
Malam ini Renata dan Liam makan malam bersama, Anin juga makan malam bersama mereka dengan menenteng kotak berisi makanan yang ia pesan dari restoran.
Dia kaget saat mendapati meja sudah penuh dengan makanan, begitu pula Liam yang tak kalah kagetnya. Liam sudah mengingatkan Renata untuk tidak melakukan apa-apa dulu pasca kontraksi tadi pagi, Liam sangat mengkhawatirkan kondisi Renata saat ini.
"Kamu masak, Re?" tanya Liam heran sekaligus kesal karena Renata terkesan tidak mengindahkan ucapannya. Renata langsung kagok saat di tanya seperti itu. Dia tidak mungkin jujur dengan mengatakan itu adalah masakan ibunya, nanti yang ada jadi berantakan makan malam mereka malam ini.
"Nggak, Li. Tadi Lusi kesini, jadi dia bantuin aku masak," ucap Renata berbohong. Liam pun percaya dan mereka makan malam dengan hangat malam itu. Liam sudah terlihat tidak marah lagi, dia tampak mulai hangat lagi dengan istrinya itu. Anin senang Renata dan Liam tampak sudah berbaikan lagi.
"Kalian itu kalau ada masalah jangan langsung ribut, beda pendapat itu biasa, kalian harus paham, kalian itu dua orang yang didik dari keluarga yang berbeda dan dengan cara dan sudut pandang yang berbeda. Kalau terjadi perbedaan pendapat, kalian jangan sama-sama keras kepala, kalo yang satu nya ngomong yang lain harus dengerin, biar nggak ribut dan salah paham, keributan itu bisa terjadi karena dua-duanya sama-sama ingin didengar dan merasa paling benar. Kalian nggak bisa kayak gitu, harus ada yang mengalah, dan harus saling mengalah jangan egois," nasehat Anin dan di iyakan keduanya. Renata dan Liam saling pandang dan tersenyum.
"Gitu donk, kalo Ayah sama Bundanya baikan, dedeknya juga senang," ucap Anin seraya mengelus perut Renata dan langsung mendapat reaksi tendangan dari jabang bayi di rahim Renata yang membuat Anin tertawa senang begitu pula yang lain.
Begitu lah hari itu berlalu.
Selesai makan malam dan Anin pun sudah pulang kekediaman nya. Sekarang tinggal Liam dan Renata di kamar. Selesai membereskan desainnya dan memasukkan nya ke tabungnya, Liam pun segera menghampiri istrinya di ranjang.
"Kaki kamu udah mulai bengkak, ya?" tanya Liam, Renata pun mengangguk.
"Sendal nggak muat lagi aku pakek," ucap Renata seraya terkekeh, Liam pun ikut tertawa. Sesaat mereka pun saling tatap, Liam mendaki wajah istrinya berlahan dan sebuah kecupan hangat mendarat di bibir merah itu. Berlahan kecupan itu semakin berubah panas. Sesaat Liam menghentikan aksinya, Renata yang semula memejamkan matanya kini membuka matanya.
__ADS_1
"Kamu masih bisa, emangnya?" tanya Liam khawatir. Renata merasa tertantang. Ia pun mendorong Liam hingga terlentang dan dia duduk di atas perut Liam, membuat Liam mengernyitkan kan keningnya.
"Kamu ngeraguin kemampuan aku, ya?!" gumam Renata menggoda, membuat Liam terkekeh melihatnya dan saat Renata mencoba mendekati wajah Liam yang tengah di tindihnya, dia malah tersangkut karena perutnya. Itu sontak membuat Liam tertawa keras. Renata langsung kesal dan turun dari tubuh Liam dia langsung tidur memunggungi Liam. Menyadari jika istrinya kesal. Liam pun segera membujuknya.
"Udah, kayak biasa aja," goda Liam dan mulai mencumbu istrinya yang tampak malu itu.
