannya, Liam sebagai arsiteknya dan Bimo sebagai teknik sipil nya pun di minta datang sebagai informan pemasaran mereka.


Di sana Liam datang dan menjelaskan tentang sebuah maket hasil rancangannya kepada calon pembelinya. Tampak ada beberapa yang mulai tertarik dengan rumah yang tengah di pasarkan itu. Pembawaan Liam yang luwes dan ramah itu sangat memikat untuk pelanggan, apalagi penampilannya yang good looking tentu sangat membantu Liam untuk mudah di terima pelanggannya ataupun klien yang akan menggunakan jasanya.


Di tengah kesibukan mereka, mereka kedatangan tamu istimewa. Dia adalah Freya kekasih Bimo dan yang tidak terduga, ternya dia datang bersama Bianca. Sosok gadis yang di jodohkan padanya tempo hari. Itu membuat Liam terbelalak.


Bianca tersenyum manis pada Liam, yang membuat Liam kehabisan kata-katanya. Dia menatap Bimo dan berbalik badan seraya merangkul Bimo.


"Itu cewek yang coba Mama jodohin sama gue. Plis, Bim. Lo singkirin dia sekarang, gue nggak mau ribut sama Renata yang juga kerja di sini sekarang," pinta Liam panik. Bimo menatap wanita itu dan Liam, lalu ia pun tersenyum.


"Ini kesempatan buat lo balas Renata, dia kan ninggalin lo, nah lo bikin dia cemburu, kalo dia cemburu, berarti masih ada harapan kan," usul Bimo, Liam mengernyitkan keningnya.


"Heh, gila. Kalo hasilnya gue di suruh cerein dia dan di jauhin gue dari Aiden, gimana? Nggak, nggak," tolak Liam. Bimo langsung terkekeh mendengarnya.


"Nggak bisa lagi usir orang gitu aja. Udah ah, biarin aja. Kalo lo nggak suka, ya cuekin aja dianya," saran Bimo.


Liam menatap Bimo kesal. Tanpa Liam sadari dari lantai atas ternyata Renata sudah mengawasi mereka sedari tadi. Dia terus curi pandang pada Liam sedari tadi.


...***...


Selesai dengan pekerjaannya, berhubung mereka sudah berada di mall Liam berniat akan membeli pakaian untuk Aiden, karena pakaian yang Aiden kenakan tempo hari sudah terlihat kecil dan masih di paksakan oleh Renata untuk di kenakan.


Itu membuat Liam merasa kasihan pada anaknya, seolah-olah dia tidak di perhatikan. Berhubung dia juga mendapatkan uang lebih dari pekerjaannya. Dia berencana akan menggunakan uang itu untuk keperluan Aiden saja.


"Eh, Bim. Lo makan siang aja duluan. Gue ada perlu dulu. Mau beli baju buat Aiden, Renata kampret itu baju sempit kemaren di pakeinnya sama anak gue," terang Liam yang terlihat kesal saat melihat anaknya kemarin saat bertemu. Ia langsung memisahkan diri dari Bimo dan Freya.

__ADS_1


Bianca hanya menatap kepergian Liam dari mereka. Lalu ia pun memutuskan untuk ikut dengan Liam.


"Eh, Li. Aku ikut kamu, ya. Aku kayak obatnya nyamuk kalo ikut Bimo dan Freya," terang Bianca.


Itu sontak membuat Liam kaget. Dia celingak-celingukan melihat sekitar saat Freya yang langsung menggandeng tangannya, Liam pun berusaha melepas gandengan Freya dari tangannya dengan lembut.


"Eh, jangan gini. Nanti orang-orang di sini bisa salah paham," ucap Liam seraya melepaskan gandengan Bianca, dia juga cemas jika Renata jangan-jangan melihatnya saat ini.


"Apa salahnya? Kan kita juga akan di jodohkan," ucap Bianca keras kepala dan tetap memaksa.


"Jangan gitu, aku masih punya istri. Mama aku pasti cuman godain kamu waktu itu. Kamu jangan salah paham, ya. Aku sama istri aku belum cerai kok. Kami masih terikat pernikahan. Jadi aku harap kamu jangan salah paham sama tindakan Mama aku kemaren, ya," ucap Liam meminta pengertian Freya.


