Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Rindu


__ADS_3

Hari ini Liam pulang dengan terburu-buru. Bimo yang melihatnya sudah paham. Liam akan menemui anak dan istrinya.


Liam menuju kontrakan Renata dan Aiden. Dia berjalan menuju gang sempit itu dengan perasaan tidak sabar.


Saat sampai di depan pintu, dia jadi ragu. Dia masih segan jika harus berhadapan dengan ibu mertuanya itu langsung. Dia bimbang antara mengetuk atau urung. Setelah berpikir sesaat, akhirnya dia mengetuk pintu Kontrakan itu.


Setelah beberapa kali mengetuk seseorang membukakan pintunya. Jantung Liam langsung berdetak tak karuan. Liam bersiap dengan wajah tegang, dia harap itu Lusi buka. ibu mertuanya.


Dan ...


Dia adalah Lusi. Liam bisa bernafas lega.


"Aiden sakit, Li. Dia demam ....," terang Lusi saat dia menyadari yang datang adalah Liam. Liam pun segera masuk tanpa permisi lagi, dari wajahnya terlihat jika dia sangatlah khawatir.


Saat di kamar dia mendapati ibu mertuanya itu tengah mengompres Aiden dengan sebuah kompres tempel khusus untuk bayi demam. Lidya cukup kaget melihat kedatangan Liam yang tiba-tiba. Walau dia sering datang, tapi mereka tidak lah begitu akrab. Lidya sudah berusaha seramah mungkin dengannya, namun Liam seolah menjaga jarak dengannya.


Mungkin latar belakang masa lalu mereka membuat hubungan kaku diantara mereka sulit untuk mencair. Namun Lidya memaklumi itu, itu terlihat dari sikap santai Lidya pada Liam. Dia berusaha untuk bersikap normal.


"Dia dari tadi pagi memang sudah terlihat tidak enak badan, tapi ini sekarang sudah mulai panas dan rewel. Tadi juga baru di bawa ke dokter. Renata mungkin habis magrib baru pulanh," terang Lidya. Liam segera menggendong anaknya yang tengah rewel itu. Dia mendekap putranya itu ke dekapannya.


Ajaibnya berlahan tangis Aiden mulai mereda. Padahal sedari tadi bayi itu gelisah rewel tidak mau berhenti menangis walau sudah berjam-jam. Lidya dan Lusi tersenyum melihat reaksi bayi 10 bulan itu terhadap ayahnya. Dia terlibat sangat menikmati dekapan ayahnya. Dia mulai terlihat tenang, walau masih gelisah.

__ADS_1


Berlahan Aiden pun tertidur di dekapan Liam. Tapi saat Liam mencoba melepasnya hendak di tidurkan di ranjangnya, dia kembali gelisah, Liam pun kembali mengangkat nya mendekapnya.


"Dia merindukan ayahnya, sudah beberapa hari ayahnya tidak datang," gumam Lidya, Lusi hanya tersenyum mendengarnya. Lalu ia pun pergi ke dapur.


Liam menatap wajah Aiden yang sekarang berada di dekapannya. Matanya tampak berkaca-kaca merasa terharu terhadap apa yang tengah terjadi saat ini.


Ayah juga kangen Aiden. Maaf ayah tidak bisa datang beberapa hari ini, ya, batin Liam.


Liam terus menggendong Aiden hingga dia benar-benar terlelap. Dan dengan sangat hati-hati ia meletakkan Aiden di tempat tidurnya. Lalu keluar kamar tepat saat ia berpapasan dengan Liam.


"Mau kemana?" tanya Liam melihat Lusi yang sudah rapi.


"Biasa anak muda, keluyuran dulu cari calon imam keluarga," canda Lusi seraya terkekeh. Liam pun tertawa mendengarnya.


...***...


"Kamar mandi mana, ya?" tanya Liam kikuk. Lidya menoleh dengan cepat.


"Oh, itu ada sebelah kanan," tunjuk Lidya pada sebuah pintu fiber berwarna biru itu.


Liam langsung masuk dan Lidya masih melanjutkan kegiatannya. Selesai keluar kamar mandi. Lidya segera menghentikan Liam.

__ADS_1


"Jangan pulang dulu, makan dulu sebentar. Kamu pasti belum makan malam," ucap Lidya sudah siap dengan makan malam yang masih hangat terhidang di meja.


"Makanlah dulu. Sebentar lagi Renata juga akan pulang, kita makan sama-sama. Lusi tadi katanya ada acara reunian dengan teman-temannya," terang Lidya.


...***...


Tidak Lama Renata sudah pulang. Dia yang baru pulang tidak sadar jika Liam sedang ada di rumah, tepatnya di dalam kamarnya. Setelah mengobrol sebentar dengan ibunya, dia langsung masuk kamar. Melihat sekilas Aiden yang tertidur dan masih tidak menyadari keberadaan Liam yang tengah bermain handphone di atas ranjangnya di sudut.


Saat dia bersiap mengganti pakaiannya, sejurus kemudian dia melihat Liam melalui kaca lemarinya, dia tengah menatapnya dengan tatapan terpaku.


"Bukak aja, aku mau lihat segede apa lengan sama perut kamu sekarang," ucap Liam meledek. Sontak membuat Renata menutupi tubuhnya. Liam hanya tertawa melihat reaksi Renata, lalu mereka tersadar jika Aiden tengah tertidur. Lalu mereka pun kembali menenangkan diri mereka.


"Ngapain kamu di kamar aku?" hunus Renata dengan tatapan tajam pada Liam.


"Apa? Aku di suruh sama mama kamu tadi nunggu di kamar," kilah Liam yang membuat Renata menyipitkan matanya. Sedangkan Liam kembali sibuk pada handphone nya.


Dia ingin meminta Liam keluar, tapi itu pasti akan di tolaknya. Dari pada harus ribut dan membangunkan Aiden, Renata pun mengalah untuk mengganti pakaiannya di kamar Lusi saja.


Dia segera keluar dengan menenteng pakaian gantinya, dia sekalian mau mandi juga. Sebelum pergi dia melihat Liam yang masih tampak cuek dengan handphone nya.


Liam menatap kepergian Renata dengan sebuah senyuman tipis.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2