Begitulah malam yang indah itu berlalu bagi Liam dan Renata.
***
Pagi-pagi Liam bangun dan melihat Renata masih tidur di sampingnya. Ia pun mendekap tubuh istrinya itu. Hari itu Liam libur, jadi ia memutuskan untuk di rumah saja seharian ini bersama istrinya itu.
"Ih telat banget sih malunya. Kamu ileran tidurpun udah sering aku liat," ledek Liam membuat Renata juga tertawa bersamanya.
***
Selesai mandi Liam mengajak Renata untuk jalan-jalan pagi, mengingat sebentar lagi ia akan melahirkan. Sepanjang perjalanan mereka bergandengan tangan di lapangan luas itu, pasangan yang cantik dan tampan itu sontak menjadi pusat perhatian pengunjung taman di sana. Mereka tidak peduli, mereka sibuk dengan satu sama lainnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat jalan membuat mereka lapar, karena memang mereka belum sarapan. Liam mengajak Renata untuk membeli sarapan di salah satu tempat menjual sarapan pagi di sana.
Saat sedang asyik menikmati sarapan mereka, mereka di kagetkan dengan kedatangan seseorang, ya, itu adalah Laura. Wanita cantik itu juga tengah joging di tempat yang sama dengan mereka. Ia segera mengambil posisi di samping Liam tanpa Peduli raut kesal Renata.
"Kamu hamil, Re?" tanya Laura tanpa beban. "Aku pikir kamu nggak bisa, Li. Habis kamu sering aku ajak kamu selalu nolak. Padahal kan nggak mungkin cowok normal bisa nolak cewek secantik aku. Ya udah deh sekarang istri kamu hamil, itu bukti kamu sehat, ya Li," ucap Laura yang tampaknya sedang menggoda Liam dan Renata.
Tidak lama sarapan mereka pun datang. Tanpa tedeng aling-aling Laura segera mengambil sarapan Liam dan menyantapnya tanpa rasa bersalah. Liam hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah Laura, Tanpa banyak bicara Liam pun memesannya lagi.
"Aku jarang di temenin Gio, aku ngerasa kayak istri simpanan dia tau nggak, aku telpon kadang nggak diangkat. Aku samperin, dia ketemu klien mulu. Dia sibuk kerja, paling buat hibur aku dia kasih kartu kreditnya. Ya udah aku pakek aja sampe limit terus mintak lagi kartu yang baru. Gio lama-lama nyebelin, aku pengen balikan sama kamu, tapi Renata pasti nggak akan mau berbagi suami. Aku pengen selingkuh biar nggak kesepian, tapi nggak ada yang cakep. Aneh ya, Li. Waktu aku sama kamu, aku kok gampang ya nemuin cowok cakep. Tapi semenjak sama Gio selera aku jadi tinggi, semua cowok jelek di mata aku, aku nggak bisa selingkuh lagi. Lagian dia juga suka ngambek kalo aku ngelirik cowok lain. Sekarang aku juga udah lama vakum dari modelling, sekarang berat badan aku udah naik," cerocos Laura tidak berhenti hingga ia menghabiskan sarapannya.
Selesai sarapan ia pun pergi meninggalkan Liam dan Renata. Liam sedang menikmati sarapan nya yang baru datang, setelah sarapannya di rampas Laura.
Renata baru terkekeh saat Laura pergi. Liam pun menatap Renata aneh.
" Kamu kenapa?" tanya Liam seraya menyuapkan makanannya.
"Nggak, cuman lucu aja lihat tingkahnya Laura. Dia suka seenaknya tapi buat kita nyaman, walau kadang nyebelin dengerin omongan nya dia," ucap Renata yang membuat Liam ikut terkekeh dan mengusap kepala istrinya itu.
Selesai sarapan mereka pun kembali pulang ke rumah dengan Renata yang berjalan menggandeng lengannya manja.
__ADS_1
BERSAMBUNG...