Freya mengangguk walau tidak di ingkari bahwa dia juga merasa kecewa atas ucapan Liam barusan. Walau begitu dia tetap menemani Liam berbelanja. Liam pergi ke sebuah


"Dasar mata keranjang, lepas dikit langsung cari mangsa. Liam breng**k ...," rutuk Renata kesal dari kejauhan dengan mata yang terus mengekori suaminya itu.


...***...


Selesai memborong pakaian bayi. Liam langsung pergi. Bianca pulang bersama Freya. Sedangkan Liam masih di mall itu. Dia makan malam di salah satu restoran disana. Setelah selesai, dia duduk di salah satu bangku di mall, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 hampir jam 10. Liam pun segera pergi mencari sosok Renata.


Tampak Renata sudah mulai beres-beres akan pulang. Liam pun menghampiri nya. Renata yang melihat kedatangan Liam yang notabene nya dia pun masih kesal pada Liam sengaja menghindari Liam.


Liam segera mengejarnya dan menarik tangannya.


"Lepasin," teriak Renata seraya menepis tangan Liam.

__ADS_1


"Kenapa menghindar?" seru Liam ketus.


"Buat apa aku nemuin laki-laki mata keranjang kayak kamu! Sana urus pacar kamu," seru Renata yang malah membuka kartunya sendiri. Menyadari jika Renata membuntutinya sedari tadi Liam pun tersenyum. "Jangan geer, aku kebetulan lewat lihat kamu tadi," elak Renata yang merasa sudah kecoplosan itu.


"Ini aku beli baju buat Aiden, tadi aku dapat bonus dari kantor. Pakein dia baju ini. Jangan pakek baju sempit kek gitu lagi. Jangan buat anakku aku turun kelas kayak gitu. Rawat dia dengan baik, kalo nggak, aku bawak pulang dia," seru Liam seraya menyerahkan beberapa kantong besar pakaian bayi itu.


"Nggak usah, aku masih bisa usaha buat anak aku. Kamu nggak usah repot," ucap Renata keras kepala.


"Kalo kamu mah terserah, kalo mau dandan gembel juga nggak papa, tapi anak aku jangan kamu bikin kayak gembel gitu. Bukannya aku kirim kamu uang terus tiap bulan. Kamu kemanain uang itu? Kamu habisin buat kamu semua? Sampe dia nggak punya pakaian layak kayak gitu," ucap Liam menyebalkan.


"ATM nya udah keblokir, udah lama aku nggak pakek," aku Renata santai.


"Kenapa nggak ngomong? Besok aku urus buat ATM barunya. Nih!" ucap Liam seraya menyerahkan pakaian kantong belanjaan itu. "Pulang bareng, nggak?!" tawar Liam, jelas di tolak Renata yang langsung melongos pergi duluan. Liam menarik tangan Renata menuju parkiran menuju mobilnya. Renata berusaha melepas genggaman Liam tapi tarikannya terlalu kuat sehingga Renata tidak bisa melepaskan nya, meronta terlalu keras juga percuma, yang ada malah membuat dia jadi pusat perhatian. Akhirnya dia hanya bisa mengikuti Liam tanpa bisa melawan lagi. Langkah Liam yang jenjang kalah cepat dengan langkah kecil Renata yang memang lebih pendek dari Liam. Hingga membuat Renata separuh berlari untuk mengimbangi langkah Liam.


Akhirnya setelah berbagai drama pemaksaan Liam pada Renata, mereka pun sampai di mobil. Setelah mereka jalan beberapa saat Liam kembali usil.


"Pulang kemana? Ke hotel dulu atau langsung di rumah?" tanya Liam iseng. Sontak itu membuat Renata meliriknya dengan tatapan tajam dan mata yang melotot. "Iya, pulang. Haaahhh.... Nasib jadi suami pungut. Nggak dianggap, di buang waktu sekarat dan di abaikan setelah itu," sindir Liam.


Renata hanya pura-pura tidak mendengarnya. Meladeni Liam hanya buang-buang tenaga. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk meladeni tingkah Liam untuk saat ini. Dia sudah terlalu lelah karena habis bekerja.


Setelah Liam pulang selesai mengantar Renata, ada seutas senyum di bibirnya saat melihat mobil Liam berlalu di hadapannya. Walau tadi dia sempat kesal dengan Liam yang pergi bersama wanita lain tapi terbayar saat Liam menunjukkan perhatian lebihnya pada Aiden dan dirinya.


"Laki gila," rutuk Renata dengan senyuman tipis Lalu berjalan sedikit masuk gang menuju kontrakannya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2