
Setelah beberapa hari di Jakarta, akhirnya Renata melepaskan keluarganya kembali pulang ke kampung halamannya. Pagi-pagi mereka sudah berangkat ke bandara agar tidak terjebak macet dan ketinggalan pesawat. Jam 10 lewat akhirnya pesawat yang keluarga Renata tumpangi pun berangkat.
Segala haru biru perpisahan pun terjadi. nasehat nenek yang tidak ketinggalan agar Renata selalu menjadi menantu yang baik bagi Liam.
Setelah semua drama perpisahan itu pun, Liam dan Renata kembali ke kediamannya. Sedangkan ibu Liam langsung ke butiknya.
Sesampainya di rumah, Renata langsung menyusun barang-barangnya di kamar barunya bersama Liam. Liam memperhatikan barang-barang yang Renata tersusun. Hampir satu lemari penuh tidak muat lagi dengan barang-barang Renata. Liam meliriknya sambil bermain handphone.
"Habis itu satu lemari barang kamu semua," seru Liam membuat Renata melirik tajam ke arah Liam.
"Nggak boleh? Yaudah aku ambil balik nih semuanya!" rajuk Renata kesal. Liam menjadi gemas melihatnya.
"Jangan ngambek. Jelek tambah jelek," seru Liam tertawa seraya menghampiri istrinya itu dan memeluk istrinya seperti ingin menggelitikinya membuat Renata berteriak histeris karena geli.
"Mau teriak sekeras apapun nggak ada orang di rumah ini," seru Liam semakin menjadi. Sejurus kemudian mereka bertabrak pandang, itu membuat mereka menghentikan aksinya. Berlahan mereka saling mendekat dan semakin dekat hingga bibir mereka bersentuhan menjadi sebuah ciuman sekilas, lalu di ulangi lagi dan menjadi semakin panas.
Itu awal dari sebuah hasrat untuk keduanya. berlahan menjadi semakin panas dan liar, Liam mengangkat tubuh ramping Renata keranjangnya yang masih penuh berserakan barang-barang milik Renata. Liam menyapu kasar barang-barang itu membuat Renata melepas cumbuannya sekilas karena khawatir ada yang rusak.
"Jangan khawatir, nanti kita beli lagi," ucap Liam memahami kekhawatiran Renata, Renata tersenyum dan Liam kembali mencumbuinya. Hingga mereka mulai kehilangan satu persatu pakaian mereka dan membimbing untuk menuntut lebih.
Mungkin inilah saatnya Renata menyerahkan mahkota nya pada seorang laki-laki yang memang berhak atas itu. Kali ini Liam tidak akan gagal seperti sebelumnya, permainan mereka berlangsung cukup lama. Dan... Menuntut penuntasan yang bersamaan.
Liam tersenyum pada Renata yang sekarang telah menjadi istrinya seutuhnya. Dia mengecup hangat kening istrinya cukup lama sebelum ia melepaskannya dan berbaring di sampingnya.
Renata menarik selimutnya hingga menutupi tubuhnya sampai ke lehernya. Dan dia tidak bergerak dari posisinya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Liam agak bingung.
"Bukan itu, aku cuman kaget. Aku pikir kita akan melakukannya di malam romantis, tapi ternyata B aja kayak gini," sungut Renata.
"Terus kamu nyesel? ya udah!" Liam langsung balik badan. Renata menjadi gemas dengan suaminya ini.
"Ih... ngambekan. kulit kamu itu terlalu putih, kalo ngambek jadi kayak udang rebus, tau!" seru Renata seraya memeluk tubuh polos suaminya itu. Renata baru sadar jika Liam memiliki hati yang terlalu lembut, mudah tersentuh dan tergugah. Tapi setidaknya karakter Liam itu mengimbangi dia yang suka blak-blakan.
***
Selesai mandi Renata segera bersiap masak untuk menyiapkan makan malam mereka malam ini, sedangkan Liam sedang sibuk dengan desain nya di ruang kerjanya.
