Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Anin dan Renata


__ADS_3

Seperti biasa pagi-pagi sekali Renata sudah terbangun, dia menyiapkan sarapan untuk Liam. Karena Liam memintanya membuat bekal. Renata dengan sepenuh hati pun menyiapkannya.


Pagi buta dia sudah bersiap-siap seorang diri. Dia sengaja bangun lebih awal pagi ini yaitu pukul 4 pagi untuk cepat-cepat membereskan pekerjaannya dan setelah selesai ia akan kembali ke kediaman orang tua Liam. Untuk kembali membantu ibu Liam membereskan rumahnya yang belum selesai semalam.


Sepertinya Renata benar-benar ingin diterima oleh ibu Liam. Karena semakin lama dia mengenal Liam, entah kenapa Renata semakin yakin pada sosok Liam. Walau ada rasa tidak percaya diri, tapi Renata tetap menyimpan harapannya pada Liam.


Di tengah kegiatannya, Angel datang. Tidak biasanya dia bangun sepagi ini. Tapi Renata berusaha cuek tidak peduli. Dia menghindari berkomunikasi dengan Angel karena Angel yang seringkali senewen jika bertemu dengannya akhir-akhir ini. Seperti saat ini, dia juga tampak akan cari masalah.


"Udah kayak bini Liam ya lo sekarang," sindir Angel.


"Udah deh, nggak usah sibuk ngurusin hidup gue. Gue nyaman dengan yang gue lakuin, kenapa lo yang terganggu? Apa hidup lo kurang seru sampe lo cari keseruan dengan cari ribut mulu sama gue. Sebelum-sebelumnya gue emang sabar ngadepin lo, tapi lama-lama gue juga bisa hajar mulut lo itu," ucap Renata ketus. Membuat nyali Angel jadi ciut, melihat Renata mulai kehilangan kesabarannya. Selesai minum dia pun segera pergi meninggalkan Renata di dapur.


***


Setelah selesai semua Renata pun segera mandi dan bersiap. Liam dan yang lain pun mulai berkumpul di meja makan bersama. Begitu pula Renata, hanya Angel yang tidak pernah bergabung makan bersama mereka. Mereka tidak begitu mempermasalahkan itu, mereka sudah terbiasa dengan sikap Angel itu.


"Kamu jadi ke rumah hari ini?" tanya Liam.


"Jadi. Ini aku mau langsung ke sana," jawab Renata seraya menuangkan nasi dan lauk ke piring Liam. Mereka tampak mengobrol akrab di meja makan, bersama Miko juga Lusi dan Robert.


"Bentar lagi kita nggak kayak gini, ya. Bapak negara kita yang biayain dapur mau pindah," ucap Miko sedih, Liam hanya terkekeh mendengarnya. Liam memang akan kembali pulang ke rumahnya berhubung ibunya sudah kembali.


"Kan Sayang ku ini masih di sini," ucap Liam seraya mengusap manja kepala Renata. Renata hanya tersenyum geli melihat tingkah konyol Liam yang menggodanya.


"Apaan sih, jijik tau nggak!" seru Renata yang merasa geli di goda Liam begitu.


***

__ADS_1


Liam mengantar Renata ke kediamannya dulu sebelum pergi kerja, mereka di sambut oleh ibu Liam dengan senyuman sumringah, Renata segera menyalami ibu Liam dan Liam pun segera pamit kerja. Sekarang tinggal Renata bersama ibu Liam di rumah.


***


Di rumah Liam, Renata tampak akrab bersama ibunda Liam. Mereka mengobrol layaknya seorang ibu dan putrinya.


"Emangnya, ART nya kemana, Tan?" tanya Renata.


"Kita itu nggak punya pembantu tetap, jadi kalo di panggil mereka baru dateng. Biasanya tante pakek pembantu kalo lagi mau beres-beres aja. Kan di rumah cuman ada tante sama Liam. Tante pikir pembantu juga kadang nggak ada kerjaannya, Liam kadang makan juga nggak di rumah, tante kadang juga jarang di rumah. Mau nyari pembantu, ya, juga khawatir, sebab rumah jarang di tungguin. Makanya tante pakek pembantu cuman kalo lagi butuh aja, itu pun tetangga yang tante panggil kalo tante ada di rumah," terang Anin panjang lebar seraya bersih-bersih. "Ini lagi musim libur sekolah, mereka pada pergi libur semua, ya terpaksa lah tante turun tangan sendiri," terang Anin lagi seraya terkekeh. Mereka terus mengobrol, Renata pun juga menceritakan tentang hidupnya yang di tinggal ibu dan ayahnya. Anin masih penasaran dengan ibu Renata, karena garis wajah Renata yang baginya sangat mirip dengan seseorang di masa lalunya yang kelam.


