
Sesampainya di kediamannya, Liam langsung mengambil koper ibunya di bagasi dan membawanya ke kamar ibunya. Saat Liam turun sudah ada Anin di ruang keluarga. Dia segera menghampiri Liam saat Liam turun dan menyerahkan map kuning itu.
"Renata sudah tanda tangan bagian dia. Sekarang tangan bagian kamu. Cepat selesaikan semua, Liam. Supaya cepat selesai dan kalian bisa mulai secepatnya hidup kalian lagi," ungkap Anin. Liam membuka map itu. Dan ternyata surat cerainya dan Renata yang sudah ibunya urus tanpa sepengetahuannya.
"Mama punya waktu untuk urus ini? Tapi nggak punya waktu buat diskusi sama aku?" ungkap Liam dan merobek surat itu. Jelas Liam menolaknya. Dia merobeknya di depan wajah ibunya. Liam marah juga merasa kesal pada ibunya yang sudah terlalu lancang memutuskan sesuatu untuknya tanpa bicara dengannya terlebih dahulu.
"Kamu hanya menunda perpisahan kamu, Liam. Mama hanya bantu kamu memutuskan. Yang kamu lakukan sekarang hanya menggantung hubungan kalian. Kamu tidak berniat jemput dia tapi juga tidak mau menceraikan dia. Mau kamu apa? Kamu mau hidup sama anak orang yang sudah buat kakak sama ayah kamu meninggal? Apa kamu masih bisa tidur nyenyak di samping perempuan seperti itu? Apa kamu berharap semua bisa baik kayak dulu lagi?" ungkap ibunya tajam dan menyudutkan Liam.
"Jangan ikut campur dalam hidup aku, Mah. Bahkan aku nggak tau apa fungsi Mama sekarang di hidup aku. Mama terlalu sibuk dengan hidup Mama. Bagaimana Mama bisa tau apa yang terbaik untuk aku? Lakukan apapun yang Mama suka dan aku akan lakukan apapun yang aku suka. Itu sudah cukup memberi kita ketenangan untuk satu sama lain. Jangan pedulikan aku, pergi lah sesuka Mama seperti biasa. Aku bisa urus hidup aku sendiri. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Jangan menilai bagaimana orang lain kalau status Mama sebagai ibu aku pun mau aku pertanyakan. Aku ini siapa, Mah? Anak Mama atau bukan? kenapa Mama sibuk dengan hidup Mama seperti tidak peduli dengan perasaan aku sekarang? Dulu setidaknya aku bisa bersandar sama Mama waktu aku terpuruk, tapi sekarang Mama seolah menghindari aku. Mama sedang lari dari apa sebenarnya?" tukas Liam yang membuat Anin terdiam.
"Jangan putuskan ini lagi untuk aku. Anggap saja aku sekarang tengah membuat oksigen untuk hidup aku supaya aku bisa tetap bertahan hidup dengan mempertahankan cincin ini di jari aku. Aku bisa merasa punya keluarga walau sedang tidak sama aku sekarang! Aku ... Hanya ingin bahagia dalam keluarga sederhana. Jangan paksa aku untuk menceraikan dia dulu, Mah. Aku belum siap, aku belum siap, aku belum siap ... Belum, Mah." Liam mengungkap semua isi hatinya dengan air mata yang tanpa sadar menetes dari sudut matanya. Dia segera menyekanya, air mata itu mengalir begitu saja tanpa perintah darinya.
"Sesederhana itu mimpiku, Mah. Aku hanya ingin punya tempat pulang. Hanya ingin merasakan tidak sendirian. Tapi kenapa hanya dia yang bisa kasih aku perasaan itu, hangat seperti keluarga. Tapi kenyataannya dia putri Mauren. Kenapa harus dia putrinya Mauren dari jutaan perempuan kenapa harus dia ... Ini berat untuk aku terima, Mah. Jangan paksa aku untuk melepas dia dulu. Setidaknya sampai aku siap," ucap Liam dengan Anin yang masih mematung. Ada perasaan bersalahnya. Dia membiarkan Liam sendirian menghadapi semua ini. Yang ternyata sangat berat untuknya lalui sendirian. Anin berbalik menatap punggung putranya yang pergi. Dia segera menghampiri Liam dan menahannya.