Mereka berdua tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing. Liam yang memang sedang di kejar beberapa proyek harus kerja extra pasca pesta pernikahan mereka, karena tabungannya sudah terkuras habis untuk acara pesta pernikahan nya. Dan mujurnya dia mendapat proyek menyelesaikan beberapa rumah mewah dan gedung hotel.
***
Tidak lama terdengar suara mobil Anin yang baru datang. Mereka pun beranjak dari posisi dan segera menyambut Anin yang baru pulang. Anin tersenyum melihat menantu dan anaknya yang sudah berdiri di depan pintu menunggu menyambut kepulangannya.
"Maaf ya, tadi mama ke jebak macet," seru Anin tidak enak hati. Karena tadi ia sudah berjanji untuk pulang tepat waktu tapi malah selarut ini baru dia sampai.
"Nggak papa, Ma. Rere juga baru selesai masaknya," ucap Renata dengan seulas senyuman, Anin pun segera masuk bersama menantunya itu dengan melingkarkan tangannya di pinggang menantunya seraya berjalan beriringan. Liam hanya mengekori mereka berdua di belakang.
***
Setelah selesai membersihkan diri, Anin pun segera turun untuk makan malam bersama. Dimana Liam dan Renata sudah menunggu di meja makan.
__ADS_1
"Ma, Li. Aku mau ngomong," ucap Renata serius.
Semua mata pun kini tertuju padanya.
"Apa sayang?" ucap Liam lembut.
"Gini, Rio kan masih sekolah dan nenek juga akhir-akhir ini nggak terlalu sehat. Jadi boleh nggak aku izin kerja. Buat tetap biayain Kuliah Rio sama kasih belanja Nenek," izin Renata dengan berlahan. Liam mulai serius menanggapinya.
"Gini sayang, buat mereka berdua. Kamu nggak usah khawatir, kan ada aku. Kalo cuman buat mereka berdua aku masih sanggup kok, sayang. Jadi kamu nggak usah kerja, ya. Di rumah aja. Lagian kamu kan tau aku nggak mau nunda buat kita punya baby. Kalo kamu kerja dan kecapean, nanti malah susah dapatnya. Nanti kalo anak kita udah gede, kamu boleh deh kalo emang mau kerja, tapi jangan sekarang, ya. Buat Rio sama nenek kamu, biar aku kirim tiap bulannya," bujuk Liam.
"Kalo mama sih terserah Liam, ya. Ini rumah tangga kalian. Kalian yang jalani, cuman kalo saran, iya bener yang Liam bilang, Re. Kamu nggak usah kerja dulu. kalo cuman Rio sama nenek kamu Liam masih bisa lah. Mama kan juga ada, nanti kalo kamu bosan, kamu bisa ikut Mama ke butik," ungkap Anin.
Renata pun merasa tidak Enak lagi untuk menyanggahnya. Karena memang Liam dari awal pernikahan mereka Liam memang menginginkan momongan segera di pernikahan mereka. Renata pun akhirnya mengalah.
Selesai makan malam dan mengobrol sebentar. Mereka pun kembali ke kamar. Liam sudah di kamar terlebih dahulu, sedangkan Renata menyusul setelah ia membereskan semua pekerjaan nya di dapur.
Saat melihat kedatangan Renata, Liam pun segera menutup tabletnya. Dan menyambut kedatangan Renata.
"Kamu lagi bikin apa?" tanya Renata seraya menyusul Liam ke atas ranjang.
"Nggak, cuman lagi cek desain aku. Itu tadi siang ada yang salah di bangun, akhirnya di bongkar lagi sama tukangnya. Makanya aku cek lagi, kayaknya emang tukangnya yang salah. Tau lah liat besok aja, bongkar seberapa gedenya besok, ini mandornya juga kurang becus kayaknya, dah lah, sayang. Capek ngomongin kerjaan," keluh Liam. "Mending kita ngomongin tentang kita," Ucap Liam seraya menatap istrinya. Dia mengusap lembut wajah cantik itu, Renata mulai paham sekarang dengan kode itu. Ia menyambut suaminya dengan tugasnya sebagai seorang istri dan tentu saja dengan suka hati ia penuhi.
Begitulah malam itu berlalu untuk pengantin baru itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1