"Nama mama kamu siapa?" tanya Anin.


"Lidya, Tan. Lidya Maulida," jawab Renata yang membuat Anin tenang, karena kekhawatiran Anin tidak terbukti.


"Eh, kita masak, yuk. Dapurnya kan sudah bisa di pakek. Ajarin tante masak masakan jawa ya. Liam cerita dia suka masakan kamu, tante cuman tau nya western," ucap Anin.


"Yaudah, kita ke pasar aja, tunggu tante siap-siap dulu," ucap Anin lalu ia pun bersiap-siap ke kamarnya. Setelah siap, dia pun segera pergi bersama Renata ke pasar.


Pergi bersama Anin membuat Renata merasa memiliki seorang ibu. Andai aja mama juga sebaik tante Anin, Ma. bisik batin Renata seraya tersenyum miris. Tidak terasa mereka sampai di sebuah pasar tradisional.


Mereka mulai berbelanja, pengetahuan Renata tentang sayur yang baik dan bagus membuat Anin kagum.


"Kamu tau banyak ya tentang sayur," puji Anin.


"Kan Rere di kampung suka bantuin nenek belanja buat ketringan, Tan. Jadi Rere belajar dari sering bantu nenek belanja," ucap Renata. Anin tidak henti-hentinya mengagumi Renata. Yang di matanya tidak hanya cantik, tapi juga pintar dan tau tugas nya sebagai seorang wanita.


__ADS_1


(Renata)


"Ayah kamu pengusaha apa dulu?" tanya Anin di sela waktu belanja mereka.


"Jual beli properti gitu. Tapi dia di tipu temannya, jadi nya papa ke lilit hutang dan bangkrut. Papa shock dan kena serangan jantung, beliau meninggal. Sebenarnya papa masih ninggalin warisan, cuman di bawak mama pergi semua. Mama memang dari awal suka ribut sama papa, karena papa Rere keras jadinya dia takut, waktu papa sakit mama buru-buru pergi ninggalin kita dan nggak pernah pulang sampe sekarang. Bahkan dia nggak datang di pemakaman papa. Rere nggak tau dia kemana, Terakhir Rere tau dia di Jerman, itu pun Rere tau nya waktu SMP, kalo sekarang Rere nggak tau juga, Tan," terang Renata, Anin hanya tersenyum mendengarnya.


Ada perasaan kasian di hati Anin mendengar perjalan hidup kekasih anaknya ini, dia tidak mendapatkan kehidupan yang layak sejak lama, tapi dia mampu menjadi seorang gadis yang baik meski tanpa bimbingan orang tuanya, hanya seorang seorang nenek. Itu bisa menunjukkan betapa baik nya akhlak Renata, yang tidak mudah di rusak oleh lingkungannya walau tanpa pengawasan orang tuanya. Jika gadis yang lain apalagi secantik Renata, mungkin mereka sudah lama menjadi gadis liar seperti di luar sana.


Berbeda dengan Renata yang tetap menjadi gadis rumahan yang sangat pandai mengurus rumah tangga. Malahan bekerja keras memperjuangkan masa depan adiknya, sampai mengorbankan kuliah nya sendiri.


Tanpa terasa, mereka selesai dengan belanjaannya.


"Eh, udah semuanya ini, Tan," ucap Renata.


"Oh, nggak ada lagi, ya?" tanya Anin.


"Udah cukup kayaknya, Tan," ucap Renata seraya melihat-lihat kembali belanjaannya.


"Ya udah, kita pulang lagi buat masak," ucap Anin.


Akhirnya mereka pun pulang, sebelumnya Anin dan Renata mampir sebentar ke kosannya untuk menjemput pakaian ganti Renata. Di sana ada Miko dan Robert yang menyambut mereka. Miko dan Robert tampak kagum dengan kecantikan ibu Liam.


"Pantes, ya Liam cakep, maknya bening gitu," gumam Miko setelah Renata dan Anin pergi.



...(Anin)...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2