Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Pintu Hati


__ADS_3

Di kamar Anin di temani Ana yang mengikutinya tadi. Anin masih tampak shock, dia menatap Ana yang di sebut Liam adalah Felly.


"Apa itu benar, An? Kalau kamu bukan Ana, Apa kamu benar-benar Felly sahabat Ana. Kenapa ini? Ada apa ini, An?" tanya Anin yang tampak panik, bingung juga ketakutan.


"Mbak, semenjak kepergian Tera, Mbak memiliki trauma, sehingga mbak jadi susah membedakan kenyataan dan khayalan. Apalagi saat suami mbak meninggal, mbak semakin kacau lagi. Sepertinya dorongan dalam diri mbak untuk tidak ingin menerima kenyataan sangat kuat, hingga tanpa sadar mbak membuat ingatan baru. Awalnya kami pikir itu tidak apa, karena nanti mungkin mbak akan kembali normal. Tapi ternyata ingatan itu permanen dalam ingatan mbak," terang Ana. Anin hanya terdiam.


"Kami tidak bermaksud menipumu mbak. Kenyataan jika Lidya telah merebut semua kebahagiaan mbak memang benar adanya. Tapi bukan dia yang mendorong mas Frans, itu kenyataannya juga. Karena latar belakang penyakit mbaklah yang membuat mbak tidak di tuntut secara hukum." Anin masih tampak bingung dengan air matanya. "Mbak, ayolah mulai berdamai dengan kenyataannya. Memaafkan Lidya bukan hanya membebaskan Lidya dengan bebannya, tapi juga akan membuat mbak lebih tenang mengingat kenangan buruk itu," bujuk Ana lagi.

__ADS_1


"Apapun kenyataannya, aku tetap Ana mu mbak. Aku menyayangi mbak Anin sebagai kakakku itu tulus adanya. Tidak ada yang berubah di hubungan kita, panggil aku Ana mbak, aku suka menjadi adik mu," ucap Ana berkaca-kaca. Ana menatap Anin dalam, seketika tangis Anin pecah. Anin memeluk Ana. Mereka saling berpelukan dan menangis bersama.


"Kamu benar, An. Aku tidak pernah menerima kenyataannya, sehingga aku selalu gelisah dan selalu mencari ketenangan ku sendiri, aku mengabaikan Liam dan membuat rumah tangganya berantakan. Aku terus menyalahkan Lidya, hanya agar aku tenang. Aku egois ya, An. Seharusnya aku tidak memperumit ini lagi di saat Lidya pun sudah mengakuinya," Ana tersenyum mendengar pernyataan Anin. "Aku akan belajar menerima semua ini, An. Walau aku butuh waktu itu," ucap Anin lagi. Ana mengangguk seraya tersenyum dan menyeka air mata Anin. Mereka kembali tertawa haru dan berpelukan lagi.


"Iya, An. Liam anakku satu-satunya. Perasaan dia jauh lebih penting. Apalagi Aiden. Aku tidak bisa melupakan dia, An. Setiap kali aku aku melihat anak balita, aku selalu ingat dia," ucap Anin lagi. "Aku beli pakaian banyak anak laki-laki banyak kamu tau, kan?! Apalagi ini, jika Liam pergi meninggalkan aku karena ini, maka aku akan benar-benar hancur, An," ucap Anin lagi, sekali lagi Ana bahagia melihat kakaknya ini mulai bisa melupakan dendamnya.


"Iya, Lidya berhak untuk kesempatan kedua, mbak! Dia sudah berusaha menebus semuanya." Anin mengangguk.

__ADS_1


Disisi lain. Selesai membereskan pakaiannya, Liam turun dengan membawa kopernya. Baru saja dia sampai lantai bawah, dia di kagetkan dengan panggilan seseorang. Liam juga tidak mendapati mertuanya ada di bawah. Dia segera menghampiri seorang pria paruh baya yang tengah berdiri di depan pintu pagar rumah Liam yang terbuka.


"Itu mas Li. Itu ... Anu!" ucap si pria masih terlihat terengah-engah.


"Ada apa pak?" tanya Liam makin penasaran. Jantungnya tiba-tiba berdebar, seakan-akan ada berita besar yang akan di sampai kan pria paruh baya yang terlihat tidak sekedar terengah-engah tapi juga shock.


"Itu tamu mas Li yang kesini tadi, dia ... Dia ketabrak, Mas," terangnya. Membuat Liam seketika menjadi panik, dengan terburu-buru dia segera menuju tempat ke jadian. Di sana sudah ramai orang-orang berkerumunan.

__ADS_1


Mereka segera membawa Lidya ke rumah sakit. Darah tampak belepotan di pakaiannya Liam. Liam segera menelpon Renata yang juga dengan panik segera ke rumah sakit bersama Lusi dan Aiden.


BERSAMBUNG...


__ADS_2