"Jangan pulang larut, ya. Nanti cepat pulang. Maaf, Mama nggak akan paksa kamu lagi. Mama minta maaf, Li," ungkap Anin, Liam tidak mengatakan apapun dia segera melanjutkan perjalanannya. Dia pergi keluar dan menuju mobilnya.
__ADS_1
...***...
Di lain sisi ada Gio yang baru sampai bandara. Setelah menerima foto Laura Gio segera pulang setelah menyelesaikan semua urusannya.
Dia menelpon Laura, Laura tidak mengangkatnya. Laura hanya menatap layar ponsel itu dengan senyuman.
"Aku tidak suka di jadikan istri muda mu, Gio. Kamu lihat saja, aku bisa senekat apa nanti," gumam Laura sendirian di kamarnya.
Gio langsung menuju kekediaman Laura, dia di jemput oleh sopir pribadinya yang segera membuka pintu mobilnya untuk Argio. Dan mereka pun melaju dengan segera ke kediaman Laura.
Sesampainya di kediaman Laura yang berupa apartemen mewah itu, Gio langsung masuk karena dia sudah mengetahui nomor pin apartemen itu sehingga dia bisa masuk begitu saja.
Saat masuk dia segera mencari sosok Laura. Di sana dia melihat Laura tengah duduk santai di sofanya dengan seulas senyum dan anggur merah di tangannya.
"Apa yang kamu lakukan sama laki-laki itu, Laura?" tanya Gio langsung.
__ADS_1
"Nggak ada. Cuman bersenang-senang. Aku bosan dengan kartu kredit kamu, jadi aku cari kesenangan lain. Kenapa? Aku nggak boleh bersenang-senang? Liam itu hebat, tidurnya nggak berisik, tenang nggak ngorok. Banguninnya juga gampang. Aku bisa tidur nyenyak di samping dia. Dia teman tidur yang sempurna," ungkap Laura yang semakin membakar Gio.
"Apa semudah itu kamu lakukan itu, Laura?" ungkap Gio seperti membentak.
"Iya," jawab Laura menantang. "Aku punya tunangan tapi aku di buat kayak simpanan. Siapa yang mau di gituin? Kamu sibuk sama kerjaan kamu, nggak punya waktu buat aku. Aku muak setiap kali aku hubungin kamu alasannya selalu rapat, klien, sibuk. Aku bukan simpanan kamu, ARGIO ...," bentak Laura mulai keras.
"Aku nggak tahan dengan hubungan yang kayak gini. Kalo kamu nggak punya waktu, ya udah kita putus aja," tantang Laura. "Ambil ini ...," pungkas Laura melempar cincin pertunangannya. "Aku nggak butuh hubungan tanpa wujud. Kayak pacaran dengan hantu. Nggak kelihatan, sekali kelihatan menyeramkan kayak gini," ungkap Laura lagi.
"Kamu bisa kan bersikap lebih dewasa Laura? Aku kerja ini juga untuk kita semua nantinya. Aku Kesini membatalkan banyak kerjaan aku cuman untuk kamu. Aku nggak mau kamu kayak gini, kamu dengan kayak gini itu semakin buat keluarga aku nggak suka sama kamu" ucap Gio dan menyerahkan cincin itu kembali pada Laura.
"Keluarga kamu nyebelin. Banyak aturan, banyak tuntutan. Kalo liat aku udah kayak lihat orang aneh. Mereka nggak suka aku," ungkap Laura lagi. Melihat tingkah Laura Gio yakin tidak terjadi apa-apa antara dia dan Liam. Senakal-nakalnya tampilan Laura yang suka memakai pakaian seksi dan make up mencolok. Tapi satu hal yang membuat Gio kagum, dia bukan perempuan gampangan. Jadi tidak mungkin jika dia yang tidak pernah tidur dengan laki-laki bisa sesantai ini menyampaikannya. Gio memahami Laura tanpa harus Laura menjelaskannya. Cukup melihat Laura maka Argio akan tau apa yang sebenarnya.
"Jadi kamu nggak ngapa-ngapain sama, Liam?" tanya Argio dengan senyum tenang. Laura hanya pura-pura tidak mendengarnya. Dia acuh dan terlihat masih sangat kesal.
"Terserah!" gumam Laura tidak peduli seraya menenggak minumannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG....